Hayuning Ratri Hapsari | Fairus Farizki
Gen Z Beralih Mencari Informasi di TikTok (Unsplash/Solen Feyissa)
Fairus Farizki

Dulu, ketika ingin mencari sesuatu di internet, kita hampir selalu membuka Google sebagai platform utama pencarian. Bingung mengerjakan tugas? Tinggal googling. Ingin mencari rekomendasi tempat makan? Googling lagi aja. Tidak tahu arti sebuah istilah-istilah asing? Lagi-lagi tinggal googling aja.

Kini, kebiasaan itu mulai berubah. Di kalangan Gen Z, pertanyaan yang sama semakin sering dilemparkan ke TikTok. Tidak mengherankan jika kita mulai akrab dengan kalimat, “Coba search aja TikTok.”

Sebenarnya, TikTok memang belum benar-benar menggantikan Google. Namun, platform berbasis short video itu mulai mengambil sebagian fungsi sebagai search engine (mesin pencari), terutama untuk mencari informasi yang bersifat praktis, visual, dan dekat dengan pengalaman sehari-hari.

Fenomena ini bukan sekadar kesan yang muncul dari kebiasaan scrolling di media sosial. Sejumlah survei menunjukkan adanya perubahan perilaku pencarian informasi, terutama di kalangan Gen Z seperti kita.

Survei Adobe Express pada 2026 menunjukkan bahwa 25 persen Gen Z menganggap TikTok efektif untuk menemukan informasi. Personalitas konten juga menjadi salah satu daya tariknya. Sebanyak 21 persen Gen Z menyebut personalisasi sebagai alasan mereka menggunakan TikTok untuk mencari informasi.

Temuan lain datang dari survei Forbes Advisor bersama Talker Research. Sebanyak 45 persen Gen Z dalam survei tersebut lebih cenderung menggunakan platform pencarian berbasis media sosial seperti TikTok dan Instagram dibandingkan Google.

Namun, ada satu hal yang perlu diluruskan. Data tersebut tidak berarti Google sudah ditinggalkan Gen Z.

Survei Adobe yang sama menunjukkan bahwa 89 persen Gen Z masih memilih Google dibandingkan platform lain sebagai mesin pencari.

Jadi, yang terjadi bukanlah perpindahan total dari Google ke TikTok. Lebih tepat jika fenomena ini disebut sebagai “pergeseran fungsi pencarian”.

Ada alasan mengapa TikTok terasa lebih praktis untuk beberapa jenis pencarian.

Google pada dasarnya memberikan kita daftar hasil pencarian. TikTok memberikan pengalaman.

Ketika mencari rekomendasi tempat makan, misalnya, Google mungkin menampilkan daftar restoran, alamat, ulasan, dan foto. Di TikTok, kita bisa langsung melihat seseorang mencoba makanan tersebut, menunjukkan porsinya, menyebutkan harga, memperlihatkan suasana tempat, sekaligus memberikan penilaian berdasarkan pengalaman pribadi.

Hal ini semakin diperkuat oleh algoritma rekomendasi TikTok. Platform tersebut memungkinkan kita membaca kata kunci yang kita masukkan dan juga mempelajari perilaku kita, seperti video apa yang ditonton, berapa lama kita menontonnya, apa yang kita sukai, hingga konten seperti apa yang sering kita lewati.

Akibatnya, pencarian di TikTok dapat terasa lebih personal.

Kita bukan hanya mencari informasi. Kita seperti sedang mencari “pengalaman orang lain tentang informasi tersebut”.

Masalahnya Apakah yang Relate Selalu Benar? Di sinilah persoalan mulai menjadi lebih serius.

TikTok dapat membuat informasi terasa mudah ditemukan, tetapi kemudahan menemukan informasi tidak otomatis membuat informasi tersebut benar.

Sebuah video dapat memperoleh jutaan penonton karena judulnya menarik, pembuatnya meyakinkan, atau ceritanya terasa dekat dengan kehidupan kita. Padahal, popularitas bukanlah bukti kebenaran.

Penelitian yang tertuang dalam artikel “Telematics and Informatics” mengenai perilaku pengguna dalam mengevaluasi informasi di TikTok juga menunjukkan bahwa pengguna dapat memperhatikan elemen-elemen dalam video dan komentar ketika menilai kredibilitas sebuah informasi.

Masalahnya, komentar yang ramai atau banyak orang yang mengatakan “baru tahu” tidak dapat menggantikan proses verifikasi.

Hal ini menjadi semakin penting ketika informasi yang dicari menyangkut kesehatan, politik, sejarah, atau isu sosial. Untuk rekomendasi makanan, informasi yang keliru mungkin hanya membuat kita salah memilih tempat makan. Namun, informasi kesehatan yang keliru dapat mempengaruhi keputusan seseorang terhadap tubuhnya sendiri.

Dengan kata lain, masalahnya adalah “algoritma tidak dirancang terutama untuk menentukan apa yang benar, melainkan apa yang relevan dan menarik bagi pengguna”.

Google pun bukan ruang yang bebas dari masalah. Hasil pencarian Google dapat dipengaruhi SEO, iklan, clickbait, bahkan banjir konten berkualitas rendah. Karena itu, persoalannya bukan memilih Google sebagai sumber yang selalu benar dan TikTok sebagai sumber yang selalu salah.

Keduanya sama-sama membutuhkan sikap kritis.

Perubahan dari Googling ke TikToking pada akhirnya menunjukkan perubahan cara kita berhubungan dengan informasi.Kita semakin menyukai informasi yang cepat, visual, personal, dan terasa relevan dengan kehidupan kita. Kita memang ingin menemukan jawaban dan kita juga lebih-lebih ingin melihat seseorang menjelaskan, memperagakan, atau mengalami jawaban tersebut.

Itu bukan sesuatu yang sepenuhnya buruk. Justru, format seperti ini dapat membuat informasi lebih mudah dipahami dan menjangkau orang yang sebelumnya enggan membaca artikel panjang.

Namun, ada satu kemampuan yang tidak boleh ikut hilang, misalnya saja kemampuan untuk berhenti sejenak dan bertanya, “Dari mana informasi ini berasal?”

Mungkin masa depan pencarian informasi bukan tentang Google atau TikTok. Keduanya akan tetap hidup berdampingan dengan fungsi yang berbeda.

Yang berubah adalah kita.

Dari sekadar mencari jawaban, kita semakin terbiasa mencari sesuatu yang terasa menjawab. Padahal, sesuatu yang terasa benar dan sesuatu yang benar-benar dapat diverifikasi adalah dua hal yang berbeda.