Di tengah maraknya produksi garam modern yang serba cepat, para petani di Desa Les Kecamatan Tejakula, Kabupaten Buleleng, Bali Utara, masih mempertahankan cara tradisionalnya. Dari proses itulah lahir garam alami dengan citra rasa yang jarang ditemukan pada garam lain.
Garam palungan dari Desa Les memiliki karakter rasa yang lebih dalam, dengan sentuhan mineral yang khas. Rahasia rasa ini tidak hanya berasal dari laut, tetapi dari tanah.
Dari Tanah, Bukan Langsung dari Laut
Jika umumnya garam dibuat dengan menjemur air laut secara langsung, Desa Les punya metode berbeda. Air laut tidak langsung diuapkan, melainkan terlebih dahulu dituangkan ke lahan tanah yang telah disiapkan.
Menurut penggerak UMKM Desa Les, Nyoman Nadiana, proses ini menjadi kunci utama keunikan garam mereka.
Air laut yang meresap ke tanah akan mengalami proses alami yang memperkaya kandungan garam dan mineralnya. Tanah kemudian dikerik, lalu dimasukkan ke dalam wadah berbentuk kerucut yang disebut tinjung.
Di dalam tinjung, material alami seperti daun lontar, daun kelapa, kerikil kecil, dan pasir berfungsi sebagai penyaring berlapis. Dari proses ini, menetes cairan pekat disebut nyah atau biang garam yang menjadi inti produksi.
"Biang garam ini kemudian baru kita jemur di palungan atau membran plastik," kata Nyoman pada Yoursay, Rabu (5/5/2026).
Nyah Inti Rasa yang Tidak Dimiliki Garam Biasa
Berbeda dengan air laut biasa, nyah memiliki konsentrasi mineral yang lebih tinggi. Cairan inilah yang kemudian dijemur hingga menjadi kristal garam.
Proses panjang ini membuat garam Desa Les tidak hanya mengandung natrium klorida, tetapi juga jejak mineral lain yang memberi kompleksitas rasa.
Palungan Vs Membran, Tradisi yang Beradaptasi
Setelah menjadi nyah, proses berikutnya adalah penguapan. Secara tradisional, masyarakat menggunakan batang kelapa sebagai palungan untuk menjemur garam.
Namun, perubahan cuaca yang semakin tidak menentu mendorong adanya inovasi. Kini, banyak petani garam mulai menggunakan membran plastik sebagai media penjemuran.
"Membran lebih praktis. Kalau tiba-tiba hujan, garam bisa langsung diselamatkan. Kalau pakai palungan, tidak bisa," ujar Nyoman.
Meski demikian, esensi tradisional tetap terjaga. Membran hanya menjadi alat bantu sementara inti proses, yakni interaksi antara air laut dan tanah, tetap dipertahankan.
Lebih dari Produk, Ini Identitas Desa
Keunikan rasa garam Desa Les bukan sekadar soal teknik produksi, tetapi juga mencerminkan identitas lokal.
Di tengah industri yang cenderung seragam, garam palungan justru menawarkan diferensiasi berbasis kearifan lokal. Proses yang panjang dan melibatkan alam secara utuh menjadi nilai tambah, baik dari sisi rasa maupun cerita.
Peran Astra Mendukung Produksi Garam Desa Les
Di balik keberlanjutan tradisi ini, ada upaya kolaboratif untuk memastikan produksi garam tetap relevan di tengah tantangan zaman. Salah satunya melalui program Desa Sejahtera Astra (DSA) yang turut mendampingi Desa Les.
Melalui program ini, masyarakat tidak hanya didorong untuk mempertahankan metode tradisional, tetapi juga diperkuat dari sisi produktivitas dan efisiensi. Masyarakat Desa Sejahtera Astra Desa Les dapat menghasilkan sekitar dua hingga tiga ton garam per panen yang dipasarkan ke berbagai daerah di Indonesia.
Dengan dukungan tersebut, garam Desa Les tidak hanya bertahan sebagai warisan tradisi, tetapi juga berkembang sebagai produk bernilai ekonomi tinggi yang mampu bersaing di pasar modern.
Baca Juga
Artikel Terkait
Kolom
-
Stigma Tubuh Perempuan dan Warisan Tabu dalam Bahasa Sehari-hari
-
Ketika Estetika Membuat Barang Kehilangan Umur Pakainya
-
Bisingnya Knalpot RX King: Mempertanyakan Ulang 'Hak Atas Kota' Warga Jogja
-
Demi Korban atau Selamatkan Muka? Menelanjangi Borok Penanganan Kasus di SMAN 1 Sentolo
-
Demo Mahasiswa UINSA: Tuntut Transparansi Rektorat Tanpa Harus Merugikan Rekan Sendiri
Terkini
-
Humor yang Membunuh Sains: Menyoal Sentilan Prabowo dan Narasi Anti-Intelektual
-
Bye Jerawat Meradang! 4 Hybrid Sunscreen Heartleaf Kontrol Produksi Sebum
-
Heboh Pernikahan Andre Taulany dan Amanda Rigby: Ketika Selisih Usia Jadi Cermin Standar Ganda Kita
-
FIFA ASEAN Cup: Pertaruhan Hidup-Mati Bagi John Herdman di Timnas Indonesia
-
Review Film Soulmate: Pahami Bahwa Belahan Jiwa Tak Selalu Kekasih Romantis