M. Reza Sulaiman | Dimas Rahmat Naufal Wardhana
Ilustrasi Kunang-kunang bercahaya di Hutan (pexels.com/Danila Popov)
Dimas Rahmat Naufal Wardhana

Pernahkah kamu teringat kenangan masa kecil saat malam hari di pekarangan rumah, lalu melihat kelip-kelip lampu mungil berwarna kekuningan menari indah di kegelapan? Ya, saat itu kita melihat serangga cantik kunang-kunang. Sayangnya, momen tersebut kini seolah berubah menjadi cerita nostalgia yang makin sulit kita temui.

Jika kamu mencoba melangkah keluar rumah pada malam hari sekarang, rasanya hampir mustahil melihat tarian kilau kecil mereka. Kenyataan pahit ini membuktikan bahwa kunang-kunang jarang terlihat karena lingkungan yang buruk, dan ketiadaan mereka menyampaikan pesan peringatan serius mengenai kondisi kesehatan bumi tempat kita tinggal.

Mungkin kamu sempat mengira serangga unik ini hanya sekadar berpindah tempat atau bersembunyi sementara. Namun, fakta menunjukkan hal yang jauh lebih mengkhawatirkan. Saat kita memperhatikan lingkungan sekitar, banyak taman atau kebun tidak ada kunang-kunang karena lingkungan yang sudah terdistorsi hebat oleh aktivitas manusia.

Lahan hijau terbuka yang dahulu lembap tempat larva kunang-kunang tumbuh kini berganti menjadi hamparan beton, semen, dan aspal gersang. Ditambah lagi dengan pencemaran tanah serta paparan pestisida kimia, ruang hidup makhluk kecil penerang malam ini kian jarang terlihat hingga menuju batas kritis.

Mari kita ulas fakta ilmiahnya lebih mendalam agar kita memahami apa yang sedang terjadi. Berdasarkan laporan riset ekologi global dalam jurnal Science of The Total Environment serta pembaruan status konservasi IUCN per September 2026, hampir satu dari tiga spesies kunang-kunang di dunia kini terancam kepunahan.

Para ahli mengidentifikasi tiga ancaman utama yang memicu krisis ini disebabkan hilangnya habitat alami, penggunaan pestisida kimia masif, dan tingginya polusi cahaya malam hari (Artificial Light at Night atau ALAN).

Sebagai satwa nokturnal, kunang-kunang sangat mengandalkan pancaran cahaya bioluminesensi tubuhnya untuk berkomunikasi dan menarik perhatian pasangan. Sayangnya, gempuran sinar lampu jalan, papan reklame, hingga kilauan lampu LED kota memicu polusi cahaya berlebih yang mengaburkan sinyal percintaan kunang-kunang.

Kunang-kunang jantan dan betina menjadi linglung di habitatnya serta gagal saling menemukan. Riset menunjukkan bahwa polusi cahaya dapat menurunkan keberhasilan reproduksi kunang-kunang hingga lebih dari 50 persen. Tanpa perkawinan yang berhasil, populasi generasi baru kunang-kunang pun runtuh secara drastis dalam waktu singkat.

Di balik alasan kebun dan taman kota tak lagi menyala, mengutip dari penjelasan pakar keanekaragaman hayati IPB University, fenomena banyak taman atau kebun tidak ada kunang-kunang karena lingkungan modern cenderung mengedepankan estetika bersih secara visual, tetapi mengabaikan keseimbangan biologis.

Taman kota masa kini umumnya ditata rapi dengan membuang seluruh tumpukan daun kering membusuk, serta rutin disemprot insektisida sintetik agar terhindar dari serangga penjelajah. Padahal, siklus hidup kunang-kunang sebagian besar dihabiskan dalam wujud larva di atas tanah lembap, serasah daun, dan bantaran sungai.

Penggunaan pestisida seperti neonicotinoid tidak hanya membunuh hama sasaran, tetapi juga meracuni larva kunang-kunang di dalam tanah. Ketika tanah taman dipadatkan, disiram bahan kimia, dan dibersihkan dari material organik, larva kunang-kunang mati sebelum sempat tumbuh dewasa dan mengepakkan sayap berkilaunya.

Kehadiran kunang-kunang sebenarnya bukan sekadar penghias malam yang romantis belaka. Ada peran hewan kunang-kunang untuk lingkungan yang amat vital dalam menjaga keseimbangan ekosistem bumi kita.

Pertama, kunang-kunang berfungsi sebagai bioindikator alami kualitas lingkungan yang peka. Ketika suatu daerah masih dipenuhi kelip cahaya kunang-kunang, itu merupakan bukti otentik bahwa udara, air, dan tanah di lingkungan tersebut masih murni serta belum tercemar limbah berbahaya atau racun kimia.

Kedua, pada fase larva, kunang-kunang adalah predator alami yang tangguh dalam mengendalikan populasi hama tanaman. Larva kunang-kunang memangsa siput racun, bekicot kecil, serta cacing perusak tanaman yang merugikan sektor pertanian.

Tanpa hadirnya larva kunang-kunang, populasi hama tanaman bisa melonjak tak terkendali. Selain itu, beberapa spesies kunang-kunang dewasa juga bertindak sebagai polinator alami yang membantu proses penyerbukan berbagai jenis bunga dan tumbuhan liar di ekosistem hutan basah.

Melihat betapa pentingnya keberadaan makhluk mungil ini, sudah saatnya kita mulai peduli dan mengambil tindakan nyata. Menjaga lingkungan agar kembali ramah bagi keberlanjutan hayati bisa kita mulai dari pekarangan rumah sendiri.

Coba kurangi penggunaan lampu luar yang menyala terang benderang sepanjang malam, atau gunakan tudung lampu mengarah ke bawah agar cahayanya tidak tersebar liar.

Selain itu, batasi penggunaan pestisida kimia di kebun rumah dan biarkan sedikit sudut taman memiliki tumpukan dedaunan alami yang lembap. Langkah kecil ini memberikan perlindungan aman bagi larva kunang-kunang untuk menyelesaikan siklus hidupnya.

Jangan sampai generasi mendatang hanya bisa menikmati cerita indah dan tidak bisa melihat kunang-kunang melalui lembaran buku atau layar gawai semata. Mari kita jaga bersama kelestarian lingkungan agar tarian cahaya malam ini tidak padam selamanya dari muka bumi.