Rendah diri adalah perasaan bahwa diri terasa kurang, menganggap lebih jago orang lain ketimbang dirinya, sehingga ujungnya bisa saja membuat insecure. Sebenarnya hal lumrah kalau ada penilaian terhadap internal buat diri sendiri. Apakah aku lebih baik dari dia? Hal itu wajar dan memang manusiawi. Namun bukan berarti setelah ada perbandingan tersebut justru membuat kita tidak percaya diri dan menganggap remeh kemampuan yang kita miliki.
Merasa rendah diri itu bisa dipengaruhi banyak faktor, termasuk lingkungan. Seakan tak bisa dipungkiri bahwa nilai diri dipengaruhi oleh lingkungan, pengalaman seakan turut menentukan seberapa berharga dan layak diri kita. Seakan kita bisa berharga tergantung dari perlakuan orang lain yang bisa untuk diandalkan. Oleh karena itu, orang biasanya rendah diri yang ujungnya bisa insecure dapat dipengaruhi berbagai hal, di antaranya lima pengalaman berikut ini:
Kalau kita sering dikritik oleh orang lain terkait penampilan (termasuk masalah fisik) bisa saja membuat kita merasa rendah diri dan kurang berharga. Misalnya dibilang gendutan, kurusan, tinggi dibilang tiang listrik, pendek dibilang cebol, dan komentar fisik lainnya. Kritik seperti itu bukan kritik yang membangun tetapi kritik yang menjatuhkan.
Sejatinya kritik harus dapat meningkatkan semangat dan dorongan untuk terus belajar, bukan kritik masalah fisik yang memang itu sudah menjadi nasib. Oleh karena itu, penting saat menyampaikan kritik dengan tidak mengkritik masalah fisiknya, tetapi mengkritik yang memang bisa membangun.
2. Dipaksa menurut tetapi disalahkan keputusannya
Mungkin ada yang pernah mengalami pengalaman serupa, misalnya maunya ambil jurusan IPS tetapi dipaksa ambil jurusan IPA. Menentukan jurusan berdasarkan pilihan sendiri juga tidak boleh, dan harus sesuai keinginan orang tua.
Bahkan saat sudah berkeluarga pun, keputusan jumlah anak, cara melahirkan, dan lain sebagainya ada saja yang suka menyalahkan. Pengalaman seperti ini bisa saja membuat insecure pada keputusan sendiri, dan akhirnya malah bergantung pada orang lain.
3. Diharuskan minta maaf duluan
Belajar minta maaf itu adalah hal bagus jika dalam konteks dan kadar yang tepat. Tetapi kalau tidak salah malah disuruh untuk meminta maaf, maka jangan heran jika tumbuh menjadi orang yang rendah diri, merasa bahwa kebutuhan dan suaranya dianggap tidak penting, dan cenderung segera meminta maaf untuk menghindari konflik (bukan karena menyadari kesalahan). Pengalaman disuruh minta maaf walau tidak bersalah justru dapat membuat manusia diperbudak dan tentu akan selalu merasa rendah diri ketika terjadi apa-apa, walau bukan dia yang salah.
4. Dipermalukan kesalahannya
Selalu dituntut sekali coba harus berhasil, tidak ada ruang untuk berbuat salah, pokoknya harus berhasil. Sekalinya gagal, malah dicerita dan menjadi bahan ejekan, bahkan dipermalukan. Akibatnya orang yang diperlakukan seperti itu akan merasa insecure, minder, takut mencoba, dan takut gagal. Merasa bahwa dirinya tidak berarti apa-apa dan keberhasilan yang telah dicapai tidak berguna, hanya karena sekali berbuat salah, malah seluruh keberhasilannya pun hangus total.
5. Ditinggal pas lagi sayang-sayangnya
Ternyata bukan hanya gebetan yang bisa meninggalkan pas lagi sayang-sayangnya. Misalnya pengalaman di waktu kecil yang ditinggal orang terpenting (seperti orang tua), bisa saja membuat perasaaan rendah diri, kurang berharga, dan kurang dicintai.
Mungkin kita akan mengatakan “orang terdekat saja yang seharusnya mencintai aku nyatanya juga meninggalkan aku. Berarti aku memang tidak seberharga itu ya?” Pengalaman seperti itu bisa membekas dalam otak dan tentunya dapat membuat rendah diri.
Itulah lima pengalaman yang dapat membuat rendah diri, semoga perasan rendah diri dapat kita rubah dengan sikap percaya diri dan optimis. Kabar baiknya, cara pandang terhadap diri sendiri mesti harus dirubah. Bagaimana pun kisah masa lalu kita, tetap kita adalah manusia yang mempunyai pilihan. Kita mesti berupaya untuk bisa keluar dari rendah diri, meskipun itu secara perlahan saja.
Baca Juga
-
Bekerja Tanpa Karier: Ketika Naik Jabatan Tak Lagi Menggoda
-
Healing ke Mana-mana, Pulang-pulang Tetap Ingin Resign
-
Kerja Sosial: Saat Negara Mulai Kapok Memenjarakan Semua Orang
-
Antara Jurnal Scopus dan Kerokan: Membedah Pluralisme Medis di Indonesia
-
Berdamai dengan Keresahan, Cara Menerima Diri Tanpa Perlu Jadi Motivator Karbitan
Artikel Terkait
Lifestyle
-
4 Sheet Mask dengan Efek Poremizing Bikin Pori-Pori Kecil dan Kontrol Sebum
-
Youthful Vibes, 4 Ide OOTD Kekinian ala Kya KiiiKiii Wajib Kamu Sontek!
-
4 Rekomendasi HP Layar Lengkung Terbaik 2026, RAM Besar Harga Mulai Rp 2 Jutaan
-
Huawei Nova 14i Diluncurkan di Hong Kong, Andalkan Chipset Snapdragon 680 dan Penyimpanan 256 GB
-
4 Tinted Sunscreen SPF 50 untuk Proteksi Maksimal dan Kulit Glowing Sehat
Terkini
-
Review Film Warrior (2011): Drama Keluarga Mengharukan di Balik Ring MMA
-
Di Balik Kasus Epstein: Rahasia Gelap di Balik Jas Mahal Para Elite
-
Arsip Perpustakaan yang Tak Ingin Ditemukan
-
Toko Pensil yang Menggambar Masa Depan
-
Mengapa Pemain Lokal Enggan Abroad? Sorotan Mentalitas dari Eks Striker Naturalisasi Timnas