Apakah kita sadar bahwa kegiatan apa pun yang kita lakukan tidak akan bisa terhindar dari jejak karbon? Bahkan pada prosesi pemakaman sekalipun kita masih menghasilkan jejak karbon, baik pemakaman tradisional maupun pemakaman secara kremasi. Namun, apakah ada solusi untuk membuat pemakaman lebih ramah lingkungan?
Dampak Prosesi Pemakaman Terhadap Lingkungan
Seperti yang diketahui, pemakaman secara kremasi biasanya dilakukan dengan membakar jenazah pada suhu yang sangat tinggi. Menurut Serenity Ridge, sebuah perusahaan pemakaman natural di Maryland, Amerika Serikat menyatakan bahwa suhu yang dipakai pada prosesi kremasi, yaitu sekitar 1400 derajat Fahrenheit atau 1800 derajat Fahrenheit. Jika dalam celcius, sekitar 760 derajat Celcius hingga 982,2 Celcius.
Suhu yang tinggi ini digunakan agar prosesi pembakaran lebih sempurna dan hanya menyisakan fragmen tulang serta abu. Tentunya, saat melakukan pembakaran dengan suhu yang tinggi, itu akan melepaskan banyak karbon dioksida ke udara. Ketika mengkremasi satu jenazah, kira-kira membutuhkan energi yang hampir sama dengan pemakaian energi satu orang selama sebulan.
Dilansir dari BBC pada Jumat (13/3/2026), yang mengutip laporan dari Planet Mark , sebuah perusahaan konsultan karbon di London, menyatakan bahwa kremasi gas menghasilkan emisi gas yang setara dengan penerbangan pulang-pergi dari London ke Paris.
Selain itu, abu yang dihasilkan dari prosesi kremasi juga terkadang dilarung ke laut. Di mana untuk menebar abu itu sendiri dibutuhkan kapal agar bisa sampai ke titik penebaran abu. Hal ini tentunya akan menambah jejak karbon dari prosesi kremasi itu sendiri.
Lalu, apakah pilihan pemakaman secara tradisional seperti dikubur dapat menjadi solusi atas hal ini? Sayangnya, tidak.
Meskipun tidak melibatkan bahan bakar dalam prosesnya, hal ini tidak membuat pemakaman tradisional tidak memiliki dampak terhadap lingkungan. Peti mati yang digunakan pada pemakaman seringkali tidak mudah terurai, karena terbuat dari bahan yang keras dan berkualitas tinggi, seperti kayu keras dan logam.
Penggunaan zat berbahaya, seperti formaldehida dalam pembuatan peti mati dan pengawetan mayat juga dapat meresap ke dalam tanah. Tentunya hal ini akan mempengaruhi kualitas air dan tanah. Selain itu, paparan dari formaldehida juga dapat menimbulkan efek negatif bagi tubuh. Menurut Minnesotta Departemen of Heatlh, jika terkena paparan formaldehida dalam jangka panjang dapat menyebabkan beberapa jenis kanker dalam tubuh.
Pemakaman Berkelanjutan Sebagai Solusi
Eco funeral atau pemakaman berkelanjutan dapat menjadi solusi untuk mengatasi permasalahan jejak karbon pada pemakaman. Survei terbaru dari Co-op Funeralcare, sebuah penyedia layanan pemakaman terbesar di Inggris, yang dilakukan oleh You Gov menunujukkan bahwa satu dari sepuluh orang menginginkan pemakaman yang ramah lingkungan.
Salah satu orang yang mengingkan eco funeral adalah seroang perempuan asal West Yorkshine, Inggris, bernama Rachel Hawthorn. Ia tidak ingin tindakan terakhirnya di Bumi akan mencemari lingkungan. Oleh karena itu, ia menginginkan kain kafan dan peti mati yang mudah terurai. Selain itu, ia juga menginginkan kuburan yang lebih dangkal karena terdapat lebih banyak mikroba alami. Bukan tanpa sebab, rupanya lapisan atas tanah mengandung lebih banyak mikroba yang dapat mempercepat proses penguraian.
Semoga dengan adanya eco funeral bisa menjadi jawaban atas permasalahan lingkungan yang disebabkan oleh prosesi pemakaman.
Baca Juga
-
Penelitian Ungkap Mikroplastik Kini Ditemukan di Awan, Berpotensi Pengaruhi Iklim
-
Kamar Gerah Bikin Susah Tidur? Lakukan 7 Trik Sederhana Ini Agar Tetap Sejuk Tanpa AC
-
Menjaga Nostalgia, Merangkul Semua: Upaya Orutaku Club Agar Tetap Inklusif
-
Lebih dari Sekadar Panutan: Cara Anak Sulung Mengembangkan Diri Bersama di Persulungan
-
Eco Parenting, Cara Sederhana Menumbuhkan Kepedulian Lingkungan pada Anak
Artikel Terkait
Lifestyle
-
Kulit Bebas Breakout! 5 Low pH Cleanser Tea Tree yang Ramah Skin Barrier
-
Berkaca dari Konten Maudy Ayunda, Mengapa Stoikisme Sangat Relevan Menjaga Kewarasan?
-
Capek Pantau Medsos tapi Susah Berhenti? Kenali yang Namanya Doomscrolling!
-
Kulit Remaja Bebas Jerawat Tanpa Kuras Dompet! 4 Acne Serum Rp30 Ribuan
-
Auto Glowing! 5 Rekomendasi Brightening Ampoule Pembasmi Noda Jerawat
Terkini
-
SSS-Class Revival Hunter Dapat Adaptasi Anime, Tayang Januari 2027
-
Membongkar Rapuhnya Pendidikan Indonesia: Masihkah Kita Mau Menyangkal?
-
Kapan Nikah? Bukan Sekadar Basa-basi, Melainkan Beban Ekspektasi Tak Kasat Mata
-
Review Practical Magic: The Book of Magic: Saat Perempuan Menulis Takdirnya
-
VR46 Rilis Buku Baru, Marc Marquez Ngaku Baru Mau Baca Kalau Sudah Pensiun