"Kalau punya gaji 10 juta per bulan, hidupku pasti bisa lebih tenang."
Pernah terlintas pemikiran seperti itu, Sobat Yoursay?
Sebagai karyawan bergaji imut dan masih di bawah UMR, sejujurnya pemikiran semacam itu juga sering terlintas di benak saya. Rasanya, kenaikan gaji akan membuat hidup terasa jauh lebih tenang. Anggapan itu tentu tidak sepenuhnya keliru. Penghasilan yang lebih besar memang bisa membantu memenuhi lebih banyak kebutuhan. Namun, mengapa tidak sedikit orang yang gajinya sudah jauh lebih tinggi tetap merasa belum cukup dan masih dihantui kecemasan soal uang?
Hampir setiap orang pernah memiliki angka impian yang belum berhasil dicapainya pada saat itu. Ada yang merasa hidupnya akan tenang dengan gaji Rp5 juta, Rp10 juta, Rp20 juta, hingga Rp50 juta per bulan. Kita percaya jika angka itu sudah tercapai, hidup akan lebih baik. Padahal, setelah angka itu berhasil dicapai, rasa tenang sering kali hanya bertahan sebentar. Tak lama kemudian, muncul target baru dengan angka yang lebih besar. Kemapanan yang semula terasa sudah dekat kembali terlihat jauh.
Persoalan semacam ini terjadi bukan berarti seseorang tidak pandai bersyukur. Sebab, ketika penghasilan meningkat, sering kali ada banyak hal lain yang ikut berubah. Mulai dari biaya hidup, gaya hidup, target, ekspektasi keluarga, hingga standar diri sendiri. Contoh sederhananya: jika dengan gaji sebelumnya kita sudah cukup tinggal di kontrakan sederhana, setelah pendapatan naik secara signifikan, kita jadi ingin punya rumah sendiri yang lebih besar dan nyaman. Jika dulu terbiasa minum kopi sachet, sekarang sekadar ngopi saja hampir setiap hari perginya ke coffee shop. Keinginan-keinginan tersebut sebenarnya wajar. Masalahnya, ketika standar hidup terus meningkat mengikuti kenaikan penghasilan, rasa cukup pun ikut bergeser.
Di sisi lain, keberadaan media sosial juga turut memengaruhi cara kita memandang kemapanan. Di sana, kita banyak melihat potongan kehidupan orang lain di masa-masa terbaiknya. Kita menyaksikan mereka liburan, membeli rumah, membeli HP baru, dan lain sebagainya. Semua itu perlahan membuat kita merasa tertinggal. Dan tanpa disadari, media sosial membuat garis tentang apa yang disebut 'mapan' terus bergeser. Apa yang dulu sudah terasa cukup, kini perlahan dianggap biasa.
Di titik ini, yang mungkin perlu untuk kita sadari adalah bahwa kemapanan tidak memiliki garis akhir yang mutlak. Semakin didekati, ia terasa semakin jauh. Bukan karena garisnya yang menghilang, melainkan sebab targetnya yang berubah. Saat punya uang Rp5 juta, seseorang menganggap Rp10 juta sebagai garis kemapanannya. Kemudian ketika ia sudah ada di garis Rp10 juta, target kemapanan yang ia perjuangkan berubah menjadi Rp20 juta, dan begitu seterusnya. Semua itu, jika terus kita kejar, seolah tak akan ada akhirnya.
Di titik inilah kita mungkin perlu melihat kembali cara memaknai kemapanan. Sebab, jika ukuran kemapanan selalu mengikuti kenaikan penghasilan dan standar hidup, maka garis akhirnya akan terus bergeser. Bukan karena kita kurang bekerja keras, melainkan karena definisi "cukup" yang terus berubah.
Sebenarnya nggak ada yang salah dengan mengejar penghasilan yang lebih besar. Bahkan bisa membuka peluang untuk hidup lebih baik di masa depan. Namun, di tengah semua itu, kita mungkin perlu belajar menentukan sendiri ukuran 'cukup' dalam hidup. Sebab, tanpa itu, kenaikan gaji mungkin hanya akan mengubah angka di rekening, tetapi belum tentu menghadirkan ketenangan yang selama ini kita cari. Dan terakhir, ada satu pertanyaan yang mungkin layak kita renungkan: apakah yang sedang kita kejar benar-benar kemapanan, atau hanya angka yang terus berubah mengikuti ekspektasi?
Baca Juga
-
Memaknai Lagu Selesai: Saat Cinta dalam Diam Harus Belajar Melepaskan
-
Ketika Tumpukan Kardus Paket Menjadi Jejak Perilaku Konsumsi Gen Z
-
Review Way Back Love: Romansa Fantasi yang Bikin Penonton Banjir Air Mata
-
Review Dikichi Kediri: Sensasi Crispy Hot Chicken yang Renyahnya Bikin Nagih!
-
Review My Name: Perempuan yang Menghabiskan Hidupnya demi Balas Dendam
Artikel Terkait
Kolom
-
Hukuman Ringan bagi Koruptor, Pesan Buruk bagi Pemberantasan Korupsi
-
Perry Warjiyo Mundur: Jangan Sampai Bos Baru BI Mudah Disetir Politisi!
-
Viral karena Nyungsep di Panggung Wisuda: Antara Niat Selfie dan Hilangnya Etika?
-
Dibalik Tren Padel dan Gym: Kenapa Olahraga Sekarang Jadi Ajang Pamer Gaya Hidup?
-
Pemerintah Adalah Pelayan Publik, Bukan Penguasa yang Kebal Kritik
Terkini
-
4 Moisturizer Lokal Beras untuk Kunci Kulit Glowing dan Plumpy Setiap Hari
-
Review Ride or Die: Sajikan Plot Twist Menarik tentang Pembunuh Bayaran
-
Jadwal Piala Presiden Hari Ini: Persib dan Arema Jalani Laga Penentu
-
Marvel Gandeng Kadokawa, Hadirkan Manga Baru Spider-Man hingga Punisher
-
Review Film Husbands in Action: Aksi Kocak Dua Suami Menyelamatkan Keluarga