Ternyata FOMO ada gunanya juga. Gara-gara melihat foto Sungai Bogowonto yang sedang surut berseliweran di media sosial, saya jadi penasaran. Foto-fotonya membuat dasar sungai terlihat seperti tempat yang jauh dari Purworejo, padahal lokasinya masih dekat dengan rumah. Awalnya saya hanya bertanya-tanya, memangnya sebagus itu? Akhirnya, saya datang untuk melihatnya sendiri.
Selama ini Sungai Bogowonto mungkin hanya terlihat seperti sungai biasa bagi orang yang sering melewati jembatannya. Ketika debit air tinggi, dasar sungai tentu tidak terlihat. Namun, saat musim kemarau tiba dan air menyusut, bagian yang selama ini tertutup perlahan menunjukkan bentuk aslinya.
Di kawasan Pangen Juru Tengah, misalnya, dasar sungai berubah menjadi hamparan bebatuan dengan bentuk yang cukup unik. Ada batuan berlapis dan bertingkat seperti undakan, cekungan, hingga bagian yang masih dialiri air tipis. Dari dekat, teksturnya bahkan sedikit mengingatkan saya pada Grand Canyon, meskipun tentu saja bukan dari segi ukuran maupun kemegahannya. Yang menarik adalah pola dan lapisan batuannya yang terbentuk secara alami dari proses aliran air.
Secara geografis, Sungai Bogowonto memiliki panjang sekitar 67 kilometer dan mengalir dari wilayah Wonosobo ke selatan hingga bermuara di Samudra Hindia. Alirannya melewati sejumlah wilayah di Purworejo, sehingga sungai ini menjadi salah satu bagian penting dari bentang alam daerah tersebut. Karakter sungainya pun berbeda-beda di setiap titik, sehingga tidak semua bagian akan memperlihatkan pemandangan bebatuan seperti di Pangen Juru Tengah.
Yang menarik, lokasi ini cukup mudah dijangkau. Jalan menuju kawasan sungai tidak membutuhkan perjalanan yang melelahkan, dan jika masih bingung mencari akses, warga sekitar bisa menjadi sumber informasi paling mudah. Di bagian atas kawasan sungai juga terdapat kafe. Jadi, tidak harus turun langsung ke dasar sungai untuk menikmati suasananya. Duduk sambil ngopi dan melihat bentang Sungai Bogowonto dari atas juga bisa menjadi pilihan.
Namun, kalau ingin turun dan melihat bebatuan dari dekat, tetap perlu berhati-hati. Batu bisa licin dan beberapa bagian memiliki cekungan yang tidak selalu terlihat dari permukaan. Musim kemarau memang membuat Bogowonto memperlihatkan wajah yang berbeda, tetapi sungai tetap perlu diperlakukan dengan hati-hati.
Tak Semua Bagian Kering, Ada Spot Mancing Juga
Jika ingin datang, musim kemarau menjadi waktu yang menarik untuk melihat bagian dasar Sungai Bogowonto seperti ini. Namun tetap perlu memperhatikan kondisi sungai karena batu-batunya bisa licin. Saya sendiri sempat mengalaminya. Niat awalnya datang untuk mencari foto yang estetis, malah berakhir terpeleset dan basah kuyup. Jadi, jangan terlalu sibuk mencari angle foto sampai lupa memperhatikan pijakan. Di sisi lain, tidak semua bagian Bogowonto sedang kering. Ada bagian sungai yang airnya masih cukup banyak dan justru sering dimanfaatkan warga sebagai spot memancing.
Kalau memang suka memancing, bisa sekalian membawa joran dan menikmati suasana sungai dari sana. Jadi, mau turun mencari bentuk-bentuk bebatuan yang unik atau sekadar duduk santai sambil memancing, Sungai Bogowonto tetap punya sisi yang bisa dinikmati dengan caranya masing-masing. Jadi, kalau belakangan ini kamu juga melihat foto Sungai Bogowonto yang sedang surut dan mulai merasa FOMO, mungkin memang tidak ada salahnya datang sendiri untuk membuktikannya.
Bonus Foto: Jangan Ditiru, Ini Cuma Gaya-Gayaan
Di titik ini saya sempat terpeleset saat mengambil foto dan berakhir basah kuyup. Meski begitu, airnya masih jernih, ikan-ikan kecil pun terlihat berenang, tanda sungai ini masih cukup terjaga dari pencemaran limbah.
Baca Juga
-
The Magician's Nephew: Menelusuri Penciptaan dan Asal Mula Dunia Narnia
-
Jika 1984 Adalah Dunia yang Dikendalikan, Lalu Apa Itu Dunia dalam IQ84?
-
The Dragon Republic: Dari Pejuang Menjadi Bidak dalam Permainan Kekuasaan
-
Pahlawan Tanpa Tanda Tangan: Menertawakan Hal-Hal Kecil di Sekitar Kita
-
The Poppy War dan Representasi Sejarah Tiongkok dalam Balutan Fantasi
Artikel Terkait
-
Gen Z dan FOMO Nonton Konser: Bukan Cuma Hiburan, Tapi Membeli Pengalaman
-
Usai Festival Literasi Kutoarjo, OUT OF THE BOOX Kini Ramaikan Purworejo
-
Festival Literasi Purworejo 2026: Dari Buku hingga Karya Seniman Lokal
-
HUT ke-81 RI dan Merdeka dari FOMO: Saatnya Berhenti Mengikuti Semua Tren!
-
Menikmati Niten dari Jalan Sawah hingga Rimbun Tabebuya yang Mekar
Ulasan
-
Ulasan Drakor Snowdrop: Debut Akting Jisoo Blackpink yang Tercoreng Kontroversi
-
Ketika Mengompol Jadi Cerita Lucu: Ulasan How to Pee Your Pants
-
Di Antara Pelarian, Prasangka, dan Cinta dalam Novel Honor Bound
-
Review Bartender Glass of God: Mengobati Luka Jiwa Lewat Segelas Koktail
-
Review Reacher Season 3: Kembalinya Sang Serigala Penyendiri yang Tangguh!
Terkini
-
Indonesia Dapat Kategori E untuk Kesejahteraan Hewan, Kok Bisa?
-
Fenomena Lifestyle Inflation: Saat Pendapatan Bertambah Tapi Dompet Tetap Menjerit
-
5 Serum Kombinasi Peptide dan Retinol untuk Kulit Kencang dan Bebas Kerutan
-
Politik Burung Unta Pemerintah: Ilusi Keberhasilan yang Menutup Realita
-
Netflix Umumkan Anime Baru hingga Tanggal Tayang Cyberpunk: Edgerunners 2