Kabar pilu mengenai seorang anak perempuan yang menangis histeris saat ia menyaksikan sang ayah yang meninggal dunia usai dihajar massa viral di media sosial.
KD, ayah anak perempuan tersebut tewas setelah diduga mencuri seekor ayam di Banjar Dinas Juwuk Legi, Desa Batunya, Kecamatan Baturiti, Kabupaten Tabanan, Bali, pada Jumat (24/7/2026).
Momen saat anak perempuan tersebut meratapi kepergian sang ayah dengan cara yang tragis membuat miris. Meski sudah ditenangkan orang-orang dewasa di sekitarnya, anak tersebut tetap berusaha memanggil ayahnya yang sudah terbujur kaku.
Aksi main hakim sendiri yang berujung nyawa melayang tetap tak dibenarkan sekalipun korban melakukan tindakan kejahatan. Kejadian ini seharusnya menjadi pengingat bahwa proses hukum tidak boleh digantikan oleh aksi anarkis.
Kejahatan 'Wong Cilik' Vs Koruptor
Di tengah kabar tragis tersebut, ada satu hal lain yang membuat saya semakin miris. Seorang pria yang diduga mencuri seekor ayam harus meregang nyawa setelah dihajar massa, sementara para koruptor yang diduga atau bahkan terbukti mencuri uang rakyat dalam jumlah fantastis masih bisa tersenyum ketika berhadapan dengan kamera.
Kontras tersebut tentu saja menimbulkan pertanyaan besar tentang rasa keadilan di masyarakat. Memang tindakan maling ayam juga tak bisa dibenarkan untuk alasan apapun, tapi lihatlah akibat besar yang ditimbulkan atas perbuatan ‘wong cilik’ yang tak sebanding dengan barang yang diambilnya. Rasa malu yang ditanggung keluarga hingga nyawa bahkan dipertaruhkan.
Sementara di lain sisi, koruptor yang mengambil uang rakyat dalam jumlah miliaran bahkan hingga triliunan rupiah masih bisa tampil rapi, mengenakan pakaian mahal, dan tersenyum tak tahu malu saat menjalani pemeriksaan atau ketika dibawa aparat penegak hukum.
Padahal, dampak kejahatan korupsi bisa jauh lebih luas bahkan merugikan satu negara. Namun, mengapa perlakuan masyarakat terhadap keduanya bisa begitu berbeda?
Tentu saja, bukan berarti kita dapat membenarkan aksi main hakim sendiri terhadap pelaku kejahatan. Sama sekali tidak. Setiap orang yang diduga melakukan kejahatan tetap berhak diproses sesuai hukum yang berlaku.
Saya hanya merasa miris dengan perlakuan kontras yang diterima rakyat kecil dengan para koruptor yang bahkan masih bisa menikmati kekayaan setelah mereka bebas dari jerat hukum.
Mengapa Masyarakat Tak Bisa Main Hakim Sendiri ke Koruptor?
Jika maling ayam bisa dengan mudah dihajar massa itu disebabkan karena pelaku hadir langsung di tengah-tengah lingkungan masyarakat.
Coba bandingkan dengan koruptor yang tinggal di lingkungan perumahan mewah dengan fasilitas keamanan yang sulit ditembus, tentu mustahil bagi rakyat untuk langsung “menghajar” koruptor di tempat.
Belum lagi, koruptor sudah menunjuk pengacara dan mengungsi dari kediamannya agar bisa menghindari sorotan media. Para koruptor dengan segala kuasanya juga bisa meminta perlindungan aparat keamanan agar tak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan selama proses hukum berlangsung.
Meski tak dipungkiri bahwa masyarakat pun merasa geram dengan para koruptor, namun tetap saja siapa pun yang melakukan kejahatan harus diproses melalui jalur hukum, bukan dengan cara main hakim sendiri.
Memang terdengar tak adil, tapi biar bagaimanapun sebagai warga negara yang baik kita harus menaati seluruh peraturan dan proses hukum yang diatur negara.
Hukum dunia mungkin memiliki celah, tetapi hukum Tuhan tidak pernah salah alamat. Ketika keadilan dunia belum mampu menyelesaikan semuanya, setiap manusia tetap akan berhadapan dengan pengadilan akhirat yang tidak mengenal kekuasaan, kekayaan, maupun jabatan.
Baca Juga
-
Jumanji: Open World Rilis Trailer Perdana, Dwayne Johnson Cs Kembali
-
Sinopsis Children of Blood and Bone, Film Adaptasi Novel Laris Tayang 2027
-
Kejutan SDCC 2026: Ryan Gosling Resmi Gabung MCU Sebagai Ghost Rider!
-
Kisah Ibu Hamil Naik KRL Jam Sibuk: Antara "Misuh-misuh" dan Keajaiban Pin Prioritas
-
Dari Diskusi hingga Wall of Hope, LINTAS Dorong Masyarakat Peduli Masa Depan Transportasi Umum
Artikel Terkait
Kolom
-
Minta Generasi Berakhlak, tapi Tak Peduli Gurunya Hidup Serba Kekurangan
-
UU Pusat Finansial Internasional: Awas Bahaya Shell Company dan Arbitrase!
-
Memori HP Penuh, Kenapa Kita Seolah Merasa Berat Menghapus File Lama?
-
Kalau Semua Orang Mau Naik Transum, Mungkin Kota Kita Tak Semacet Sekarang?
-
Masih Enggan Naik Transportasi Umum? Sudah Saatnya Mengubah Cara Pandang
Terkini
-
Sabet Rating Fantastis, Agent Kim Reactivated Berpeluang Lanjut Season 2
-
Avatar Aang: The Last Airbender dan Penyakit Nostalgia Hollywood
-
Usai 3 Tahun, Lee Chae Min dan Roh Yoon Seo Reuni di Drama My Reason to Die
-
The Broker: Ketika Pengampunan Presiden Jadi Hukuman yang Lebih Mematikan
-
Ulasan Drama Ms. Incognito: Mengurai Privilege dalam Struktur Kelas Sosial