Kolom

Viral Guru AI IELTS Mengamuk, Benarkah Kecerdasan Buatan Mulai Punya Perasaan?

Viral Guru AI IELTS Mengamuk, Benarkah Kecerdasan Buatan Mulai Punya Perasaan?
Ilustrasi robot berteknologi kecerdasan buatan (Shutterstock).

Berkembangnya kecerdasan buatan di era saat ini sering kali menciptakan sebuah produk luar biasa yang tidak disangka-sangka. Salah satu produk tersebut menghasilkan platform bernama GoPrep yang sebelumnya pada Juli lalu meluncur di App Store dengan nama IELTS.GG.

Sebelum adanya perubahan identitas, fitur kecerdasan buatan interaktif sebenarnya sudah ada sejak lama. Namun, berbagai video di algoritma media sosial akhir-akhir ini sering menampilkan seseorang sedang melakukan interaksi dengan guru IELTS di platform tersebut yang sesekali menyelipkan lelucon praktis hingga membuat guru menjadi marah, kesal, sedih, dan kecewa.

Uniknya, karakter yang disebut Preppy pada platform ini terlihat begitu cair saat diajak berkomunikasi oleh pengguna. Ia seolah-olah terlihat mampu mengekspresikan perasaan yang sedang dialami.

Lantas benarkah Preppy memiliki perasaan yang sama seperti manusia pada umumnya? Jawabannya, tentu saja tidak. Kondisi ini umumnya disebabkan oleh manusia yang cenderung menganggap benda mati atau teknologi memiliki pikiran dan perasaan karena seakan-akan memiliki kedekatan emosional.

Dalam ranah ilmiah, ilusi ini dinamakan antropomorfisme (menganggap sesuatu yang bukan manusia justru mempunyai perasaan seperti halnya manusia).

Sebagai contoh, Anda memiliki adik perempuan dan laki-laki. Adik perempuan sering kali berbicara sendiri dengan boneka di kamar atau adik laki-laki memarahi mobil mainan yang rusak setelah baru saja dijalankan.

Mungkinkah Anda langsung menilai bahwa mereka berdua sudah gila? Tentu saja mereka melakukan itu bukan tanpa alasan—ada satu keinginan berbeda yang ingin mereka penuhi, yaitu boneka tersebut bisa menjadi teman bicara dan mobil mainan saat itu juga berfungsi dengan baik.

Sayangnya, keinginan adik-adik Anda tidak akan terpenuhi seketika. Boneka tidak bisa berbicara, mobil mainan tidak mampu memperbaiki dirinya sendiri, dan keduanya sama-sama benda mati.

Meskipun begitu, kondisi antropomorfisme ini justru tergolong normal karena termasuk ke dalam bagian alami dari cara berpikir manusia. Di samping itu, antropomorfisme muncul dalam situasi tertentu di saat manusia sedang merasa kesepian dan diterpa banyak masalah.

Lebih dari itu, perkembangan teknologi yang makin pesat membuat seolah-olah benda mati—anggap saja seperti contoh sebelumnya, yaitu boneka dan mobil mainan justru mampu berbicara—padahal hal tersebut hanyalah hasil dari Large Language Models (LLM), algoritma, dan kecerdasan buatan yang dirancang untuk meniru respons manusia.

Pada akhirnya, kondisi antropomorfisme tidak selamanya baik jika manusia menganggap benda mati sebagai makhluk hidup secara berlebihan atau di luar batas normal.

Tidak ada satu pun kecerdasan buatan yang memiliki pemikiran, perasaan, dan pengalaman subjektif. Sebuah pandangan yang muncul dan menganggap bahwa AI adalah perasa justru membuktikan bahwa otak manusia memang dirancang secara otomatis terpancing dengan kondisi antropomorfisme.

Namun, mengingat sekaligus mempercayai bahwa adanya kecerdasan buatan diperoleh dari hasil campur tangan manusia ialah suatu hal yang amat penting agar diri kita tidak tersesat dan terbawa kondisi emosional.

Sekelas ChatGPT, Gemini, Claude, dan platform kecerdasan buatan lainnya mungkin belum tentu bisa menyaingi GoPrep dari segi kepribadian.

Saat Preppy dibercandai oleh pengguna—bahkan dijawab asal-asalan—ia justru secara spontan terdengar kesal dan marah. Lebih parahnya, Preppy bisa mengeluarkan kata-kata kasar yang tidak pantas untuk diucapkan dalam situasi tersebut.

Meski terdengar spontan, pada aplikasi seperti ini pembuatnya tentu telah menentukan karakter Preppy sejak awal lewat serangkaian instruksi sistem, misalnya seperti apa kepribadiannya, bagaimana gaya bicaranya, dan kapan ia boleh bercanda atau menegur. Ketika pengguna melempar candaan atau menjawab sekenanya, ia hanya memilih respons yang cocok dengan peran tersebut.

Gaya bicara yang terdengar akrab termasuk kata-kata yang kasar menurut sebagian orang bukan menjadi tanda bahwa AI ini benar-benar marah.

Model bahasa dilatih dari tulisan manusia dalam jumlah sangat besar, sehingga ia mengenali bagaimana orang mengomel, menyindir, atau mengumpat dalam percakapan sehari-hari.

Ketika perannya memperbolehkan pola-pola itu dapat dipakai kembali, hasilnya akan terasa lucu dan sungguhan.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda