"Laki-laki jangan nangis." Kalimat yang terdengar seperti nasihat, tetapi diam-diam menyimpan persoalan panjang tentang bagaimana masyarakat membentuk standar maskulinitas. Sejak kecil, banyak anak laki-laki diajarkan bahwa menangis adalah tanda kelemahan, menunjukkan kesedihan berarti tidak tangguh, dan mengekspresikan emosi dianggap tidak pantas bagi seorang laki-laki. Anehnya, masyarakat terkadang jauh lebih sibuk mengatur bagaimana laki-laki seharusnya mengekspresikan perasaannya daripada menegur perilaku laki-laki yang benar-benar merugikan orang lain.
Laki-laki menangis dianggap memalukan. Namun, laki-laki yang melakukan catcalling kepada perempuan bisa saja dimaklumi dengan dalih bercanda. Pelecehan seksual dianggap salah paham. Perilaku seksis dinormalisasi sebagai kebiasaan. Bahkan, misogini kadang disamarkan sebagai pendapat atau hak untuk bercanda. Di sinilah standar sosial kita perlu dipertanyakan. Mengapa ekspresi emosi laki-laki dianggap masalah, sementara perilaku yang merendahkan, mengintimidasi, dan melanggar batas tubuh orang lain justru masih mendapatkan toleransi?
Menangis bukan kejahatan. Menangis merupakan respons manusiawi terhadap kesedihan, kehilangan, tekanan, ketakutan, maupun kekecewaan. Laki-laki juga memiliki emosi dan kerentanan. Memaksa mereka menekan seluruh perasaan hanya demi memenuhi gambaran maskulinitas tertentu justru dapat membuat mereka kesulitan mengenali dan mengelola emosinya sendiri.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah menempatkan norma gender yang merugikan sebagai salah satu faktor sosial yang dapat memengaruhi kesehatan dan kesejahteraan manusia. Norma maskulinitas yang menuntut laki-laki selalu kuat, dominan, dan tidak boleh menunjukkan kelemahan dapat menghambat perilaku mencari pertolongan ketika menghadapi masalah. Namun, persoalan maskulinitas tidak berhenti pada larangan menangis. Ada perilaku lain yang jauh lebih mendesak untuk dihentikan: catcalling, pelecehan seksual, kekerasan seksual, seksisme, dan misogini.
Catcalling bukan pujian yang wajib diterima perempuan. Siulan, komentar seksual, atau teriakan bernada merendahkan di ruang publik dapat membuat seseorang merasa terancam dan tidak aman. Dalih bahwa pelaku hanya bercanda tidak otomatis menghapus dampak perilakunya. Ruang publik seharusnya menjadi tempat yang aman bagi semua orang, bukan tempat perempuan harus terus-menerus waspada terhadap komentar dan tindakan yang tidak mereka kehendaki.
Begitu pula pelecehan dan kekerasan seksual. Persoalannya bukan pakaian korban, jam kepulangan, atau seberapa ramah seseorang kepada orang lain. Tanggung jawab berada pada pelaku untuk menghormati persetujuan, batas pribadi, dan otonomi tubuh orang lain. Tidak ada hubungan, status, maupun kedekatan yang memberikan seseorang hak untuk melakukan tindakan seksual tanpa persetujuan.
Seksisme dan misogini juga tidak boleh terus dianggap sebagai humor biasa. Komentar yang merendahkan kemampuan perempuan, menganggap perempuan lebih rendah, atau membatasi kebebasan mereka berdasarkan jenis kelamin bukan sekadar perbedaan selera. Sikap semacam itu ikut mempertahankan ketimpangan yang membuat diskriminasi dan kekerasan lebih mudah dinormalisasi.
Budaya patriarki bekerja bukan hanya melalui aturan besar, tetapi juga melalui kebiasaan kecil yang terus diulang: laki-laki harus dominan, perempuan harus patuh, laki-laki tidak boleh menangis, dan perempuan harus memaklumi perilaku laki-laki. Standar seperti ini merugikan semua orang, meskipun dampaknya tidak selalu sama. Karena itu, pendidikan tentang kesetaraan gender tidak seharusnya berhenti pada slogan. Keluarga perlu mengajarkan anak laki-laki untuk mengenali emosi sekaligus menghormati batas orang lain. Sekolah harus membangun pemahaman tentang persetujuan dan pencegahan kekerasan seksual. Masyarakat juga perlu berhenti membela pelaku dengan alasan bercanda, khilaf, atau tidak sengaja ketika terdapat perilaku yang jelas melanggar hak orang lain.
Sudah waktunya kita mengubah kalimat yang selama ini dianggap biasa. Bukan “laki-laki jangan nangis”, melainkan laki-laki jangan melecehkan, jangan merendahkan, jangan melakukan kekerasan, dan jangan merasa berhak menguasai tubuh maupun kehidupan perempuan. Ukuran kedewasaan seorang laki-laki bukan kemampuannya menyembunyikan air mata, melainkan kesanggupannya menghormati manusia lain. Biarkan laki-laki menangis. Yang tidak boleh diberi ruang adalah pelecehan, kekerasan, seksisme, dan budaya yang terus membenarkannya.
Baca Juga
-
UMKM Menjamur, Pekerjaan Layak Menghilang: Ironi Sistem Kerja di Indonesia
-
Rela Ngutang demi Hajatan Mewah, tapi Anak Minta Kuliah Jawabnya "Gak Ada Biaya", Kok Bisa?
-
Krama Alus Bukan Bahasa Museum: Mengapa Orang Jawa Harus Membiasakannya?
-
Dari Jurnal Hilang, Berakhir dengan Jatuh Hati: Dilema di Novel Obliviate
-
Birokrasi di Zona Nyaman: Mengapa Program Tak Efisien Terus Dipertahankan?
Artikel Terkait
-
Benarkah Maskulinitas Hambat Laki-Laki Bekerja di Sektor Ramah Lingkungan?
-
Kontroversi Uan Juicy Luicy: Mengapa Humor Misoginis Tak Boleh Dimaklumi
-
Men Support Men: Ketika Laki-Laki Juga Butuh Ruang untuk Cerita
-
Beban Menjadi Pria Perkasa: Mengapa Toxic Masculinity Menggerus Laki-Laki?
-
Sindrom Cowok Bingung: Antara Tuntutan Maskulinitas dan Pelarian dari Kedewasaan
Kolom
-
Mengenal Gerakan #CuekinBuzzer: Jurus Netizen Bungkam Akun Provokator
-
Jangan Asal Ikut-ikutan! Begini Cara Cerdas Jadikan FOMO sebagai Peluang Bisnis
-
Menyelamatkan Nyali Birokrasi: ASN Inovatif Diancam Bui?
-
UMKM Menjamur, Pekerjaan Layak Menghilang: Ironi Sistem Kerja di Indonesia
-
Niat Hati Healing, Malah Jatuh Miskin: Kenali Jebakan Doom Shopping di Kala Stres!
Terkini
-
Harga Sebuah Stempel
-
Bosan Kulit Kusam? Coba 4 Serum Bi-Phase yang Bikin Wajah Auto-Glowing Ini!
-
Membongkar Mitos: Benarkah Pemimpin Harus Galak dan Toksik Agar Perusahaan Sukses?
-
Mencermati Arti Kehidupan: Buku Seorang Wanita yang Ingin Menjadi Pohon
-
Investasi Praktis dan Ramah Pemula Lewat New BIONS by BNI Sekuritas