Candra Kartiko | Dwi Handriyani
ilustrasi Pernikahan. (Pexels/Trung Nguyen)
Dwi Handriyani

Bukan suatu perkara yang mudah memang untuk merawat suatu ikatan pernikahan yang bisa berlangsung tahunan hingga puluhan tahun lama.

Rasa manis, pahit, asem, asin pastinya kerapkali mewarnai perjalanan hidup penyatuan dua insan yang berbeda didalam hubungan yang direstui Tuhan dan Negara.

Lalu, bagaimanakah agar dua insan yang berbeda bisa terus harmonis bertahun-tahun lamanya di dalam ikatan pernikahan. Simak 4 kiat di bawah ini upaya menjaga kelanggengan rumah tangga dari pasangan yang extrovert(blak-blakan, ekspresif) dan introvert(tertutup, cenderung pendiam).

Kiat Menjaga Keharmonisan Rumah Tangga dari Pasangan Extrovert-Introvert

Keluarga dari Pasutri Berkepribadian Extrovert-Introvert. (Dok. Pribadi/dwi handriyani)

1. Yakinkan Diri bahwa Dia adalah Pasangan yang Tepat untukmu

Sesuai janji Tuhan, Dia menciptakan makhluk hidup di dunia ini berpasang-pasangan. Untuk pemaknaan kalimat tersebut dikembalikan lagi kepada keilmuan dan pemahaman dari masing-masing orang.

Namun, belajar dari pengalaman, ketika diri ini sudah menemukan dan meyakini bahwa orang itu adalah pasangan yang Tuhan kirimkan, banyak berdoa dan kuatkan tekad untuk terus melaju ke level yang serius.

Apalagi yang terkait dengan pernikahan, bukan sekedar hubungan lucu-lucuan. Kalau di Indonesia, dua orang yang menikah seperti menikahi paguyuban sebuah keluarga, hehe.

Namun, untuk urusan keluarga inti menjadi kesepakatan dan tanggun jawab bersama antara pasangan suami-istri (pasutri).

2. Belajar saling Mengenali, Mengerti, dan Memahami Hal-hal Apa Saja yang Menjadi Kesukaan dan Ketidaksukaan Pasangan

Pasangan bumi dan langit ini di dalam perjalanan penjajakan dan pernikahan perlu saling mempelajari apa-apa saja yang menjadi kesukaan dan ketidaksukaan satu sama lain. Makanan, minuman, parfum, hobi, kebiasaan sehari-hari, musik, film, dll, yang menjadi favorit pasangan kita.

Yang berkepribadian extrovert, biasanya dari sekedar mengamati bicara dan tingkah laku pasangannya yang introvert, mereka tidak sungkan menanyakan langsung kepada yayangnya.

Demikian pula, jika si extrovert ingin diperhatikan oleh si introvert. Biasanya mereka juga tidak gengsi menunjukkan bahwa mereka ingin didengarkan dan dimanjakan oleh pasangannya yang introvert.

Paling tidak, belajar mengamati, mendengar, menanyakan, menjadi sesuatu upaya agar kebucinan pasangan kita terus terjaga. Pribadi introvert yang cuek, bukan berarti kurang peduli, kurang cinta, dll.

Akan tetapi, pasangan kita yang introvert memang sulit mengekspresikan dengan kata-kata dan mimik, serta mencari momentum yang tepat untuk memanjakan. 

3. Saat Emosi dan Marah, Salah Satu Pihak harus ada yang Mengalah

Disatukan dalam hubungan yang dilegalkan oleh Agama dan Negara, kelanggengan hubungan diuji ketika salah satu pihak ada yang kecewa dan marah kepada pasangannya. Saat tidak sefrekuensi, mengalah adalah kunci dari menjaga keharmonisan hubungan.

Dalam kondisi ini, biasanya si extrovert mencoba mengalah dengan berdiam diri - tidak marah ketika pasangan telah membuatnya sedih dan kecewa.

Kondisi yang terbalik saat si introvert kecewa dan marah, biasanya mereka cenderung mengekspresikan dengan mengeluarkan kata-kata berintonasi tinggi dan mimik yang emosional.

Sebab, jika dua orang yang berpasangan saat kondisi emosi, tidak ada yang mengalah, tidak menahan diri, yang terjadi adalah perkelahian. 

Demikian pula, saat emosi sudah mereda, salah satu pihak jangan gengi untuk meminta maaf terlebih dahulu. Intropeksi bersama dan berdoa yang khusyuk demi masa depan keluarga.

4. Transparansi dengan Membuka Diskusi

Masalah finansial dan pendidikan anak-anak kerapkali menjadi ganjalan di antara pasutri. Jangan dibebankan kepada salah satu pihak saja, misalnya urusan pendidikan anak-anak hanya kepada istri dan urusan finansial keluarga hanya kepada suami.

Hal-hal itu adalah tanggung jawab bersama antara suami-istri yang telah menjadi orang tua. Transparansi dan diskusikan jika ada permasalahan yang menyangkut hal tersebut.

Jika terkait gangguan dari pihak ketiga, entah itu dari gangguan dari keluarga besar, WIl (wanita idaman lain) atau PIL (pria idaman lain), coba kondisikan waktu dan tempat yang tepat apabila ingin mencari solusinya.

Misalnya jika masih satu rumah dengan mertua ataupun ipar dan sering terjadi gesekan, segera pindah rumah yang sesuai kemampuan ekonomi . Bisa mengontrak atau menyicil membeli rumah.

Nah, apabila terkait WIL atau PIL, penyelesaiannya disituasikan dengan kondisi pasangan dan anak-anak. Hindari keributan yang dapat diketahui anak-anak dan lingkungan sekitar. Lagi-lagi memang waktu dan tepat yang tepat untuk menyelesaikan hal ini.

Nah, itulah sedikit tips dari kami, pasangan extrovert dan introvert selama 14,5 tahun yang sudah mengarungi kehidupan bersama. Tetap semangat dan jangan putus asa ya untuk merawat kelanggengan hubungan ya!