Indonesia penuh dengan sumber daya alam yang melimpah. Hampir setiap tanaman di sekitar kita bisa dimakan. Tapi, ternyata ada beberapa macam bahan makanan nabati yang mengandung senyawa yang bisa mengganggu tubuh saat dikonsumsi. Bukan berarti benar-benar beracun, ya. Beberapa bahan makanan harus diolah dengan tepat untuk mengurangi bahkan menghilangkan zat yang dianggap 'beracun' tadi.
Salah satunya umbi kimpul yang saat ini tengah viral di media sosial. Umbi kimpul perlu diolah sedemikian rupa dan tidak boleh dimakan mentah agar tubuh tidak mengalami reaksi iritasi dari kandungan kalsium oksalatnya. Tak hanya kimpul, ternyata ada 4 bahan makanan lainnya yang ternyata 'beracun' dan harus diolah sebelum dikonsumsi. Simak list-nya di bawah!
1. Kimpul
Kimpul merupakan salah satu jenis umbi yang masih satu keluarga dengan talas. Kimpul bisa diolah menjadi berbagai macam makanan, mulai dari makanan tradisional hingga modern. Tapi, kimpul tak bisa langsung dikonsumsi. Umbi kimpul mengandung zat kalsium oksalat yang berbentuk jarum mikroskopik. Jika dikonsumsi mentah, zat ini akan membuat mulut dan tenggorokan terasa perih dan gatal. Sebelum diolah, kimpul harus direndam air garam dan direbus hingga benar-benar matang. Perendaman dan pemasakan ini dapat membantu menurunkan kadar kalsium oksalat pada kimpul.
2. Gadung
Gadung merupakan umbi yang dapat dimanfaatkan sebagai sumber karbohidrat dan diolah menjadi camilan. Namun, gadung segar mengandung senyawa beracun sehingga tidak boleh dikonsumsi sembarangan. Salah satu senyawa yang perlu diwaspadai adalah dioskorin yang dapat menyebabkan pusing, mual, hingga gangguan pada sistem saraf. Gadung juga mengandung senyawa sianogenik yang dapat menghasilkan asam sianida.
Oleh karena itu, gadung perlu 'detoks' sebelum dikonsumsi. Umbi gadung bisa diolah dengan beberapa cara untuk mengurangi kadar racunnya, seperti direndam, direbus selama berjam-jam, hingga direndam dalam larutan abu gosok. Semakin banyak pengolahannya, semakin banyak pula kadar racun yang berkurang. Makanya, tidak sembarang orang bisa mengolah dan memastikan apakah gadung sudah aman dikonsumsi atau belum.
3. Singkong
Singkong memang sudah akrab sebagai bahan pangan sehari-hari, tetapi umbi ini tidak sebaiknya dimakan mentah. Singkong mengandung senyawa glikosida sianogenik yang dapat terurai dan menghasilkan hidrogen sianida. Karena itu, singkong wajib diolah dulu sebelum dimakan. Untuk mengurangi zat sianidanya, singkong harus dikupas bersih lalu direbus atau dikukus hingga benar-benar matang. Efektivitasnya bergantung pada metode dan lamanya proses, sehingga sekadar memasak singkong dengan cara yang tidak tepat tidak selalu cukup untuk menghilangkan seluruh risikonya.
4. Kluwek
Kalau kamu familiar dengan hidangan rawon, kamu pasti tahu biji kluwek. Biji yang menghasilkan warna hitam khas kuah rawon ini, ternyata beracun, loh. Biji kluwek mengandung senyawa hidrogen sianida yang cukup tinggi saat masih mentah.
Untuk menghilangkan senyawa berbahaya ini, biji kluwek harus direbus lalu dikubur dalam tanah selama beberapa hari. Setelah difermentasi, bagian dalam biji berubah warna menjadi cokelat gelap atau hitam, teksturnya lebih lunak, dan menghasilkan aroma serta rasa khas yang menjadi ciri kluwek. Setelah melalui proses ini, biji kluwek siap diolah menjadi rawon.
5. Kacang Merah
Kacang merah mentah mengandung phytohaemagglutinin (PHA), yaitu jenis lektin yang kadarnya dapat cukup tinggi untuk menyebabkan gangguan pencernaan jika kacang tidak dimasak dengan benar. Konsumsi kacang merah yang masih mentah atau kurang matang dapat menyebabkan mual, muntah, hingga diare.
Sebelum dikonsumsi, kacang merah kering perlu direndam terlebih dahulu selama minimal 5 jam atau semalaman. Setelah itu, air rendamannya dibuang lalu rebus di air mendidih selama 15 - 30 menit hingga empuk. Sebaiknya, kacang merah direbus secara manual daripada menggunakan penanak nasi atau slow cooker agar panas lebih stabil sehingga senyawa lektin hilang dengan efektif.
Bahan-bahan makanan di atas bukan berarti harus dihindari. Kamu hanya perlu mengenali kandungan dan bagaimana cara pengolahannya agar aman dikonsumsi. Kamu sudah pernah makan yang mana?
Baca Juga
-
Mengulas Bridge to Terabithia, Novel yang Ajarkan Anak tentang Kehilangan
-
Yakin Sudah Merdeka? 5 Novel Indonesia Ini Ungkap Pembungkaman Suara Rakyat
-
4 Sisi Gelap Emily dalam A Rose for Emily yang Bikin Merinding
-
Lawan Patriarki! 5 Novel Populer Ini Berisi tentang Kritik Feminisme
-
Namanya Bikin Salah Fokus, Ini 5 Fakta Menarik Mi Pentil Khas Bantul
Artikel Terkait
-
Kimpul Bu Tin: Ketika Umbi Lokal Bertemu Kreativitas Zaman Now
-
Viral Karena TikTok, Menkes Ungkap Manfaat Luar Biasa Umbi Kimpul untuk Kesehatan
-
Siapa Nama Asli Ibu Kimpul yang Viral Unggah Konten 'Ketahanan Pangan'? Ini Profilnya
-
Sebelum Ikut Tren, Ketahui 5 Cara Mengolah Kimpul agar Aman Dikonsumsi
-
Mengenal 7 Jenis Umbi-umbian Lokal, Ada Kimpul yang Kaya Nutrisi dan Bisa Jadi Pengganti Nasi
Lifestyle
-
Cuma Rp2 Jutaan! 8 HP 5G + NFC yang Wajib Kamu Lirik, Speknya Gahar Semua
-
5 Rekomendasi Body Lotion Argan Oil yang Ampuh Melembapkan Kulit Kering
-
4 Cleansing Foam Low pH Korea untuk Kulit Kering Tanpa Merusak Skin Barrier
-
Praktis! 2 Produk Ini Bisa Hapus Makeup sekaligus Membersihkan Wajah
-
Bikin Matte Seharian! 4 Sunscreen Korea Oil Control untuk Kulit Berminyak
Terkini
-
Beban Perubahan di Pundak Mahasiswa: Sampai Kapan Rakyat Menitipkan Harapan?
-
Merdeka dari People Pleasing: Mengapa Gen Z Harus Mulai Belajar Berkata 'Tidak'
-
Makna Lagu "Great Expectation" Sienna Spiro, Ketika Cinta Tejebak Ekspetasi
-
Guns N' Roses Kembali ke Jakarta dan Kenangan Masa Remaja Saya
-
Membaca Buku Ada Nama yang Abadi di Hati tapi Tak Bisa Dinikahi:Cinta Tak Harus Memiliki