Bahagia tidaknya seseorang ternyata sangat berkaitan erat dengan seberapa mampu ia berdamai dengan dirinya sendiri. Berdamai di sini tentu memiliki cakupan makna yang sangat luas. Namun, yang paling prinsip dari berdamai dengan diri sendiri adalah berusaha untuk menerima segala kelebihan dan kekurangan yang ada di dalam diri kita.
Bicara tentang kelebihan, saya merasa yakin setiap orang tidak sulit untuk melakukannya. Bahkan termasuk hal yang begitu mudah untuk dipraktikkan. Mengingat setiap orang selalu ingin memiliki kelebihan-kelebihan dalam dirinya. Misalnya memiliki wajah yang rupawan, tubuh proporsional, uang yang berlimpah, dan sebagainya. Singkatnya, untuk bisa menerima kelebihan yang ada di dalam diri adalah hal yang mudah diupayakan.
Lalu sekarang, bagaimana dengan kekurangan-kekurangan yang melekat dalam diri? Bisakah kita berdamai dengannya? Nyatanya, tidak semua orang bisa menerima hal tersebut. Misalnya, menerima kondisi fisik yang kurang sempurna, merasa kulit tidak mulus, wajah yang tidak tampan atau cantik, tinggi badan yang tidak ideal, berat badan yang berlebihan, dan seterusnya.
Alih-alih berusaha menerima semua itu dengan ikhlas dan lapang dada, yang ada malah selalu mengeluh, merutuki nasib, dan akhirnya menyebabkan kita jauh dari rasa syukur. Kalau sudah begini, tentu bisa bahaya, karena hari-hari yang dilewati akan jauh dari kebahagiaan.
Memang harus saya akui, untuk bisa berdamai dengan diri sendiri itu butuh proses yang tidak sebentar. Saya sendiri juga masih terus belajar untuk berdamai dengan segala kekurangan yang ada di dalam diri ini. Salah satunya berusaha menerima kenyataan bahwa saat ini (di usia 48 tahun) saya masih menjalani hidup melajang. Menjalani hari-hari seorang diri tanpa pasangan hidup, bagi sebagian orang mungkin tampak sangat menyedihkan.
Namun, bagi saya yang sudah terbiasa dan berdamai dengan semua itu, ternyata bukan hal yang menyedihkan. Bahkan saat ini saya merasa lebih bahagia dalam menjalani hidup. Saya bisa melakukan banyak aktivitas yang menyenangkan tanpa ada yang mengganggu, tanpa ada drama yang menguras energi dan emosi. Bersepeda tiap pagi, membaca buku sepuasnya, pergi ke tempat wisata kapan saja, membeli berbagai makanan kesukaan, semua hal ini dapat saya lakukan tanpa ada drama yang menguras emosi.
Singkatnya, kesendirian yang menurut banyak orang tampak menyedihkan, justru menurut saya adalah hal yang menyenangkan. Mengapa sendiri itu menyenangkan? Ya itu tadi, karena saya sudah berdamai dengan diri sendiri.
Menyenangkan Semua Orang itu Bukan Tugas Kita
Kita mungkin sering melihat, orang-orang begitu gigih melakukan beragam cara agar mereka terlihat sempurna di mata orang lain. Agar mereka bisa menyenangkan semua orang. Padahal, tidak ada satu pun manusia di muka bumi ini yang bisa menyenangkan semua orang. Ingat, menyenangkan semua orang bukan menjadi tugas kita. Tugas kita adalah berusaha menjadi pribadi yang lebih baik dari hari-hari yang telah kita lalui.
Ketika kita mampu melewati hari-hari dengan lebih positif, maka ini menjadi pertanda bahwa kita adalah termasuk orang yang beruntung. Sebab dalam ajaran agama telah dijelaskan bahwa salah satu tanda orang yang beruntung adalah ketika pribadi atau perilakunya lebih baik dari hari kemarin. Tentu saja, untuk menjadi pribadi yang lebih baik itu (lagi-lagi) juga butuh proses. Sampai kapan? Ya, sampai kita menutup mata tentunya.
Jadi bisa kita simpulkan bahwa agar kita bisa menjalani hari-hari dengan kebahagiaan maka ada beberapa hal yang harus diupayakan. Dua di antaranya ialah berusaha berdamai dengan diri sendiri (menerima segala kekurangan dan kelebihan diri kita) dan terus berproses menjadi pribadi atau sosok yang lebih baik lagi.
Baca Juga
-
Bedah Buku 'Sebilah Lidah': Ketika Puisi Menelanjangi Sisi Gelap Manusia Modern
-
Lika-liku Menjadi Tukang Ojek Online: Catatan Harian Bang Ojol
-
Unpopular Opinion: Kita Butuh Cancel Culture yang Lebih Kejam untuk Figur Publik Bermasalah
-
Self Reward sebagai Bentuk Perayaan atau Pemborosan?
-
Fenomena 'Beli Teman' dan Jasa Teman Jalan: Solusi Kesepian atau Modus Terselubung?
Artikel Terkait
-
Review Buku Cerita Buat Para Kekasih: Cinta Tak Selalu Berakhir Bahagia
-
Review Cherophobia: Takut Bahagia Justru Menjauhkan Kita dari Kebahagiaan
-
Jangan Lupa Bahagia: Tamparan Realita Hidup Generasi Sandwich
-
Bahagia Tanpa Kita: Melepas Kemelekatan dari Hal yang Paling Dicinta
-
Fenomena Solo-Maxxing, Menjadi Lajang Bukan Lagi Sebuah Kegagalan
Kolom
-
Stigma Tubuh Perempuan dan Warisan Tabu dalam Bahasa Sehari-hari
-
Ketika Estetika Membuat Barang Kehilangan Umur Pakainya
-
Bisingnya Knalpot RX King: Mempertanyakan Ulang 'Hak Atas Kota' Warga Jogja
-
Demi Korban atau Selamatkan Muka? Menelanjangi Borok Penanganan Kasus di SMAN 1 Sentolo
-
Demo Mahasiswa UINSA: Tuntut Transparansi Rektorat Tanpa Harus Merugikan Rekan Sendiri
Terkini
-
Humor yang Membunuh Sains: Menyoal Sentilan Prabowo dan Narasi Anti-Intelektual
-
Bye Jerawat Meradang! 4 Hybrid Sunscreen Heartleaf Kontrol Produksi Sebum
-
Heboh Pernikahan Andre Taulany dan Amanda Rigby: Ketika Selisih Usia Jadi Cermin Standar Ganda Kita
-
FIFA ASEAN Cup: Pertaruhan Hidup-Mati Bagi John Herdman di Timnas Indonesia
-
Review Film Soulmate: Pahami Bahwa Belahan Jiwa Tak Selalu Kekasih Romantis