Belakangan ini muncul tren baru lagi di media sosial, joki baca buku. Mungkin, jasa ini dibutuhkan oleh beberapa orang yang memiliki setumpuk buku di raknya namun tidak memiliki cukup waktu untuk membacanya.
Jasa ini cukup menguntungkan. Dibanderol dengan harga ratusan ribu hingga jutaan, untuk membuat buku orang lain terlihat seolah sudah dibaca, mulai dari anotasi, catatan, penempelan sticky notes, hingga perusakan punggung buku. Beberapa menawarkan jasa foto-foto estetik untuk orang yang hanya ingin 'memberi makan' beranda media sosialnya agar dipandang cerdas oleh para pengikutnya.
Kemunculan jasa ini menimbulkan pertanyaan, apakah orang Indonesia semalas itu untuk membaca buku? Atau justru menjadi peluang usaha untuk para kutu buku?
Baca Buku Jadi Bagian dari Kebiasaan atau Tren Semata?
Joki baca buku ini sebenarnya cukup membantu orang yang memang benar-benar ingin mengetahui isi buku tanpa berlama-lama membacanya. Beberapa layanan menawarkan pembacaan lengkap, highlight, sticky notes, hingga rangkuman yang dapat membantu pemilik buku memahami isinya tanpa harus membaca seluruh buku sendiri.
Hal ini jadi berbeda ketika jasa ini digunakan untuk membangun kesan sebagai kutu buku atau performative reading. Buku akhirnya bukan hanya menjadi sumber bacaan, tetapi juga bagian dari citra yang ingin ditampilkan kepada orang lain. Perhatian kemudian lebih banyak tertuju pada pandangan orang lain terhadap dirinya daripada pelajaran yang bisa didapat dari sebuah buku. Di sini, esensi membaca mulai bergeser, dari mencari ilmu menjadi tren untuk melabeli diri semata.
Apakah Joki Baca Buku Pertanda Literasi Menurun?
Kemunculan tren joki baca buku ini kemudian dikaitkan dengan pertanyaan tentang tingkat literasi orang Indonesia. Pasalnya, muncul anggapan bahwa tren ini menunjukkan kemalasan dan keinginan untuk memahami isi buku secara instan. Hal ini terlepas dari tujuan yang ingin dicapai, baik untuk mengetahui isi buku maupun sekadar memenuhi kebutuhan media sosial.
Saat membaca, kita tidak hanya dituntut untuk menyelesaikan sebuah buku. Kita juga harus bisa mengambil hal-hal penting dari susunan kata dan kalimat di dalamnya. Jika proses tersebut dilakukan oleh orang lain, bagaimana kemampuan berpikir kritis bisa terasah? Orang yang menggunakan jasa joki baca seakan disuapi informasi tanpa pernah tahu bagaimana cara mendapatkannya.
Oleh karena itu, yang jadi persoalan tentang literasi adalah bukan seseorang itu membaca buku itu atau tidak. Tetapi, apakah orang tersebut menjalani proses memahami dan merefleksikan bacaan tersebut secara mandiri. Karena literasi bukan hanya tentang kemampuan membaca, tetapi juga bagaimana kita bisa meresapi isi bacaan dan merefleksikannya ke dalam kehidupan.
Jadi Hobi yang Menghasilkan untuk si Bookworm
Di balik orang-orang yang terbantu dengan jasa ini, ada pihak yang diuntungkan juga. Orang yang memiliki hobi membaca tidak lagi memandang baca buku sebagai hobi, tetapi kini bisa menjadikannya sebagai pekerjaan sampingan. Para kutu buku tak perlu repot-repot membeli buku atau meminjamnya ke perpustakaan. Mereka cukup menyediakan jasa membaca yang sekaligus memenuhi hobi mereka.
Fenomena ini juga menunjukkan bagaimana media sosial dapat menciptakan pasar baru dari aktivitas yang sebelumnya dilakukan secara pribadi. Ketika kebutuhan untuk membaca, membuat konten, dan membangun citra sebagai pembaca bertemu, muncul peluang bagi orang-orang yang memang memiliki kemampuan dan waktu untuk membaca buku.
Kemunculan tren ini menimbulkan beberapa kontroversi, salah satunya terkait isu literasi. Apalagi, dengan adanya media sosial dan personal branding, orang bisa lebih mementingkan citra diri dibandingkan ilmu dan pengalaman yang didapat dari membaca. Namun, terlepas dari itu, jasa ini membuka kesempatan untuk bookworm mengubah hobi menjadi sumber cuan. Tertarik untuk coba jasa ini? Atau jadi penyedia jasanya?
Baca Juga
-
5 Rekomendasi Drakor Komedi dengan Humor Absurd, Dijamin Bikin Ngakak!
-
5 Bahan Makanan Tradisional yang Kini Mendunia, Ada Matcha hingga Ube!
-
Rasisme di Like a Winding Sheet: Siapa yang Salah, Siapa yang Kena Marah?
-
Padmaavat: Saat Perempuan Memilih Lenyap daripada Jatuh ke Tangan Lelaki
-
Viral Dibikin Seblak hingga Cookie, Ini 4 Bedanya Umbi Kimpul dan Talas Biar Nggak Salah Beli
Artikel Terkait
Kolom
-
Jeda dari Media Sosial: Kita Tetap Baik-baik Saja Tanpa Update Setiap Hari
-
Usia 20-an Bukan Batasan: Kita Boleh Melangkah Lebih Pelan saat Dunia Sibuk Berlari
-
Fase Menganggur Bukan Berarti Tertinggal: Seni Menikmati Ruang Kosong Setelah Wisuda
-
Tentang Masa Depan yang Belum Terjadi dan Pikiran yang Sibuk Khawatir
-
Bahaya Brain Rot: Ketika Video Singkat Mengikis Fokus dan Daya Kritis
Terkini
-
Review Film Fall (2022): Saat Ketinggian Ekstrem Membongkar Rahasia dan Trauma Terkelam
-
Fenomena Information Overload: Terlalu Banyak Informasi, Terlalu Minim Jeda
-
Intip Sinopsis Street Fighter, Tayang 14 Oktober di Bioskop Indonesia
-
Bukan Earbud Biasa, Baseus MC2 NC Bawa ANC dan Baterai 60 Jam
-
Mengulas Film 'Fall 2: Deadpoint' dan Ketakutan yang Tidak Selesai