Membawa tumbler sudah lama digaungkan sebagai kebiasaan sederhana yang mencerminkan kepedulian terhadap lingkungan. Dengan menggunakan botol minum yang bisa dipakai berulang kali, kita diharapkan dapat mengurangi sampah plastik sekali pakai.
Akibat ajakan yang masif, kini tumbler sudah menjadi bagian dari gaya hidup yang identik dengan konsep ramah lingkungan. Sudah bukan pemandangan aneh jika kita melihat orang membawa botol minum di ruang publik.
Namun, ada satu hal yang menurut saya kurang sejalan dengan upaya menjaga kelestarian bumi melalui tumbler, yakni tren koleksi tumbler. Tumbler dengan warna yang eyecatching, desain yang lucu, hingga edisi terbatas membuat banyak orang rela berburu produk terbaru.
Lantas, apakah tren mengoleksi tumbler masih sejalan dengan semangat peduli lingkungan, atau justru lebih dekat dengan keinginan mengikuti tren dan membangun gengsi?
Tumbler dan Pergeseran Makna Gaya Hidup Go Green
Saya tidak mengatakan mengoleksi tumbler adalah sesuatu yang salah. Sama seperti orang mengoleksi buku, sepatu, atau kamera, setiap orang tentu berhak menikmati hobinya masing-masing.
Akan tetapi, concern saya adalah tujuan awal kampanye go green dan mengurangi penggunaan botol plastik sekali pakai. Jika menilik dari kondisi banyaknya orang yang mengoleksi tumbler, saya rasa esensi gerakan tersebut perlahan mulai kabur.
Media sosial turut memperkuat fenomena ini. Rak-rak berisi tumbler dengan susunan warna yang estetik menjadi konten yang menarik. Brand pun berlomba menghadirkan desain baru agar konsumen terus merasa ada sesuatu yang layak dibeli.
Akhirnya, tumbler bukan hanya sekadar menjadi botol minum, melainkan juga bagian dari identitas dan gaya hidup. Ada kepuasan tersendiri saat berhasil mendapatkan edisi yang sulit dicari atau koleksi yang belum dimiliki banyak orang.
Padahal, secara fungsi, satu tumbler yang berkualitas sebenarnya sudah cukup untuk menemani aktivitas sehari-hari selama bertahun-tahun.
Jika tumbler lama masih berfungsi dengan baik, membeli yang baru hanya karena desain atau edisi terbaru rasanya kurang sejalan dengan semangat mengurangi konsumsi yang selama ini dikampanyekan.
Barang Ramah Lingkungan pun Punya Jejak Karbon
Selain itu, banyak orang masih salah kaprah dan menganggap setiap pembelian tumbler sebagai bentuk dukungan terhadap gaya hidup ramah lingkungan.
Padahal, setiap barang yang diproduksi tetap membutuhkan bahan baku, energi, proses manufaktur, pengemasan, hingga distribusi sebelum akhirnya sampai ke tangan konsumen.
Artinya, meskipun tumbler dirancang untuk digunakan berulang kali, proses pembuatannya tetap memiliki jejak lingkungan.
Bagi saya, inti dari gaya hidup berkelanjutan bukanlah membeli sebanyak mungkin produk yang diberi label ramah lingkungan. Justru yang lebih penting adalah memaksimalkan penggunaan barang yang sudah dimiliki selama mungkin.
Demi Bumi atau Demi Gengsi?
Saya tidak bermaksud mengatakan bahwa semua kolektor tumbler itu salah. Setiap orang tentu memiliki alasan dan kesenangannya sendiri. Meski begitu, menurut saya ada baiknya kita sesekali berhenti sejenak untuk mempertanyakan alasan di balik setiap pembelian.
Bagi saya, kepedulian terhadap lingkungan tidak diukur dari seberapa banyak produk reusable yang kita miliki. Nilai sebenarnya justru terletak pada seberapa lama kita bersedia menggunakan barang tersebut.
Tumbler sejak awal diciptakan sebagai solusi sederhana untuk mengurangi penggunaan botol plastik sekali pakai, bukan sebagai barang yang terus berganti mengikuti tren.
Kalau kita masih tergoda setiap melihat peluncuran tumbler baru, saya rasa go green hanya menjadi pembenaran bagi perilaku konsumtif yang didorong oleh FOMO.
Baca Juga
-
Syarat Berpenampilan Menarik di Lowongan Kerja, Bentuk Beauty Privilege?
-
Tren Pembayaran Cashless Only: Praktis Buat Tenant, Ribet Buat Pembeli
-
Branding in Seongsu: Kisah Body Swap di Balik Sengitnya Dunia Marketing
-
Koneksi dan Loyalitas Jadi Jalan Pintas, Apa Kabar Meritokrasi?
-
Ironi Restoran Self-Service: Mau Praktisnya, Enggan Tanggung Jawabnya
Artikel Terkait
Kolom
-
Peternak Kecil Terjepit di Tengah Monopoli dan Kebijakan
-
Curhat Perantau: Saat Harga Bayam Naik 100%, Bagaimana Kami Bisa Menabung?
-
Mitos Bahwa Indonesia Tidak Kekurangan Orang Pintar
-
Jepang Ikut Tersingkir dari Piala Dunia 2026, Wakil Asia 'Kehilangan Muka'?
-
Pajak Dana Pensiun: Benar Secara Hukum, Adilkah dalam Praktik?
Terkini
-
Cyberpunk: Edgerunners 2 Perkenalkan 4 Karakter Utama lewat Trailer Baru
-
Kuyang yang Mendiami Jembatan Bambu Lawas
-
Dari Misteri hingga Klasik, Ini Deretan Novel yang Jadi Teman Bacaan Para Idol K-Pop
-
Kimi Ni Todoke: Pentingnya Dukungan dan Lingkungan Sehat bagi Introvert
-
Untuk Pertama Kali! T.O.P Akan Gelar Tur Fan Meeting di Asia Sepanjang 2026