Hayuning Ratri Hapsari | Dini Sukmaningtyas
Ilustrasi wanita duduk di bangku taman (magnific)
Dini Sukmaningtyas

Di media sosial, menjadi dewasa seolah punya satu rumus sederhana, yaitu never asking why. Dihapus dari pertemanan? Tidak perlu bertanya. Di-unfollow? Tidak perlu dipikirkan. Tidak diajak? Tidak perlu diambil pusing dan lanjutkan hidup.

Berawal dari sana, sikap bodo amat kemudian dianggap sebagai bentuk ketenangan dan kedewasaan emosional.

Nasihat ini memang terdengar masuk akal. Lagi pula, tidak semua hal berada dalam kendali kita dan tidak semua orang akan memberikan penjelasan yang kita inginkan.

Namun, apakah berhenti bertanya selalu berarti kita sudah menerima? Atau jangan-jangan, kita hanya sedang belajar menyembunyikan rasa kecewa di balik sikap tidak peduli?

Radical Acceptance Bukan Berarti Berhenti Merasa

Konsep "bodo amat" ini sering dikaitkan dengan radical acceptance. Mengutip Verywell Mind, radical acceptance adalah kemampuan untuk menerima situasi yang berada di luar kendali tanpa menghakiminya, sehingga penderitaan yang ditimbulkan dapat berkurang.

Artinya, kita mengakui kenyataan dan emosi yang muncul tanpa menyangkal, menghindari, atau terus-menerus melawannya.

Dalam konteks kehidupan sehari-hari, kita bisa menerima bahwa sebuah pertemanan telah berakhir atau seseorang memilih pergi, meski tetap merasa sedih dan kecewa.

Di sinilah konsep radical acceptance semu menjadi menarik untuk dibahas. Sebab, menerima kenyataan tidak sama dengan berpura-pura tidak peduli.

Menerima bahwa seseorang telah pergi tidak sama dengan mematikan rasa penasaran. Misalnya, saya bisa menerima bahwa sebuah hubungan telah berakhir, tetapi tetap bertanya-tanya mengapa hubungan tersebut berakhir.

Saya juga bisa menerima bahwa seseorang tidak lagi ingin berteman dengan saya, sembari melakukan refleksi, apakah ada sesuatu yang saya lakukan? Apakah ada sikap yang perlu saya perbaiki?

Bagi saya, kita boleh sedih, kecewa, marah, dan bertanya. Yang perlu dihindari adalah ketika jawaban dari orang lain menjadi satu-satunya syarat agar kita bisa melanjutkan hidup.

Bertanya “Kenapa” Tidak Selalu Berarti Belum Dewasa

Ada anggapan bahwa orang yang terus mencari alasan dari sebuah perpisahan berarti belum bisa move on. Padahal, keinginan untuk memahami sesuatu adalah hal yang sangat manusiawi. Ketika seseorang tiba-tiba berubah, menjauh, atau pergi, wajar jika kita bertanya-tanya.

Bahkan, pertanyaan “kenapa” kadang bisa menjadi bagian dari proses introspeksi. Jika seseorang menjauh karena merasa tidak nyaman dengan sikap kita, informasi tersebut mungkin bisa menjadi bahan untuk berkembang.

Namun, ini bukan berarti setiap kritik dari orang lain harus langsung kita terima sebagai kebenaran. Tidak semua orang yang meninggalkan kita berarti kita adalah pihak yang salah.

Ada hubungan yang memang berakhir karena perbedaan tujuan. Ada pertemanan yang renggang karena masing-masing sudah berubah.

Namun, menurut saya, menolak bertanya sama sekali juga bukan bentuk kedewasaan. Sebab, jika setiap pengalaman tidak menyenangkan langsung kita jawab dengan bodo amat, kita mungkin kehilangan kesempatan untuk mengenali diri sendiri.

Menerima Tanpa Harus Menunggu Closure

Di sisi lain, saya juga memahami mengapa prinsip “never asking why” terasa begitu menarik. Banyak orang menghabiskan waktu bertahun-tahun untuk mencari closure dari hubungan yang telah berakhir.

Padahal, tidak semua orang akan memberikan closure yang kita inginkan. Ada kalanya kita sudah bertanya, tetapi tidak mendapatkan jawaban.

Di titik ini, kita memang perlu belajar menerima bahwa tidak semua pertanyaan akan mendapatkan jawaban. Jadi, mungkin rumus adulting yang lebih sehat bukan “never asking why”, melainkan “ask why, reflect on it, and learn to move on even when the answer never comes.

Bagi saya, di situlah perbedaan antara radical acceptance dan sikap bodo amat. Bodo amat bisa menjadi cara untuk menghindari perasaan. Sementara itu, radical acceptance seharusnya membantu kita mengakui perasaan tersebut tanpa terus-menerus melawan kenyataan.