Di tengah arus digitalisasi dan pergantian generasi, cerita-cerita lisan dan pengalaman empiris para pelaku seni kerap terpinggirkan. Pameran menjadi ruang lintas waktu untuk menjembatani generasi yang dulu “berperang”, lalu mempertanyakan makna seni, bersama generasi hari ini yang hidup dalam lanskap seni yang serba cepat namun rawan lupa. Menanggapi peristiwa tersebut Rumah DAS membuat ruang yang tidak hanya sebagai perayaan usia atau kronologi pencapaian, melainkan bentuk penghormatan terhadap dedikasi, romansa perjuangan, dan konstelasi sejarah yang jarang terdokumentasikan.
Berkolaborasi dengan empat seniman senior, Rumah DAS menghadirkan pameran seni rupa bertajuk "BOX TO BOX" yang menandai perjalanan lima dekade berkarya dari Dyan Anggraini, Hari Budiono, Alex Luthfie R., dan Boyke Aditya Khrisna S. yang menampilkan karya-karya terbaru dan potongan sejarah dari para seniman yang telah membentuk lanskap seni rupa Yogyakarta sejak akhir 1970-an.
Berawal dari pertemuan saat kuliah di STSRI ASRI (1976–1985) mengajak masyarakat untuk memproyeksikan bahwa seni rupa bukan hanya sekadar produk, melainkan menjadi sebuah jejak sosial dan keberanian para seniman untuk menyampaikan pesan yang mampu menghasilkan jejaring diskusi dan eksperimen dalam meresponnya.
Pameran ini juga mencoba mengangkat perspektif generasi milenial dan Z dalam mengelola seni, “Sebagai generasi yang terbiasa dengan manajemen POAC—Planning, Organizing, Actuating, Controlling—kami belajar bahwa praktik seni rupa di Jogja tidak bisa sepenuhnya dikelola dengan struktur kaku. Ia tumbuh secara dinamis, lentur, dan seringkali berdasarkan relasi sosial dan pergaulan yang cair,” ujar Fiqhi Achmad, Perwakilan Rumah DAS.
Menghabiskan waktu selama tujuh bulan pertemuan dan pembuatan karya secara intensif, para seniman mencoba berbagi kisah melalui media yang berbeda. Selain itu, karya yang dibuat juga perlu mendalami kembali arsip pribadi setiap seniman. Bukan sekadar pameran retrospektif, namun mencoba merespon konteks dan peristiwa yang terjadi hari ini melalui karya yang akan dipamerkan dengan menciptakan titik temu antar kotak-kotak pengalaman dari masa lalu menuju masa kini.
Pameran yang dibuka secara resmi pada 21 Juni 2025 oleh Bre Redana ini menghadirkan karya-karya terkini dari keempat seniman yang disandingkan dengan narasi-narasi pengalaman mereka dan menjadi titik temu antara nostalgia dan refleksi, arsip hidup dan ide baru. Bre Redana mengatakan, “Pinggiran dari festival besar seperti pameran ini memiliki karakter sendiri (kesetiaan) untuk mengawal dekat kebudayaan zaman dengan meninggalkan jejak-jejak masa lalu,”
Melalui dokumentasi naratif yang jujur dan terbuka, Rumah DAS berharap kegiatan ini dapat menjadi arsip hidup bagi generasi mendatang. Selain pameran, ada juga program pendukung yang bisa diikuti selama pelaksanaan berlangsung, seperti diskusi bersama para seniman dan temu wicara lintas generasi.
Baca Juga
-
Kenapa Orang Rela Antre demi AP x Swatch? Fenomena FOMO dan Budaya Luxury
-
Gamers Tidak Selalu Gagal: Perspektif Baru dari Dear Parents
-
Kenapa Baca Banyak Buku Tidak Otomatis Membuat Seseorang Pandai Menulis?
-
Boyfriend on Demand: Kala AI Terasa Lebih Nyata daripada Manusia
-
No Place to Be Single, Alasan Kota Kecil Selalu Cocok untuk Film Romantis
Artikel Terkait
News
-
Petir Cup 2026 Usai, Semangat Menendang Masih Menggelegar
-
Tak Sekadar Riding, Begundal War Wer Tunjukkan Sisi Positif Komunitas Motor
-
Generasi Peduli Iklim, Komunitas yang Ubah Keresahan Jadi Aksi Nyata
-
Bukan Sekadar Seni: Bagaimana Teater Jaran Abang Mengubah Remaja Jogja Menjadi Sosok Berdaya
-
Membaca Kelakar Madura Buat Gus Dur: Sebuah Buku Tentang Indonesia yang Menggelitik
Terkini
-
Kenapa Orang Rela Antre demi AP x Swatch? Fenomena FOMO dan Budaya Luxury
-
Gamers Tidak Selalu Gagal: Perspektif Baru dari Dear Parents
-
Kenapa Baca Banyak Buku Tidak Otomatis Membuat Seseorang Pandai Menulis?
-
Boyfriend on Demand: Kala AI Terasa Lebih Nyata daripada Manusia
-
No Place to Be Single, Alasan Kota Kecil Selalu Cocok untuk Film Romantis