Agustus merupakan salah satu bulan yang sangat ditunggu-tunggu di setiap tahunnya. Agustus akan menjadi bulan yang meriah bagi seluruh rakyat Indonesia. Sebab seluruh rakyat antusias menyambut hari ulang tahun kemerdekaan Republik Indonesia.
Banyak tradisi yang dilakukan untuk merayakan Dirgahayu Indonesia. tradisi paling utama yaitu mengibarkan Bendera Merah Putih di setiap rumah, dan menghias atau mendekorasi kompleks tempat tinggal dengan pernak-pernik unik yang didominasi dengan warna tersebut. Tahun ini, Indonesia sudah 76 tahun merdeka dan terbebas dari penjajah bangsa lain.
Pada 17 Agustus, di berbagai wilayah Indonesia selalu digelar aneka macam lomba agustusan, ataupun tradisi lainnya yang membuat perayaan kemerdekaan semakin meriah. Tahukah kamu, setiap daerah mempunyai tradisi-tradisi unik untuk merayakannya. Berikut ini tradisi yang biasa dilakukan masyarakat di berbagai daerah dalam menyambut HUT Republik Indonesia.
1. Sepakbola Durian – Kebumen
Tradisi ini sudah rutin dilakukan oleh masyarakat Kebumen, Jawa Tengah, untuk merayakan kemerdekaan. Perlombaan sepakbola ini dilakukan dengan menjadikan durian sebagai objek utamanya. Karena objek yang digunakan bisa dibilang cukup ekstrem, maka perlombaan ini seringkali diikuti oleh orang tertentu saja, seperti anggota lascar Densus 99 dan anggota forum spiritual di daerah tersebut.
2. Lomba Sampan Layar – Kepulauan Riau
Warga Batam, Kepulauan Riau rutin melakukan perlombaan tradisional sampan layar dalam rangka perayaan ulang tahun kemerdekaan Indonesia. Apa itu sampan layar? Sampan layar sendiri merupakan salah satu moda transportasi utama masyarakat pesisir Kepulauan Riau sejak dulu. Oleh karena itu, mayoritas peserta yang mengikuti perlombaan ini adalah nelayan.
Sampan layar merupakan salah satu jenis permainan tradisional masyarakat Melayu. Dalam perlombaan ini, peserta harus meyusuri perairan dengan kapal yang tak jarang sudah dihiasnya terlebih dahulu. Perjalanan ditempuh dengan rute sekitar 5 kilometer dan beradu cepat untuk mencapai garis finish.
Lomba sampan layar memanfaatkan angin untuk memicu kecepatan kapal. Uniknya, meskipun yang pesertanya mayoritas nelayan lokal, tetapi pada tiap tahunnya terlihat peserta asing dari luar negeri yang ikut berpartisipasi memeriahkan perlombaan ini. Total hadiah dari pelombaan ini bahkan pernah mencapai ratusan juta.
3. Pawai Jampana – Bandung
Tradisi berikutnya datang dari kota kembang, Bandung. Dalam merayakan HUT Republik Indonesia, masyarakat Kota Bandung rutin mengadakan pawai yang sering disebut Pawai Jampana. Dalam Pawai Jampana, akan ada puluhan tandu besar. Setiap tandunya dibawa oleh empat orang. Dalam tandu tersebut berisi aneka macam hasil bumi, hasil kerajianan masyarakat, dan berbagai macam makanan.
Lalu akan diapakan isi tandu tersebut? Tandu yang berisikan hasil bumi tersebut nantinya akan diperebutkan oleh peserta pawai, serta masyarakat yang berpartisipasi atau menyaksikan pawai tersebut. Begitu juga dengan makanan yang nantinya akan dimakan bersama-sama.
4. Tradisi Pacu Kude – Aceh
Tradisi Pacu Kude merupakan salah satu tradisi balap kuda yang sudah rutin dilakukan oleh masyarakat Aceh. Kuda tersebut ditunggangi oleh satu orang joki (penunggang kuda) yang berusia 10-16 tahun.
Pacu Kude merupakan permainan tradisional yang sudah ada sejak masa kolonial Belanda. Dulu, permainan ini sering dimainkan setelah dilakukannya panen. Pada tahun 1956, setelah kemerdekaan permainan ini dianggap sebagai simbol dari perjuangan rakyat untuk mendapatkan kemerdekaan.
Hal tersebut yang menjadikan tradisi pacu kude terus dilakukan dalam perayaan HUT RI setiap tahunnya. Kuda yang digunakan pada permainan ini merupakan kuda yang berasal dari hasil persilangan antara kuda Australia dan kuda Gayo.
5. Tirakatan – Yogyakarta
Berpindah ke Daerah Istimewa Yogyakarta, masyarakat merayakan kemerdekaan Indonesia setiap tanggal 16 Agustus malam. Tradisi wajib ini biasanya dihadiri oleh para sesepuh, pejabat desa, dan warga setempat.
Acara ini biaasanya diisi dengan pembacaan sajak untuk mengenang jasa para pahlawan yang sudah berjuang meraih kemerdekaan, kemudian dilanjutkan dengan mengheningkan cipta, doa Bersama, dan dilanjut dengan makan malam Bersama satu kampung.
Namun di situasi pandemi seperti sekarang, beberapa tradisi tersebut tidak digelar demi mencegah penyebaran virus Covid-19.
Tag
Baca Juga
-
Tamat! Inilah Akhir Cerita Drama Korea Hometown Cha-Cha-Cha
-
Debut! Umay Shahab Rilis Film Perdana "Ku Kira Kau Rumah"
-
Potret 3 Tempat di Banda Neira yang Menjadi Surga di Timur Indonesia
-
3 Tempat Bersejarah Mengenang Detik-Detik Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia
-
Menjadi Trending Topic, Series I Love You Silly Segera Tayang di WeTV!
Artikel Terkait
-
Desak DPR Tak Buru-buru soal RUU KUHAP, Koalisi Masyarakat Sipil Beberkan 9 Poin Catatan Krusial
-
Keluhkan Penjualan Merosot, Pedagang Mainan di Pasar Gembrong: Lebaran Sudah Nggak Berpengaruh
-
Benarkah Muhammadiyah Pelopor Modernisasi Halal Bihalal di Indonesia? Ini Faktanya
-
Review Novel 'Entrok': Perjalanan Perempuan dalam Ketidakadilan Sosial
-
Manfaat Mudik Lebaran: Lebih dari Tradisi, Ini Cara Ampuh Tingkatkan Kualitas Hidup
News
-
Kode Redeem Genshin Impact Hari Ini, Hadirkan Hadiah Menarik dan Seru
-
Pasar Literasi Jogja 2025: Memupuk Literasi, Menyemai Budaya Membaca
-
Bukan Hanya Kembali Suci, Ternyata Begini Arti Idulfitri Menurut Pendapat Ulama
-
Contoh Khutbah Idul Fitri Bahasa Jawa yang Menyentuh dan Memotivasi
-
Hikmat, Jamaah Surau Nurul Hidayah Adakan Syukuran Ramadhan
Terkini
-
MBC Resmi Tunda Penayangan Drama 'Crushology 101', Ternyata Ini Alasannya
-
Lee Shin Young Akan Bergabung dalam Drama 'The Moon Flows Over the River'
-
Tayang Mei, Bae Doo Na Alami Cinta Tak Terkendali dalam Film Korea Virus
-
Tragedi di Pesta Pernikahan dalam Novel Something Read, Something Dead
-
Webtoon My Reason to Die: Kisah Haru Cinta Pertama dengan Alur Tak Terduga