Alangkah senangnya bagi kaum muda yang bisa menimba ilmu ke luar negeri. Mereka bisa memanfaatkan momen tersebut untuk traveling, mengunjungi berbagai kota di negara tempat mereka menimba ilmu. Bahkan mereka bisa mengunjungi negara-negara lain saat liburan tiba.
Hal inilah yang dilakukan oleh M. Sya’roni Rofii, pemuda yang berhasil melanjutkan kuliah di luar negeri. Ia meraih gelar doktor bidang Ilmu Politik dan Hubungan Internasional, Marmara University, Istanbul, Turki.
Ketika tengah menjalani studi di Istanbul, pemuda kelahiran Lombok Timur 1987 ini menyisihkan sebagian waktunya untuk menggeluti hobinya traveling keliling dunia. Sejauh ini hampir seluruh penjuru benua Eropa telah ia jelajahi hingga berbuah buku “Sepuluh Hari Keliling Eropa” diterbitkan oleh penerbit Elex Media Komputindo (2015).
Buku yang tengah Anda baca ulasannya ini merupakan karya M. Sya’roni Rofii yang berikutnya. Buku ‘Mendengar Bisikan Kota’ yang juga diterbitkan oleh penerbit Elex Media Komputindo (2017) ini bercerita tentang perjalanan travelingnya ke sejumlah negara seperti Turki, Jerman, Belanda, Perancis, Spanyol, Austria, Polandia, Republik Ceko, dan Rusia.
Melihat secara langsung situs-situs sejarah dan kehidupan masyarakat di negara-negara yang pernah dikunjungi oleh Sya’roni menjadi hobi barunya sejak meninggalkan tanah air. Ia selalu berusaha menulis apa saja yang perlu dicatat setiap kali berkunjung ke sebuah negara. Dari kebiasaan ini, ia belajar banyak tentang bagaimana mengatur jadwal perjalanan, memahami kebudayaan orang lain, merasakan atmosfer kota-kota besar dunia, mencicipi makanannya, dan lebih dari itu semua, ia bisa memetik pelajaran hidup dari setiap perjalanan.
Menurut Sya’roni, lokasi Istanbul yang berada di tengah-tengah peta dunia membuat urusan jalan-jalan terasa mudah. Lalu lintas penerbangan yang melintasi kota dua benua ini begitu ramai. Maskapai berlomba-lomba menawarkan harga bersaing kepada para traveler yang jumlahnya mencapai angka puluhan juta setiap tahun. Lokasi ini menjadi faktor keberuntungan lainnya yang membuat ia begitu mencintai kota Istanbul.
Dari setiap opsi yang ada, sudut favorit penulis di Istanbul adalah tepian Selat Bosphorus. Berjalan di tepian Bosphorus sembari mendengar nyanyian burung camar demi menghindari sesaknya kota merupakan ritual favorit penulis di akhir pekan. Hamparan laut biru nan jernih begitu efektif mengusir stres.
Istanbul bukanlah sekadar kota. Ia seumpama Kotak Pandora yang menyimpan ribuan rahasia. Kota ini pernah menjadi bahan rebutan para sultan, raja maupun kaisar. Ada ratusan peperangan terjadi demi penaklukan kota ini. Mereka yang menang akan menjadi penentu seperti apa karakter kota hendak dibentuk (hlm. 9).
Terbitnya buku ‘Mendengar Bisikan Kota’ karya M. Sya’roni Rofii ini dapat menjadi sumber inspirasi dan motivasi bagi para pemuda yang ingin melanjutkan kuliah ke luar negeri. Tak hanya menimba ilmu, tetapi juga sambil traveling ke berbagai negara ketika liburan kuliah tiba.
Baca Juga
-
Tak Ada Perayaan Tahun Baru Malam Ini
-
Refleksi Keserakahan Manusia dan Kritik Penguasa dalam Antologi Puisi Negeri Daging Karya Gus Mus
-
Seni Mengatur Waktu dengan Baik dalam Buku "Agar Waktu Anda Lebih Bermakna"
-
Buku Perjalanan ke Langit: Nasihat tentang Pentingnya Mengingat Kematian
-
Ulasan Buku Resep Kaya ala Orang Cina, Cara Menuju Kekayaan yang Berlimpah
Artikel Terkait
News
-
Korea Selatan Resmi Berlakukan UU Goo Hara, Batasi Hak Waris Orang Tua Penelantar Anak
-
Resolusi Logis Awal Tahun Perempuan Modern di Tengah Tekanan Multiperan
-
Lebih dari Sekadar Kebiasaan: Bahaya Kecanduan Scrolling bagi Kesehatan Mental Remaja
-
Gagal Liburan karena Kerja? Lakukan Cara Ini Agar Mood Tetap Terjaga
-
4 Rekomendasi Restoran BBQ di Jakarta, Surganya Pencinta Daging Berkualitas
Terkini
-
T.O.P Comeback lewat Album Solo Baru usai 13 Tahun Vakum dari Musik
-
Review The Beast in Me: Thriller Psikologis yang Mengulik Sisi Buas Manusia
-
Cari Tablet Windows Murah? Ini 4 Model yang Paling Cocok Dibeli 2026
-
CERPEN: Pertemuan Pertama
-
Ulasan Novel Lelaki Harimau: Kekerasan Rumah Tangga hingga Trauma Generasi