Setiap kali langit Kalimantan berubah pekat dan kabut asap mulai melintasi batas negara, ritme diplomasi kawasan ASEAN seolah diputar ulang. Tetangga berteriak protes, sementara otoritas Indonesia sibuk mengerahkan helikopter water bombing dan meminta semua pihak menahan diri dari tradisi saling tuduh (blame game).
Imbauan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) agar negara-negara tetangga tidak sekadar melempar kesalahan memang beralasan. Namun, perdebatan diplomatik yang berlangsung saban tahun ini sebenarnya meleset dari akar persoalan utama.
Pernahkah kita bertanya: siapa yang sebenarnya paling menikmati keuntungan ekonomis dari lahan-lahan yang terbakar itu?
Drama Saling Tuding yang Usang
Jika kita jujur melihat peta bisnis, kebakaran hutan dan lahan (karhutla) bukan semata-mata insiden kelalaian di tingkat tapak. Kebakaran adalah konsekuensi dari rantai pasok komoditas global yang menuntut produksi murah dan masif.
Sayangnya, dalam panggung geopolitik regional, narasinya selalu disederhanakan secara sempit: Indonesia dianggap sebagai "penyumbang asap", sementara tetangga menempatkan diri sebagai "korban yang terzalimi".
Padahal, asap yang terbang lintas batas tidak muncul dari ruang hampa. Ada modal besar yang menggerakkan pembukaan lahan, dan modal itu mengalir deras melalui jaringan finansial yang melintasi batas-batas negara.
Membongkar Hipokrasi Rantai Pasok Regional
Di sinilah letak sudut pandang yang kerap diabaikan publik: akuntabilitas finansial lintas batas. Korporasi multinasional serta lembaga keuangan yang berbasis di Kuala Lumpur maupun Singapura menikmati keuntungan raksasa dari pasokan kelapa sawit dan komoditas perkebunan asal Kalimantan.
Sangat ironis ketika sebuah negara melontarkan kritik lingkungan yang tajam, tetapi di saat yang sama, bursa saham dan bank-bank di negara mereka tetap mengucurkan kredit segar ke perusahaan konsesi yang memiliki jejak kebakaran di lapangan.
Menuntut Indonesia sendirian memikul beban pemadaman—sementara dividen hasil eksploitasi lahan dinikmati bersama—adalah bentuk hipokrasi ekonomi yang amat nyata. Jika manfaat ekonominya dinikmati secara regional, mengapa tanggung jawab ekologisnya diisolasi secara nasional?
Dari Sekadar Kritik Menjadi Akuntabilitas Finansial
Sudah saatnya ASEAN melangkah jauh dari sekadar retorika nota kesepahaman Transboundary Haze. Kita membutuhkan solusi yang menyasar dompet para pemodal:
- Mandat Audit Rantai Pasok Ketat: Negara-negara tetangga harus memikul tanggung jawab hukum untuk mengaudit bank dan korporasi pembeli (off-taker) di wilayah mereka. Jika terbukti mendanai atau membeli hasil dari area konsesi yang terbakar, sanksi finansial berat harus diberlakukan di negara asal modal tersebut.
- Dana Restorasi Gambut Lintas Batas: Ketimbang menghabiskan energi untuk protes, negara-negara penerima dampak perlu mengalokasikan investasi hijau (green investment) langsung ke skema pendanaan restorasi gambut di Kalimantan sebagai bentuk proteksi bersama atas kualitas udara regional.
Kabut asap tidak akan pernah padam jika kita hanya sibuk mematikan api di lapangan, tetapi membiarkan keran dana bagi perusak lingkungan tetap mengalir deras di pusat-pusat keuangan regional. Udara bersih adalah milik bersama, dan sudah saatnya biaya untuk menjaganya ditanggung bersama secara adil.
Baca Juga
-
Rektor Ditangkap KPK: Maba Korban Pemerasan Harus Diselamatkan?
-
Tarif Parkir Rp60 Ribu Jakarta: Bukan soal Angka, tapi Kepercayaan
-
Tragedi Bencana di Luar Jawa: Saat Nyawa Korban Tersandera Birokrasi dan Rantai Pasok Pusat
-
Menjaga Dapur Sendiri: ASEAN Butuh Aturan Latihan Militer Bersama
-
Zona Merah Hukum Adat: Mendesak Perlindungan Kesakralan Mama Papua di Tengah Konflik
Artikel Terkait
-
Karhutla Masih Membara, Penerbangan di Kalimantan Masih Delay dan Ditunda
-
Ini Isi Pembicaraan Anwar Ibrahim dan Sultan Brunei Bahas Kebakaran Hutan Kalimantan
-
Sebanyak 30 Perusahaan Diproses Terkait Kebakaran Hutan, Dipaksa Bayar Ganti Rugi Rp15 Triliun
-
Singapura Siap-siap Jadi Korban Kebakaran Hutan Kalimantan - Sumatera, Pemerintahnya Lakukan Ini
-
Dampak Karhutla Meluas, Masyarakat Jadi Korban hingga Ganggu Hubungan dengan Negara Tetangga
Kolom
-
Rekening Donasi Dibekukan: Penegakan Hukum atau Pembatasan Demokrasi?
-
Karhutla Melanda di Berbagai Wilayah, Apa yang Bisa Kita Lakukan sebagai Warga Negara?
-
Hati-Hati, Rusaknya Rumah Satwa Endemik Bisa Jadi Awal Runtuhnya Ekosistem Hutan
-
Bekantan Terdesak Api: Hutan Kalimantan Terbakar, Mereka Kehilangan Rumah
-
Dekonstruksi Loyalitas: Mengapa Gen Z Tak Takut Resign Demi Work-Life Balance
Terkini
-
Gak Sabar! 5 Hal yang Bikin Film Laut Bercerita Sangat Dinanti Tayangnya
-
Putih di Atas Salju
-
Kulit Sehat dan Terawat, Ini 5 Sabun Cuci Muka dengan Kandungan Prebiotik
-
Ulasan An Incurable Case of Love: Kisah Cinta Manis antara Perawat dan Dokter
-
Lebih dari Sekadar Pangan Lokal, Ini Kisah Nasi Oyek Selamatkan Jenderal Soedirman