M. Reza Sulaiman | Ken Hitana
ilustrasi umbi kimpul (unsplash/Daniel Dan)
Ken Hitana

Indonesia penuh dengan sumber daya alam yang melimpah. Hampir setiap tanaman di sekitar kita bisa dimakan. Tapi, ternyata ada beberapa macam bahan makanan nabati yang mengandung senyawa yang bisa mengganggu tubuh saat dikonsumsi. Bukan berarti benar-benar beracun, ya. Beberapa bahan makanan harus diolah dengan tepat untuk mengurangi bahkan menghilangkan zat yang dianggap 'beracun' tadi.

Salah satunya umbi kimpul yang saat ini tengah viral di media sosial. Umbi kimpul perlu diolah sedemikian rupa dan tidak boleh dimakan mentah agar tubuh tidak mengalami reaksi iritasi dari kandungan kalsium oksalatnya. Tak hanya kimpul, ternyata ada 4 bahan makanan lainnya yang ternyata 'beracun' dan harus diolah sebelum dikonsumsi. Simak list-nya di bawah!

1. Kimpul

ilustrasi umbi kimpul (pixabay/WebTechExperts)

Kimpul merupakan salah satu jenis umbi yang masih satu keluarga dengan talas. Kimpul bisa diolah menjadi berbagai macam makanan, mulai dari makanan tradisional hingga modern. Tapi, kimpul tak bisa langsung dikonsumsi. Umbi kimpul mengandung zat kalsium oksalat yang berbentuk jarum mikroskopik. Jika dikonsumsi mentah, zat ini akan membuat mulut dan tenggorokan terasa perih dan gatal. Sebelum diolah, kimpul harus direndam air garam dan direbus hingga benar-benar matang. Perendaman dan pemasakan ini dapat membantu menurunkan kadar kalsium oksalat pada kimpul.

2. Gadung

ilustrasi umbi gadung (Instagram/sandy_lintang)

Gadung merupakan umbi yang dapat dimanfaatkan sebagai sumber karbohidrat dan diolah menjadi camilan. Namun,  gadung segar mengandung senyawa beracun sehingga tidak boleh dikonsumsi sembarangan. Salah satu senyawa yang perlu diwaspadai adalah dioskorin yang dapat menyebabkan pusing, mual, hingga gangguan pada sistem saraf. Gadung juga mengandung senyawa sianogenik yang dapat menghasilkan asam sianida.

Oleh karena itu, gadung perlu 'detoks' sebelum dikonsumsi. Umbi gadung bisa diolah dengan beberapa cara untuk mengurangi kadar racunnya, seperti direndam, direbus selama berjam-jam, hingga direndam dalam larutan abu gosok. Semakin banyak pengolahannya, semakin banyak pula kadar racun yang berkurang. Makanya, tidak sembarang orang bisa mengolah dan memastikan apakah gadung sudah aman dikonsumsi atau belum.

3. Singkong

ilustrasi singkong (unsplash/Daniel Dan)

Singkong memang sudah akrab sebagai bahan pangan sehari-hari, tetapi umbi ini tidak sebaiknya dimakan mentah. Singkong mengandung senyawa glikosida sianogenik yang dapat terurai dan menghasilkan hidrogen sianida. Karena itu, singkong wajib diolah dulu sebelum dimakan. Untuk mengurangi zat sianidanya, singkong harus dikupas bersih lalu direbus atau dikukus hingga benar-benar matang. Efektivitasnya bergantung pada metode dan lamanya proses, sehingga sekadar memasak singkong dengan cara yang tidak tepat tidak selalu cukup untuk menghilangkan seluruh risikonya.

4. Kluwek

ilustrasi biji kluwek (Instagram/mozaicrestaurantubud)

Kalau kamu familiar dengan hidangan rawon, kamu pasti tahu biji kluwek. Biji yang menghasilkan warna hitam khas kuah rawon ini, ternyata beracun, loh. Biji kluwek mengandung senyawa hidrogen sianida yang cukup tinggi saat masih mentah. 

Untuk menghilangkan senyawa berbahaya ini, biji kluwek harus direbus lalu dikubur dalam tanah selama beberapa hari. Setelah difermentasi, bagian dalam biji berubah warna menjadi cokelat gelap atau hitam, teksturnya lebih lunak, dan menghasilkan aroma serta rasa khas yang menjadi ciri kluwek. Setelah melalui proses ini, biji kluwek siap diolah menjadi rawon.

5. Kacang Merah

ilustrasi kacang merah (unsplash/Zoshua Colah)

Kacang merah mentah mengandung phytohaemagglutinin (PHA), yaitu jenis lektin yang kadarnya dapat cukup tinggi untuk menyebabkan gangguan pencernaan jika kacang tidak dimasak dengan benar. Konsumsi kacang merah yang masih mentah atau kurang matang dapat menyebabkan mual, muntah, hingga diare. 

Sebelum dikonsumsi, kacang merah kering perlu direndam terlebih dahulu selama minimal 5 jam atau semalaman. Setelah itu, air rendamannya dibuang lalu rebus di air mendidih selama 15 - 30 menit hingga empuk. Sebaiknya, kacang merah direbus secara manual daripada menggunakan penanak nasi atau slow cooker agar panas lebih stabil sehingga senyawa lektin hilang dengan efektif.

Bahan-bahan makanan di atas bukan berarti harus dihindari. Kamu hanya perlu mengenali kandungan dan bagaimana cara pengolahannya agar aman dikonsumsi. Kamu sudah pernah makan yang mana?