Lintang Siltya Utami | Natasha Suhendra
Ilustrasi Pemakaman (freepik/wirestock)
Natasha Suhendra

Apakah kita sadar bahwa kegiatan apa pun yang kita lakukan tidak akan bisa terhindar dari jejak karbon? Bahkan pada prosesi pemakaman sekalipun kita masih menghasilkan jejak karbon, baik pemakaman tradisional maupun pemakaman secara kremasi. Namun, apakah ada solusi untuk membuat pemakaman lebih ramah lingkungan

Dampak Prosesi Pemakaman Terhadap Lingkungan 

Seperti yang diketahui, pemakaman secara kremasi biasanya dilakukan dengan membakar jenazah pada suhu yang sangat tinggi. Menurut Serenity Ridge, sebuah perusahaan pemakaman natural di Maryland, Amerika Serikat menyatakan bahwa suhu yang dipakai pada prosesi kremasi, yaitu sekitar 1400 derajat Fahrenheit atau 1800 derajat Fahrenheit. Jika dalam celcius, sekitar 760 derajat Celcius hingga 982,2 Celcius. 

Suhu yang tinggi ini digunakan agar prosesi pembakaran lebih sempurna dan hanya menyisakan fragmen tulang serta abu. Tentunya, saat melakukan pembakaran dengan suhu yang tinggi, itu akan melepaskan banyak karbon dioksida ke udara. Ketika mengkremasi satu jenazah, kira-kira membutuhkan energi yang hampir sama dengan pemakaian energi satu orang selama sebulan. 

Dilansir dari BBC pada Jumat (13/3/2026), yang mengutip laporan dari Planet Mark , sebuah perusahaan konsultan karbon di London, menyatakan bahwa kremasi gas menghasilkan emisi gas yang setara dengan penerbangan pulang-pergi dari London ke Paris. 

Selain itu, abu yang dihasilkan dari prosesi kremasi juga terkadang dilarung ke laut. Di mana untuk menebar abu itu sendiri dibutuhkan kapal agar bisa sampai ke titik penebaran abu. Hal ini tentunya akan menambah jejak karbon dari prosesi kremasi itu sendiri. 

Lalu, apakah pilihan pemakaman secara tradisional seperti dikubur dapat menjadi solusi atas hal ini? Sayangnya, tidak. 

Meskipun tidak melibatkan bahan bakar dalam prosesnya, hal ini tidak membuat pemakaman tradisional tidak memiliki dampak terhadap lingkungan. Peti mati yang digunakan pada pemakaman seringkali tidak mudah terurai, karena terbuat dari bahan yang keras dan berkualitas tinggi, seperti kayu keras dan logam. 

Penggunaan zat berbahaya, seperti formaldehida dalam pembuatan peti mati dan pengawetan mayat juga dapat meresap ke dalam tanah. Tentunya hal ini akan mempengaruhi kualitas air dan tanah. Selain itu, paparan dari  formaldehida juga dapat menimbulkan efek negatif bagi tubuh. Menurut Minnesotta Departemen of Heatlh, jika terkena paparan formaldehida dalam jangka panjang dapat menyebabkan beberapa jenis kanker dalam tubuh. 

Pemakaman Berkelanjutan Sebagai Solusi 

Eco funeral atau pemakaman berkelanjutan dapat menjadi solusi untuk mengatasi permasalahan jejak karbon pada pemakaman.  Survei terbaru dari Co-op Funeralcare, sebuah penyedia layanan pemakaman terbesar di Inggris, yang dilakukan oleh You Gov menunujukkan bahwa satu dari sepuluh orang menginginkan pemakaman yang ramah lingkungan. 

Salah satu orang yang mengingkan eco funeral adalah seroang perempuan asal West Yorkshine, Inggris, bernama Rachel Hawthorn. Ia tidak ingin tindakan terakhirnya di Bumi akan mencemari lingkungan. Oleh karena itu, ia menginginkan kain kafan dan peti mati yang mudah terurai. Selain itu, ia juga menginginkan kuburan yang lebih dangkal karena terdapat lebih banyak mikroba alami. Bukan tanpa sebab, rupanya lapisan atas tanah mengandung lebih banyak mikroba yang dapat mempercepat proses penguraian. 

Semoga dengan adanya eco funeral bisa menjadi jawaban atas permasalahan lingkungan yang disebabkan oleh prosesi pemakaman.