Lintang Siltya Utami | Oktavia Ningrum
Ilustrasi Gempa (Unsplash/@oskaycaglar)
Oktavia Ningrum

Jangan kebanyakan konsumsi berita negatif. Paparan berita buruk secara terus-menerus memang dapat membuat seseorang lelah secara emosional. Istilah doomscrolling bahkan digunakan untuk menggambarkan kebiasaan terus-menerus mengonsumsi informasi negatif, dan sejumlah penelitian mengaitkannya dengan tekanan psikologis. Namun, ada persoalan ketika nasihat tersebut berubah menjadi sikap. Jangan terlalu banyak melihat berita buruk karena membuat kita tidak nyaman.

Sebab berita negatif bukan sekadar berita. Di balik kata “banjir” ada rumah yang terendam. Di balik kata “gempa” ada orang yang kehilangan tempat tinggal. Di balik “erupsi” ada warga yang harus mengungsi. Di balik “kebakaran” ada keluarga yang mungkin kehilangan harta benda. Di balik “keracunan massal” ada orang yang jatuh sakit dan keluarga yang panik mencari pertolongan. Mereka bukan sekadar angka dalam laporan berita.

BNPB, misalnya, masih mencatat berbagai kejadian bencana di Indonesia sepanjang 2026, mulai dari banjir, gempa, kebakaran hutan dan lahan, hingga kekeringan. Pada Juni 2026, banjir di Aceh Barat dilaporkan berdampak pada 300 jiwa dan 130 rumah, sementara gempa M6,7 di Sulawesi Tengah berdampak pada ribuan keluarga.

Artinya, ketika sebuah berita muncul di layar ponsel kita selama tiga puluh detik, bagi orang lain peristiwa tersebut bisa menjadi pengalaman yang mengubah hidup. Karena itu, menghindari banyak berita negatif tidak seharusnya berarti berpaling dari kenyataan.

Kita boleh membatasi konsumsi berita agar kesehatan mental tetap terjaga. Kita tidak harus menonton semua video bencana, membaca setiap komentar, atau mengikuti perkembangan sebuah tragedi selama 24 jam. Mengatur batas informasi adalah hal yang wajar. Tetapi menjaga kesehatan mental tidak sama dengan mematikan empati.

Justru masalah muncul ketika kita mulai menganggap berita buruk sebagai sesuatu yang mengganggu kenyamanan semata. Ketika banjir di daerah lain dianggap bukan urusan kita. Ketika masyarakat terkena bencana dianggap terlalu banyak mengeluh. Ketika kritik terhadap penanganan pemerintah dianggap sebagai kebencian. Atau ketika masyarakat diminta hanya melihat sisi positif sementara orang lain sedang berhadapan dengan persoalan nyata.

Di sisi lain, mengapresiasi pemerintah dan mengkritik pemerintah bukan dua hal yang harus saling meniadakan. Ada banyak pekerjaan pemerintah yang memang layak diapresiasi ketika berhasil dilakukan. Dalam penanganan bencana, misalnya, BNPB dan BPBD bersama unsur lain tercatat melakukan evakuasi, pemadaman, pendataan, distribusi bantuan, hingga penanganan darurat di berbagai daerah.

Apresiasi terhadap kerja tersebut penting. Tetapi apresiasi tidak berarti semua persoalan harus ditutup-tutupi. Kalau penanganan berjalan baik, katakan baik. Kalau ada petugas yang bekerja keras, hargai. Kalau bantuan tiba tepat waktu, apresiasi. Tetapi jika ada kekurangan, masyarakat juga berhak membicarakannya. Kritik terhadap kekurangan bukan otomatis berarti membenci pemerintah. Justru pemerintahan yang bekerja untuk masyarakat membutuhkan informasi tentang apa yang belum berjalan dengan baik.

Kita juga perlu berhenti menganggap berita positif sebagai satu-satunya bentuk informasi yang sehat. Berita tentang keberhasilan memang menyenangkan. Tetapi berita tentang kegagalan, bencana, kemiskinan, pencemaran, kecelakaan, atau kesulitan masyarakat juga memiliki fungsi penting: membuat masalah terlihat. Sesuatu yang terlihat dapat dibicarakan. Sesuatu yang dibicarakan dapat ditelusuri. Dan sesuatu yang diketahui publik memiliki peluang lebih besar untuk mendapatkan perhatian dan perbaikan.

Maka, persoalannya bukan apakah kita harus mengonsumsi berita negatif atau positif. Yang lebih penting adalah bagaimana kita mengonsumsinya. Jangan sampai kita tenggelam dalam berita buruk hingga kehilangan ketenangan. Tetapi jangan pula terlalu sibuk menjaga kenyamanan sampai kehilangan kepedulian.

Karena bagi kita, sebuah bencana mungkin hanya satu berita yang lewat di layar. Bagi orang lain, itu adalah rumah yang hilang, keluarga yang cemas, tubuh yang terluka, dan hidup yang harus dimulai kembali. Maka, mungkin kita perlu mengingat satu hal. Berita itu negatif bagi kita karena membuat tidak nyaman. Tetapi bagi mereka yang mengalaminya, itu bukan berita. Itu kehidupan nyata.