Baru-baru ini kita dikagetkan dengan tindak kriminal sadis yang dilakukan akibat persekongkolan jahat yang dilakukan oleh Laeli Atik Supriyatin (LAS) dan Djumadil Al Fajri (DAF) yang ternyata LAS adalah seorang Sarjana Kimia atau MIPA, lulusan salah satu universitas ternama, seperti yang dikatakan oleh Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Yusri Yunus yang terungkap usai rekontruksi kasus yang digelar di Mapolda Metro Jaya, dan Apartemen Pasar Baru Mansion, Jakarta pusat, belum lama ini.
LAS selama kuliah tercatat sebagai mahasiswa pintar dan pernah mengikuti Olimpiade Kimia tingkat provinsi. Yusri Yunus juga menambahkan bahwa LAS juga mengajar sejumlah mahasiswa di bekas kampusnya dan beberapa kampus lain. Karena adanya pendemi Covid-19 yang bersangkutan tidak dapat lagi melakukan aktivitas tersebut sehingga mengalami himpitan ekonomi. Tindakan kriminal yang dilakukan LAS dan DAF ini tergolong kejam dan sadis tanpa perasaan. Mereka berdua bersekongkol melakukan pemerasan dan penipuan kepada korban hingga mengeksekusi dan memutilasinya.
LAS adalah adalah salah satu contoh oknum generasi yang hanya belajar dan diajarkan kecerdasan intelektual semata tanpa kecerdasan emosional, tanpa kecerdasan spiritual. Kecerdasan emosional adalah kemampuan untuk merasa, What do I feel , orang menyebutnya EQ atau Emosional Quotient dan itu tidak pernah diajarkan di bangku sekolah SD, SMP, SMA atau bahkan sampai Universitas apalagi kecerdasan spiritual.
Kecerdasan spiritual atau SQ atau Spiritual Questient atau Spiritual Inteligent, itulah kemampuan untuk mendengarkan suara hati, hati nurani yang dalam sebagai seorang manusia dan memahami siapa jati diri dan suara hati fitrah yang terdalam atau Who am I. Hampir sebagian dari kita terbiasa mengabaikan emosi dan terbiasa mengabaikan hati nurani sambil mengatakan bahwa emosi dan hati tidak berpikir tapi ini otak yang berpikir dan inilah yang terjadi seorang intelektual berpendidikan melakukan persekongkolan jahat hingga mengesekusi dan memutilasinya.
Peristiwa keji ini menyadarkan kita sebagai seorang muallim (guru), ternyata tidak cukup mengajarkan anak kita, generasi kita hanya IQ, Inteligent Questient atau kecerdasan intelektual atau nilai akademik yang itu sudah jelas dan berdasarkan sebuat penelitian hanya berperan 10 – 20 persen saja tingkat keberhasilannya.
Tanpa adanya kecerdasan emosional atau kemampuan merasa dan tanpa adanya kecerdasan spiritual atau kemampuan mendengar hati nurani yang terdalam, sulit untuk disebut sebagai makhluk intelektual. Semoga menjadi pelajaran besar bahwa Inteligent Quetient (IQ), dengan Emosional Quetint (EQ) dan Spiritual Questient (SQ) sebagai kecerdasan paripurna yang harus dikombinasikan. Mengajar tanpa hati nurani berarti tidak mengajar sama sekali.
Kita mengetahui bahwa pendidikan dilakukan dengan hati lewat rasa kasih sayang, keikhlasan, keagamaan (spiritual) dan suasana kekeluargaan. Guru sebagai seorang muallim tidak dibatasi tempat dan waktu dalam mendidik murid sebagaimana orang tua mendidik anaknya.
Seorang guru harus ikhlas dalam memberikan bimbingan kepada para siswanya sepanjang waktu. Demikian pula tempat pendidikannya tidak terbatas hanya di dalam kelas saja, dimanapun seorang guru berada, dia harus sanggup memainkan perannya sebagai seorang pendidik sejati. Seorang muallim (guru) profesional yang bukan guru-guruan seharusnya memiliki niat yang baik, niat yang tulus dalam menjalankan profesinya. Dalam perjalanannya sebagai seorang guru profesional tidak mengharapkan imbalan atau balasan yang lebih baik dan lebih bagus dari profesinya.
Menjadi guru apabila tidak disertai dengan niat yang tulus maka pekerjaannya hanya sebatas mendapatkan upah atau tunjangan guru/sertifikasi dari yang yang dikerjakannya, tak ada imbalan selain itu. Niat yang tulus sangatlah menentukan. Jika bekerja sebagai guru dengan niat yang tulus iklhlas maka akan mendapat dua imbalan, yaitu imbalan di dunia dan imbalan di akhirat kelak.
Di samping itu kita akan mendapatkan peserta didik yang memiliki kecerdasan IQ, EQ, dan SQ yang seimbang sebagai hasil dari ketulusan kita sebagai seorang muallim (guru) dalam mengajar dan mendidiknya, di mana siswa banyak meniru dan menaladani semua yang diperbuat oleh guru. Seperti semboyan pendidikan kita ing ngarso sung tulodho ing madyo mangun karso tut wuri handayani.
Tag
Baca Juga
Artikel Terkait
-
Mengapa Kecerdasan Emosional Lebih Penting dari IQ?
-
Kenapa Wamen Stella Tak Percaya IQ Orang Indonesia Rata-rata Cuma 78? Ini Alasannya
-
Berapa IQ untuk Masuk Unhan 2025? Ini Syarat Pendaftaran Agar Lulus hingga Dapat Pangkat Letda
-
Tingkat IQ Raffi Dipertanyakan Usai Klarifikasi Mobil RI 36, Memang Berapa Normalnya Pada Manusia?
-
Ulasan Buku Sang Juara, Pentingnya Membangun Kecerdasan Emosional Anak
News
-
Kode Redeem Genshin Impact Hari Ini, Hadirkan Hadiah Menarik dan Seru
-
Pasar Literasi Jogja 2025: Memupuk Literasi, Menyemai Budaya Membaca
-
Bukan Hanya Kembali Suci, Ternyata Begini Arti Idulfitri Menurut Pendapat Ulama
-
Contoh Khutbah Idul Fitri Bahasa Jawa yang Menyentuh dan Memotivasi
-
Hikmat, Jamaah Surau Nurul Hidayah Adakan Syukuran Ramadhan
Terkini
-
Review Novel 'TwinWar': Pertarungan Harga Diri di Balik Wajah yang Sama
-
Piala Asia U-17: Timnas Indonesia Kembali Gendong Marwah Persepakbolaan Asia Tenggara
-
Ulasan Webtoon Our Secret Alliance: Perjanjian Palsu Ubah Teman Jadi Cinta
-
Pemain PC Kini Bebas dari PSN! Sony Ubah Kebijakan Akun PlayStation
-
Timnas Indonesia, Gelaran Piala Asia dan Bulan April yang Selalu Memihak Pasukan Garuda