Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menyindir Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) saat berpidato di Sidang Umum ke-80. Ia mengklaim berhasil menghentikan tujuh perang dunia tanpa bantuan PBB, bahkan merasa layak meraih Hadiah Nobel Perdamaian.
Hal tersebut diungkapkan oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump saat berpidato di Sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di New York, Selasa (23/9/2025).
Melalui salah satu kanal YouTube ITV News, Trump menjelaskan bahwa selama tujuh bulan masa kepemimpinannya sebagai Presiden AS, ia berhasil menghentikan tujuh perang yang dianggapnya sulit diselesaikan, beberapa di antaranya bahkan telah berlangsung lama.
Konflik yang diklaim Trump berhasil dihentikan telah berlangsung sangat lama, termasuk beberapa perang selama 31 tahun, satu perang selama 36 tahun, dan satu lagi selama 28 tahun.
“Dalam kurun waktu hanya tujuh bulan, saya telah mengakhiri tujuh perang yang tidak ada habisnya,” ujarnya.
Trump menyebut konflik yang dimaksud meliputi Kamboja–Thailand, Kosovo–Serbia, Kongo–Rwanda, Pakistan–India, Israel–Iran, Mesir–Etiopia, hingga Armenia–Azerbaijan. Menurutnya, seluruh penyelesaian itu terjadi berkat upaya diplomasi yang ia pimpin, bukan berkat peran PBB.
Trump menegaskan bahwa tidak ada presiden, perdana menteri, maupun negara lain yang pernah melakukan hal serupa, dan ia berhasil mencapainya hanya dalam tujuh bulan.
Ia menyebut pencapaian itu belum pernah terjadi sebelumnya dan merasa sangat tersanjung bisa mewujudkannya.
“Sangat disayangkan bahwa saya harus melakukan hal-hal ini, bukan PBB yang melakukannya,” tambahnya.
Ia juga menyayangkan dalam semua kasus, PBB tidak mencoba membantu satu pun dari mereka.
Trump mempertanyakan kembali tujuan berdirinya Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Menurutnya, lembaga tersebut sebenarnya memiliki potensi besar untuk menjaga perdamaian dunia.
Namun, hingga kini potensi itu tak pernah benar-benar diwujudkan. Alih-alih menyelesaikan konflik, kata Trump, PBB hanya sibuk mengeluarkan pernyataan keras tanpa tindak lanjut nyata.
“Yang mereka lakukan hanyalah menulis surat dengan kata-kata yang sangat tegas dan kemudian tidak pernah menindaklanjuti surat itu,” tegasnya.
Bagi Trump, sikap semacam itu hanyalah kata-kata kosong, dan kata-kata kosong tak akan pernah bisa mengakhiri perang.
“Satu-satunya hal yang menyelesaikan perang dan peperangan adalah tindakan,” tambahnya.
Baca Juga
-
Merayakan Perempuan, FISTFEST Hadirkan Ruang Ekspresi Lewat Bunga dan Musik
-
Menebar Kebaikan di Bulan Suci, FISTFEST Berkolaborasi dengan Waroeng Steak
-
Tanam Mangrove dan Berkarya, Kolaborasi Seniman dan Penulis di Pantai Baros
-
4 Rekomendasi Social Space di Jogja untuk Nongkrong dan Diskusi Santai
-
Lagu Digunakan Tanpa Izin, Band Wijaya 80 Laporkan Pelanggaran Hak Cipta
Artikel Terkait
-
Aksi Gebrak Meja Prabowo di PBB Dipuji Donald Trump: 'Powerful!'
-
Pidato di Sidang Umum PBB, Prabowo Langsung Dapat Sapaan Spesial dari Trump
-
Rizal Mallarangeng: Menelaah Pergeseran Geopolitik Global dan Posisi Krusial Indonesia
-
Trump Menggemparkan PBB: Pidato Satu Jam Tanpa Naskah, Kritik Pedas Migrasi dan Iklim
-
Muhaimin Puji Prabowo di Pidato PBB : Presiden yang Berhasil Pidato dengan Baik setelah Bung Karno
News
-
Karhutla Kembali Kepung Kalimantan, Ini Dampaknya bagi Iklim
-
Pecah! Gelar Pertunjukan HIVI! Tutup MOKAKU UPI 2026 di Bumi Siliwangi
-
KKN-MAs Kelompok 19 Kenalkan Dimsum Lele untuk PMT Balita di Puthukrejo
-
Tegang Maksimal! Potret Kelam Remaja Kaya Los Angeles Era 80-an dalam Serial The Shards
-
Gabung Grup Maut AVC Women's 2026, Begini Peluang Timnas Voli Putri Indonesia
Terkini
-
Indonesia Masuk 6 Negara dengan Obesitas Rendah di Dunia, Apa Rahasianya?
-
Sinopsis Insidious: Out of the Further, Kisah Baru Elise dengan Teror Seram
-
Rektor Ditangkap KPK: Maba Korban Pemerasan Harus Diselamatkan?
-
Tarif Parkir Rp60 Ribu Jakarta: Bukan soal Angka, tapi Kepercayaan
-
5 Centimeters Per Second: Ketika Cinta Pertama Bertemu dengan Kenyataan