Kalau dulu orang bilang literasi identik dengan perpustakaan, buku tebal, atau karya sastra klasik, sekarang lain lagi ceritanya. Literasi saat ini bisa muncul dari mana saja, bahkan dari hal-hal yang mungkin nggak pernah kita anggap serius, kaya sebuah tweet receh, komentar random di YouTube, atau bahkan caption Instagram yang lebih panjang dari skripsi. Dunia digital bikin definisi teks jadi lebih fleksibel, dan kadang bikin kita bengong, “Eh, ini serius bisa disebut karya sastra juga?”
Dan jawabannya, kenapa nggak?
Mari kita ngomongin Twitter atau X. Sejak lama platform ini jadi tempat orang curhat singkat. Tapi siapa sangka, batasan 280 karakter justru melahirkan kreativitas gila-gilaan. Ada thread-thread panjang yang dibikin dengan struktur rapi, hampir mirip cerpen bersambung. Bahkan beberapa akun sengaja bikin puisi Twitter dengan format unik, memanfaatkan jeda baris dan ritme singkat. Nah, batasan karakter ini bikin otak kita mikir lebih kreatif.
Lanjut kita bahas komentar. Pernah nggak kamu baca kolom komentar YouTube musik atau film, lalu tiba-tiba kejebak sama cerita random orang asing? Misalnya ada yang nulis, “Lagu ini gue dengerin pertama kali pas masih SMA, sekarang gue udah jadi bapak dua anak.” Atau ada yang bilang, “Soundtrack ini nemenin gue pas lagi berantem sama depresi, sekarang gue udah lebih kuat.”
Komentar kayak gini sering kali lebih menyentuh dibanding ulasan resmi media. Mereka personal, jujur, dan langsung nyampe ke hati. Banyak orang bahkan menganggap komentar-komentar ini sebagai bentuk cerita rakyat digital. Cerita pendek tanpa pretensi, tapi nyata, yang lahir di ruang publik.
Di TikTok, fenomenanya lebih gila lagi. Kadang justru bagian komentar lebih lucu atau kreatif daripada videonya. Satu komentar bisa memicu ribuan balasan, membentuk thread komedi kolektif yang terasa kayak nonton stand-up bareng, tapi dalam bentuk teks. Ini bukti lain kalau literasi pop nggak melulu soal membaca buku, tapi juga bisa berarti ikut nimbrung dalam percakapan yang membangun narasi bersama.
Meme juga sebenarnya bagian dari literasi pop. Gambar random dengan caption singkat bisa jadi komentar sosial yang lebih tajam daripada artikel opini. Satu gambar bisa melahirkan ribuan cerita berbeda, tergantung siapa yang kasih teksnya.
Kalau dulu kritik sosial harus ditulis dalam esai panjang, sekarang orang cukup bikin meme. Ringkas, lucu, tapi tetap punya daya pukau. Bahkan ada penelitian yang bilang kalau generasi muda sekarang lebih mudah mencerna isu politik lewat meme dibanding lewat berita formal.
Namun, literasi pop bukan berarti masyarakat jadi malas baca. Justru, mereka membaca dan menulis lebih banyak, tapi dalam bentuk yang berbeda. Bukan lagi novel 400 halaman, melainkan ribuan potongan teks singkat yang tersebar di berbagai platform.
Orang Indonesia rata-rata habiskan 3 jam 11 menit per hari buat main media sosial. Itu artinya, ada jutaan kata yang kita konsumsi setiap hari, entah lewat caption, komentar, atau artikel singkat. Mungkin kita nggak sadar, tapi sebenarnya kita lagi berenang dalam lautan teks setiap hari.
Yang berubah hanyalah wadahnya. Kalau dulu orang menulis buku, sekarang orang nulis thread. Kalau dulu cerita rakyat disampaikan dari mulut ke mulut, sekarang cerita pengalaman hidup ditulis di kolom komentar YouTube.
Tentu, ada sisi gelap juga. Literasi pop bisa dangkal, cepat basi, dan gampang tergeser tren. Komentar yang menyentuh bisa tenggelam dalam sehari, puisi di Twitter bisa hilang ditelan algoritma, meme bisa basi dalam seminggu.
Itulah tantangannya, bagaimana kita sebagai pembaca atau penulis bisa menangkap momen singkat itu, mengapresiasi, lalu menyadari bahwa literasi bukan lagi di menara gading, tapi ruang hidup sehari-hari.
Mungkin sekarang waktunya kita berhenti meremehkan literasi pop. Tweet bisa jadi puisi, komentar bisa jadi cerita, meme bisa jadi kritik sosial. Pertanyaannya, apakah kita mau terus melihat literasi hanya sebatas buku dan karya serius, atau kita mau mengakui bahwa kreativitas bisa lahir bahkan dari 280 karakter receh di timeline?
Menurutmu, apakah literasi pop ini justru memperkaya cara kita membaca dan menulis, atau malah bikin kita kehilangan kedalaman?
Baca Juga
-
Demo Diwarnai Kekerasan: Ketika Suara Rakyat Dijawab dengan Gas Air Mata
-
DPR, Pagar Beton, dan WFH: Ironi di Balik "Gedung Wakil Rakyat"
-
Bukan soal NIK, Masalahnya di Distribusi: Mengupas Kebijakan Gas Elpiji
-
Negara Rawan Bencana, Anggaran BNPB Dipangkas: Siapkah Indonesia?
-
Dari Mimbar Megah hingga Meme: Mengurai Paradoks Kritik di Indonesia
Artikel Terkait
Lifestyle
-
Vivo V60 Resmi Rilis, Andalkan Kamera Telefoto ZEISS dan Snapdragon 7 Gen 4
-
4 Sheet Mask PDRN untuk Percepat Regenerasi Kulit, Auto Glowing Maksimal!
-
4 Rekomendasi Serum Pearl Extract untuk Kulit Cerah dan Glowing Alami
-
Cuma 3 Bahan: Camilan Rumahan Praktis yang Bikin Nagih
-
Samsung Segera Kenalkan Galaxy S25 FE, Dibekali Prosesor Exynos 2400 dan CPU 10 Core
Terkini
-
4 Rekomendasi Anime yang Mengajakmu Merasakan Slow Living
-
Ulasan Novel Where Loyalty Lies: Perjalanan Menemukan Jati Diri
-
Instruksi Kapolri Listyo Sigit Bocor: Haram Serang Mako Brimob, Ancam Tembak Massa Anarkis
-
Sinopsis Zhang Jian, Drama China yang Dibintangi He Bing dan Yang Li Xin
-
Heboh! Lucinta Luna Orasi di Depan DPR, Sindir Pemerintah hingga Kibarkan Bendera One Piece