Di tengah banjir informasi visual dan derasnya arus konten di media sosial, kemampuan membedakan antara foto dokumentasi, karya artistik, dan foto jurnalistik kian memudar.
Banyak anak muda yang gemar memotret, tetapi belum memahami bagaimana sebuah foto bisa menyampaikan pesan, menggugah empati, dan merekam realitas sosial dengan etika.
Kondisi ini membuat perum Lembaga Kantor Berita Nasional (LKBN) ANTARA berkolaborasi dengan Biro Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menggelar workshop Fotografi Jurnalistik bagi mahasiswa di Gedung Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (Fisipol) Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta, Kamis.
Kegiatan yang menghadirkan narasumber Pewarta Foto ANTARA Andreas Fitri Atmoko dan Aprillio Akbar tersebut mengusung tema "Jelajah Imaji Teman ANTARA - Merangkai Kisah Humanis Menjadi Inspirasi".
Workshop yang diikuti sejumlah mahasiswa dari beberapa perguruan tinggi di Yogyakarta ini merupakan bagian dari Program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) LKBN ANTARA yang diselenggarakan secara rutin dan berkelanjutan di sejumlah daerah dan kali ini di Yogyakarta.
"Workshop Fotografi ini merupakan salah satu wujud komitmen ANTARA untuk berkontribusi dalam meningkatkan kapasitas generasi muda di bidang jurnalistik,” kata Kepala Perum LKBN ANTARA Biro DIY Nur Istibsaroh dalam sambutannya.
Sementara itu Ardian Indro Yuwono selaku Direktur International Undergraduate Program UGM, menyampaikan apresiasinya atas kolaborasi antara UGM dan LKBN ANTARA.
"Semoga acara ini bukan hanya menginspirasi, tetapi juga bermanfaat dan menambah skill teman-teman. Atas nama Fisipol, khususnya Departemen Komunikasi, saya mengucapkan terima kasih kepada ANTARA atas kolaborasinya," kata Adrian.
Adrian berharap kegiatan serupa akan kembali digelar pada periode selanjutnya, karena bertujuan untuk pengembangan bakat dan minat di kalangan generasi muda khusunya mahasiswa.
Peserta workshop dalam kesempatan tersebut mendapatkan bekal mengenai cara menulis caption foto yang informatif agar pesan visual yang disampaikan dapat lebih mudah dipahami.
Selain itu, peserta juga diajak memahami konsep simpati dalam foto jurnalistik, sehingga karya yang dihasilkan tidak hanya merekam peristiwa, tetapi juga menggugah perasaan dan menghadirkan kedekatan emosional antara subjek, fotografer, dan audiens.
Melalui sinergi antara dunia akademik dan industri media, ANTARA berharap kegiatan ini dapat melahirkan generasi pewarta muda yang tidak hanya piawai secara teknis, tetapi juga memiliki kepekaan sosial dan moral dalam mengangkat isu-isu kemanusiaan.
Sebagai lanjutan dari kegiatan tersebut, pada Jumat 14 November 2025, ANTARA DIY akan kembali menggelar pelatihan jurnalistik di tempat yang sama.
Program ini diharapkan dapat memperluas wawasan peserta mengenai prinsip dasar jurnalistik serta peran media dalam menyebarkan informasi yang kredibel dan inspiratif.
Baca Juga
-
Suara yang Memanggil dari Dunia yang Tidak Pernah Ada
-
Warisan Leluhur Negeri Tirai Bambu: 88 Kisah yang Bikin Kamu Lebih Bijak
-
Nasib Apes Pemain Diaspora: Main di Belanda tapi "Dibekukan" Gara-Gara Paspor WNI?
-
Saat Opini Media Sosial Dianggap Lebih Valid dari Sains: Selamat Datang di Era Matinya Kepakaran
-
Riyadus Shalihin: Teduhnya Oase Spiritual di Tengah Hiruk-Pikuk Dunia
Artikel Terkait
News
-
Rupiah Tembus Rp17.000 per Dolar AS: Apakah Ini Saatnya Panik atau Investasi?
-
Stop Jadi Martir Sosial! People Pleaser itu Bukan Orang Baik, Justru Merugikan Loh
-
Biaya Editing hingga Mic Rp0, Fakta di Balik Kasus Videografer Amsal Sitepu
-
8 Cara Menghidupkan HP yang Mati Total Tanpa Tombol Power dan Volume
-
Fakta Hukum Mengejutkan: Mengapa Menteri Korupsi, Presiden Tetap 'Kebal Hukum'?
Terkini
-
Suara yang Memanggil dari Dunia yang Tidak Pernah Ada
-
Warisan Leluhur Negeri Tirai Bambu: 88 Kisah yang Bikin Kamu Lebih Bijak
-
Nasib Apes Pemain Diaspora: Main di Belanda tapi "Dibekukan" Gara-Gara Paspor WNI?
-
Saat Opini Media Sosial Dianggap Lebih Valid dari Sains: Selamat Datang di Era Matinya Kepakaran
-
Riyadus Shalihin: Teduhnya Oase Spiritual di Tengah Hiruk-Pikuk Dunia