Bagi masyarakat Desa Kemiren, Banyuwangi, Jawa Timur, budaya bukanlah sebuah peninggalan leluhur yang hanya untuk dikenang. Banyak peninggalan leluhur mulai dari rumah adat Osing, kesenian, tradisi, hingga kehidupan masyarakat sehari-sehari sudah menjadi bagian dari kehidupan desa tersebut.
Bersamaan dengan upaya menjaga kelestarian warisan tersebut, Muhammad Edi Saputro atau kerap dikenal sebagai Kang Edai dipercaya untuk menjadi Ketua Desa Wisata Osing Kemiren. Tak disangka, terpilihnya Kang Edai justru membuat desa tersebut bertumbuh pesat menjadi desa wisata.
Meski desa Kemiren telah tergabung dengan program Desa Sejahtera Astra sejak tahun 2024. Perjalanan mereka sudah jauh dimulai dengan merintis pada sektor pariwisata sejak pertengahan 2010-an.
Sebagai lulusan pariwisata, Kang Edai memandang pariwisata bukan sekadar memancing wisatawan untuk datang berkunjung. Baginya, melalui pariwisata bahkan bisa membuka peluang untuk menggerakkan banyak hal sekaligus.
Begitu wisatawan datang, berbagai produk lokal ataupun kuliner warga jadi memiliki wadah untuk lebih dikenal. Saat budaya menjadi daya tarik dari identitas suatu desa, dari situlah kewirausahaan, pendidikan, kesehatan, hingga lingkungan ikut berkembang.
Melalui pandangan seperti itulah yang kemudian menjadi pijakan bagi desa Kemiren saat memutuskan bergabung dengan program dari PT Astra International Tbk. Bergabungnya desa itu, program DSA mulai mendongkrak potensi Kemiren melalui empat bidang, yakni kewirausahaan, kesehatan, pendidikan, dan lingkungan.
Walaupun program DSA mengunggulkan keempat bidang tersebut, Kang Edai menilai pariwisata tetap diposisikan sebagai setir kendali karena memiliki dampak paling luas bagi kehidupan masyarakat Kemiren. Ia memandang desa wisata itu ibarat etalase. Jika etelase tersebut dibuat semakin menarik, hal-hal lain di dalamnya ikut terlihat.
Dalam mempertahankan warisan leluhur, Kemiren sendiri tidak berusaha untuk mengubah tatanan desa menjadi satu bentuk kesatuan. Masing-masing sektor punya fokusnya sendiri.
Untuk persoalan pelestarian budaya, Kang Edai bersama masyarakat Kemiren lebih mengutamakan fokusnya pada kawasan rumah adat. Pendekatan itu dipilih, karena ada sekitar 1.100 kepala keluarga dengan kehidupan, kebutuhan, dan minat yang beragam. Menurutnya, menjaga budaya tidak harus memaksakan kehendak semua orang untuk menjalani hidup yang seragam.
Seiring perkembangan desa Kemiren, citranya semakin mendapat perhatian dari luar. Jika sebelumnya, kebanyakan kegiatan mengandalkan dari dana desa, Badan Usaha Milik Desa (BUMDes), dan sokongan dana dari Corporate Social Responsibility (CSR) yang tidak tetap, sekarang Kemiren menjalin kerja sama yang lebih terstruktur sebagai desa binaan Astra.
Selain memberikan dukungan dana, pihak Astra ikut terjun langsung ke lapangan guna melihat kebutuhan masyarakat dan merancang pengembangan program bersama.
Kang Edai mengaku sangat terbantu dengan kerja sama ini, karena membuat berbagai potensi milik Kemiren semakin berkembang dan lebih terarah. Berangkat dari dukungan Astra mampu membawa Kemiren mengepakkan sayap lebih tinggi.
Sebagai bagian dari dukungan Astra, mereka bisa mengikuti ASEAN Tourism Award di Malaysia hingga menghadiri United Nations Tourism di China. Kemiren pun berhasil memboyong penghargaan tingkat ASEAN dan kini sedang berprogres untuk bergabung dengan komunitas desa wisata UN Tourism.
Selama menjalani desa binaan ini bukanlah perkara mudah untuk menggabungkan empat bidang dalam satu jalan. Formula yang cocok dan tepat masih dicari agar pariwisata, kesehatan, pendidikan, dan lingkungan tidak berjalan sendiri-sendiri.
Dilihat dari segi kewirausahaan, pariwisata dapat menjadi titik awal bagi warga untuk mengembangkan berbagai potensi Kemiren. Masyarakat bisa menawarkan paket wisata budaya sekaligus memperkenalkan kehidupan dan tradisi Kemiren. Hal ini dinilai turut andil dalam membangun ekonomi berkelanjutan.
Sementara itu, bidang kesehatan bergerak melalui program posyandu. Bahkan program yang dikelola oleh masyarakat setempat berhasil menggaet Juara 1 tingkat Provinsi Jawa Timur. Capaian itu memperlihatkan bahwa kemajuan desa wisata bisa juga dilihat dari masyarakatnya mendapatkan layanan kesehatan yang memadai.
Tak hanya itu, bidang pendidikan juga diberi perhatian yang sama. Anak-anak di tingkatan Taman Kanak-Kanak (TK) maupun Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) mulai digencarkan untuk mengenal kebudayaan Kemiren. Kang Edai melihat bahwa kebudayaan perlu ditanamkan sejak dini agar tidak hilang di tengah derasnya budaya modern.
Pada bidang lingkungan pun, masyarakat turut mengembangkan pupuk organik dan kompos. Selain itu, pemilahan sampah plastik rentan polutan juga ikut didorong. Berbagai langkah itu menjadi bagian dari upaya melestarikan kebudayaan Kemiren dengan tidak menyisakan persoalan baru.
Dengan pariwisata yang menjadi penggerak, keempat bidang tersebut akhirnya bertemu titik temu.
Namun, tantangan masih kerap dihadapi Kang Edai. Program-program yang telah dijalani dengan baik ini belum cukup jika tidak diteruskan oleh generasi berikutnya.
Dari kesadaran itulah yang membuat regenarasi menjadi bagian penting. Menurut Kang Edai, keberlanjutan tidak harus membuat generasi muda ini mengikuti persis jejaknya. Sebaliknya, mereka harus menemukan cara sendiri dalam menjaga identitas Kemiren.
Harapan tersebut yang mengantarkannya pada kehidupan Kemiren dalam beberapa tahun mendatang. Jauh di lubuk hati, Kang Edai ingin masyarakat desanya tidak sekadar populer karena budaya dan pariwisatanya. Justru ia ingin Kemiren semakin sejahtera, baik dari sisi ekonomi, kesehatan, maupun pendidikan.
Perjalanan Kang Edai sebagai local hero ini tidak berhenti pada seberapa banyak penghargaan yang berhasil ia berikan ke Kemiren. Bahkan ia tengah memastikan bahwa beragam potensi yang dimiliki desa mampu dikelola bersama dan tetap hidup meski generasi sudah berganti.
Kang Edai ingin meninggalkan warisan berupa tata kelola yang bisa mempertemukan akademisi, dunia usaha, komunitas, pemerintah, termasuk media untuk bergerak maju bersama. Perlu diingat, keberhasilan Kemiren tidak tumbuh dengan bergantung pada satu orang saja.
Baca Juga
-
Ancaman El Nino 2026: Luas Area Terindikasi Terbakar Capai Tiga Kali Lipat Daratan Jakarta
-
Riset Terbaru: Siram Atap dengan Air Hujan Terbukti Tekan Penggunaan AC saat Gelombang Panas
-
Jinakkan El Nino Pakai Garam Laut: Ide Brilian atau Malapetaka Baru?
-
Cerita dari Taman Puring: Begini Serunya Mengikuti Latihan Komunitas Parkour Jakarta
-
Mengenal Komunitas Parkour Jakarta: Mengubah Stigma Olahraga Ekstrem Jadi Seni Disiplin Tubuh
Artikel Terkait
Kolom
-
Dilema Mengecek HP Anak: Antara Melindungi dari Bahaya Digital atau Merusak Kepercayaan
-
Jebakan Narsisme Kebudayaan: Mengapa Delegasi Mahasiswa Harus Berhenti Sekadar Jadi 'Performer'
-
Kala Hati Mengajak Pulang: Perjalanan Nyoman Nadiana Membangun Desa Les
-
Mengulik Desa Les: Saat Tradisi Gerakkan Ekonomi, Anak Muda Siap Warisi?
-
Gen Z Fasih Bahasa Inggris, tapi Makin Asing dengan Bahasa Ibu, Mengapa?
Terkini
-
The Story of Body Language: Bisakah Kita Membaca Orang dari Gerak Tubuh?
-
Dari Kemiren untuk Kemiren: Kiprah Kang Edai Bersama Astra
-
Nyoman Nadiana: Sosok di Balik Kebangkitan Garam Tradisional Bali yang Tembus Pasar Modern
-
Spider-Man: Brand New Day, Petualangan Baru Peter Parker Setelah No Way Home
-
Mingyu, Seungkwan, dan Dino SEVENTEEN Umumkan Tanggal Resmi Wajib Militer