Hari Kartini diperingati setiap tanggal 21 April yaitu yang jatuh tepat pada hari ini. Saat sekolah dulu mungkin nama Raden Adjeng (R.A.) Kartini sudah sering ada di buku pelajaran dan sering disebut-sebut sebagai pahlawan emansipasi wanita yang jasanya begitu besar dalam memelopori pendidikan untuk para wanita.
Untuk memperingati jasa-jasa R.A. Kartini, berikut adalah perjuangannya hingga setiap tanggal 21 April selalu diperingati sebagai Hari Kartini.
Latar belakang sejarah
Dilansir dari Kata Data, Kartini adalah seorang putri Bupati Jepara yang pada saat itu hidup dalam lingkungan masyarakat yang tidak memperkenankan anak-anak wanita untuk mengenyam pendidikan.
Kendati demikian Kartini dengan statusnya sebagai putri bangsawan memiliki kesempatan bersekolah namun hanya sampai usia 12 tahun saja. Setelah itu para wanita akan dipingit hingga nanti ada pria pilihan orang tua yang akan meminangnya.
Saat masa pingitan, kaum wanita sama sekali tidak diizinkan untuk melihat dunia luar, sehingga sangat bergantung dengan suaminya saja. Hal tersebut menyebabkan para suami bertindak semena-mena terhadap istrinya.
Atas dasar tersebut Kartini tidak bisa menerimanya dan ia mulai menyurati sahabat-sahabat wanitanya mengenai pengalaman dan ketidakadilan tersebut.
Kumpulan surat-surat tersebut lalu dikumpulkan hingga menjadi sebuah buku yang kini sangat terkenal yaitu Habis Gelap Terbitlah Terang.
Awal perjuangan R.A Kartini
Kartini memulai dengan membuka kelas kecil untuk para gadis yang ia lakukan di rumahnya atas seizin suaminya. Kelas tersebut mengajarkan menulis, membaca, memasak hingga menjahit.
Dari situlah organisasi wanita di Indonesia mulai berkembang, di tahun 1904 Raden Dewi Sartika mendirikan Sekolah Istri di Jawa Barat.
Lalu pada tahun 1917 didirikan sekolah yang dinamakan Percintaan Ibu Terhadap Anak Temurunnya (PIKAT) oleh Maria Walanda Maramis.
Lalu setelahnya semakin banyak lagi sekolah-sekolah yang terus didirikan. Lalu pada tahun 1912 oranisasi wanita pertama bernama Putri Mahardika dibentuk di Jakarta.
Karena gagasan R.A. Kartini yang sangat berjasa bagi pendidikan wanita di Indonesia itulah, maka setiap tanggal 21 April diperingati sebagai Hari Kartini, pada tanggal tersebut adalah hari lahir dari R.A. Kartini.
Hal tersebut berdasarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia No.108 Tahun 1964 yang disahkan pada tanggal 2 Mei 1964.
Baca Juga
-
Viral! Toko Roti di Thailand Jual Croissant 'Berambut', Warganet Jijik Sekaligus Penasaran
-
Live-Action Naruto Mulai Casting Pemeran Naruto, Sasuke, dan Sakura
-
FIFA Turun Tangan Selidiki Dugaan Rasisme Terhadap YouTuber IShowSpeed
-
Rasisme Cederai Sportivitas Sepak Bola, Menang Tak Harus Menghina Lawan
-
Nothing to Lose: Kisah Ibu Berjuang Selamatkan Anak Pengidap Leukemia
Artikel Terkait
-
Hari Kartini, Melanie Subono Buka Baju dan Pamer Punggung Ditato Garuda Pancasila
-
Peringati Hari Kartini, Ini 3 Rekomendasi Film tentang Perjuangan Perempuan
-
Kartini Menurut Ketua Tunas Himpunan Advokat Muda Indonesia: Perempuan Jangan Jadi Cantik dengan Ukuran Orang Lain, Kecantikan Bukan Diperlombakan
-
Kilas Balik Sejarah Perbedaan Penentuan Idul Fitri Versi Pemerintah dan Muhammadiyah
-
Peringatan 21 April, Gubernur Khofifah: RA Kartini adalah Sosok Pejuang yang Teguh dan Tak Mudah Menyerah
News
-
Urban Eco Journey: Cara Seru Trash Ranger Rayakan Ulang Tahun Sambil Menyelamatkan Bumi
-
FH UNY Berdayakan UMKM Desa Galuhtimur Lewat Legalitas Hukum & Inovasi Produk
-
Tim FIP UNY Bekali Guru PCM Tonjong Modul Ajar Berbasis Deep Learning
-
FH UNY Gelar PkM di MIM Tonjong, Kenalkan Pendekatan 'Deep Learning' untuk Guru Muhammadiyah
-
Viral! Toko Roti di Thailand Jual Croissant 'Berambut', Warganet Jijik Sekaligus Penasaran
Terkini
-
Di Balik Sorot Lampu Stadion: Jayden Adams dan Bukti Bahwa Pesepak Bola Juga Manusia Biasa
-
Wonderwall, Oasis, dan Mimpi Inggris Menjuarai Piala Dunia 2026
-
Cuaca Makin Terik! Lakukan 5 Langkah Ini Agar Kulit Tak Cepat Kusam dan Menua
-
Kereta Api Bukan Dapur Berjalan! Alasan Logis Mengapa Stopkontak KAI Haram untuk Rice Cooker
-
Stop Monetizing Your Hobby: Mengapa Hidup Tidak Selalu Tentang Produktivitas