Kultur palugada di dunia kerja membuat banyak karyawan terbiasa mengerjakan berbagai pekerjaan di luar bidang utamanya. Misalnya, admin ikut mengurus keuangan, bagian keuangan membantu pajak, lalu ikut menangani purchasing atau operasional. Selama masih bekerja, pengalaman seperti ini terasa sebagai nilai tambah karena kita dianggap bisa diandalkan untuk banyak hal.
Masalahnya muncul ketika ingin mencari pekerjaan baru. Pengalaman yang beragam belum tentu membuat seseorang mudah menentukan posisi yang ingin dilamar. Mau kembali ke bidang lama, merasa tidak cukup ahli. Mau pindah bidang, pengalaman belum cukup relevan. CV pun akhirnya penuh dengan berbagai pekerjaan, tetapi sulit menunjukkan satu keahlian yang benar-benar kuat.
Lantas, apakah kultur seperti ini benar-benar menguntungkan pekerja, atau justru membuat mereka kesulitan membangun keahlian utama?
Kultur Palugada Membuat Pekerja Terbiasa Mengambil Banyak Peran
Menurut saya, di sinilah kultur palugada perlu dilihat lebih jauh. Menjadi pekerja generalis tentu bukan hal yang buruk karena kemampuan memahami berbagai pekerjaan bisa menjadi bekal yang berharga. Masalahnya muncul jika seseorang terus ditempatkan untuk mengerjakan berbagai hal tanpa pernah punya kesempatan mendalami satu bidang.
Perusahaan memang cenderung untung karena mendapatkan karyawan yang fleksibel, tetapi pekerja bisa kehilangan waktu untuk membangun keahlian yang menjadi pegangan dalam perjalanan karier.
Kultur seperti ini sebenarnya mudah ditemukan dalam keseharian di tempat kerja. Seseorang yang awalnya bekerja sebagai admin, misalnya, lama-lama ikut mengurus hal-hal yang di luar jobdesk. Akhirnya, kesibukan bertambah, pengalaman menumpuk, tetapi arah keahlian semakin sulit ditentukan.
Masalah Baru Muncul Ketika Ingin Pindah Kerja
Dampak kultur palugada sering baru terasa setelah seseorang memutuskan mencari pekerjaan baru. Selama masih bekerja di perusahaan lama, kemampuan mengurus berbagai hal terasa seperti kelebihan. Atasan tahu bahwa orang tersebut bisa dimintai bantuan untuk berbagai urusan. Rekan kerja pun terbiasa mengandalkannya.
Namun, pasar kerja punya cara pandang yang berbeda. Perusahaan baru biasanya mencari kandidat berdasarkan posisi tertentu. Di titik ini, pengalaman yang terlalu melebar justru bisa membuat profil seseorang terlihat kurang fokus.
Situasinya menjadi semakin rumit bagi pekerja yang ingin melakukan career switch. Ia punya pengalaman kerja, tetapi belum tentu pengalaman tersebut cukup kuat untuk masuk ke bidang baru. Mau kembali ke bidang lama pun belum tentu merasa yakin karena selama ini tidak benar-benar mendalaminya.
Menurut saya, di sinilah ironi kultur palugada terlihat jelas. Kemampuan mengerjakan berbagai hal bisa menjadi keuntungan bagi perusahaan, tetapi belum tentu menjadi keunggulan bagi pekerja ketika ia harus mencari peluang di tempat lain.
Pekerja Juga Butuh Ruang untuk Menentukan Arah
Oleh karena itu, menurut saya, persoalan kultur palugada tidak bisa sepenuhnya dibebankan kepada pekerja. Tidak adil jika seseorang bertahun-tahun diminta mengerjakan berbagai hal, lalu setelah ingin pindah kerja ia dianggap tidak memiliki keahlian yang jelas.
Perusahaan tentu membutuhkan karyawan yang fleksibel, tetapi fleksibilitas juga perlu punya batas. Jangan sampai kemampuan seseorang untuk mengerjakan banyak hal justru menjadi alasan untuk terus menambah tanggung jawab tanpa memberi kesempatan berkembang di satu bidang.
Jika pola ini dibiarkan, pekerja hanya akan sibuk memenuhi kebutuhan saat ini tanpa sempat memikirkan bekal untuk kariernya di masa depan.
Oleh kaena itu, pekerja juga perlu punya ruang untuk menentukan apa yang ingin didalami. Tidak harus langsung menemukan bidang yang paling ideal, tetapi setidaknya ada satu kemampuan yang sengaja dibangun dan diperkuat. Pengalaman lintas bidang tetap bisa menjadi nilai tambah, selama tidak membuat seseorang kehilangan arah tentang ke mana kariernya ingin dibawa.
Baca Juga
-
Usulan Pejabat Makan MBG: Ujian Kesetaraan dan Nyali Pemerintah Terapkan Sila Kelima
-
Kepala BGN Minta Guru Santap MBG: Perlukah Sekolah Mengisi Celah Sistem?
-
Ulasan Wedding Impossible: Mengkritisi Norma di Balik Tuntutan Menikah
-
Fenomena Overeducation Lulusan S1: Potret Ketimpangan Gelar dan Pekerjaan
-
Font Buku Terlalu Kecil, Buku Ajar Dirombak: Gaji Guru Kapan Menyusul?
Artikel Terkait
-
Fenomena Overeducation Lulusan S1: Potret Ketimpangan Gelar dan Pekerjaan
-
Generasi Muda dan Kemerdekaan Ekonomi: Ketika Lapangan Kerja Jadi Tantangan
-
Pendapatan IHT Turun Rp100 Triliun, 900 Ribu Lapangan Kerja Terancam
-
Kinerja Menteri Prabowo Paling Buruk: Pigai dan Dody Hanggodo
-
Career Break Bukan Penghalang, Mengapa Dunia Kerja Sulit Memahaminya?
Kolom
-
Usulan Pejabat Makan MBG: Ujian Kesetaraan dan Nyali Pemerintah Terapkan Sila Kelima
-
Desa Kemiren: Menjaga Budaya, Menguatkan Warga dan Mengembangkan Pariwisata
-
Polemik Hafalan Al-Qur'an dan Hadiah Miras: Ketika Gimik Marketing Menabrak Sakralitas Agama
-
Merdeka dari Ekspektasi Orang Lain: Perjalanan Temukan Versi Diri Sendiri
-
Menggali Ketakutan Kolektif di Balik Larisnya Film Mistik Kita
Terkini
-
Review Film Hai Jawani Toh Ishq Hona Hai: Sajian Komedi Masala Khas India!
-
4 Ide OOTD Contemporary Streetwear ala S.Coups SEVENTEEN, Keren Tanpa Ribet
-
Menikmati Niten dari Jalan Sawah hingga Rimbun Tabebuya yang Mekar
-
Film Baru Makoto Shinkai Resmi Dapat Mitra Distribusi untuk Pasar Indonesia
-
Arti dari Sebuah Keluarga