Bencana banjir yang melanda beberapa wilayah di Sumatera pada November 2025, tidak hanya melenyapkan rumah-rumah warga. Akses jalanan juga terputus, sehingga menyulitkan dalam penyaluran bantuan dari berbagai pihak, baik itu pemerintah, instansi, maupun masyarakat.
Data dari BNPB bahwa hingga 28 Desember tercatat 1138 jiwa meninggal dunia, total rumah rusak dari ringan hingga berat mencapai 171.379 unit, 3.188 fasilitas pendidikan rusak, 215 fasilitas kesehatan rusak, jingga jembatan yang terputus ada 97 dan jalanan terputus sebanyak 99.
Dari data tersebut nampak jelas besarnya kerugian yang dialami warga terdampak bencana Sumatera. Terutama untuk infrastruktur jembatan dan jalan yang terputus sehingga akses ke wilayah terdampak sangat sulit.
Sebuah Harapan untuk Pulih dengan Kembalinya Akses Jalan yang Terputus
Bencana tanah longsor dan banjir yang melanda beberapa wilayah Sumatera menjadi pusat perhatian seluruh masyarakat Indonesia, bahkan dunia. Bagaimana tidak, hanya dalam satu malam listrik mati, akses jalan terputus, bahkan hingga saat ini masih banyak korban jiwa yang hilang.
Warga terdampak bencana yang bertahan tanpa listrik dan makanan sangat luar biasa. Untuk itu, pemulihan infrastruktur jalan dan jembatan menjadi peritonitis utama agar bantuan-bantuan yang datang bisa tersalurkan ke seluruh wilayah yang terdampak bencana Sumatera.
Selain itu, agar warga Sumatera dapat beraktivitas normal seperti sedia kala. Meski prosesnya bertahap, karena masih ada beberapa wilayah yang terisolasi.
Bahkan dari video yang beredar dan viral di media sosial, betapa mirisnya melihat seorang Ibu yang menggendong anaknya menyeberangi sungai Bah dengan tali sling di Ketol, Aceh Tengah. Hal tersebut karena putusnya Jembatan Berawang Gadjah pasca banjir dan hasil swadaya masyarakat, TNI dan Polri sementara waktu membuat penyebrangan darurat dari tali sling.
Pemerintah secara bertahap mengupayakan percepatan akses jembatan dan jalan bisa kembali pulih. Berikut ini beberapa informasi hasil dari kinerja pemerintah dalam penanganan pasca banjir, yaitu:
Penanganan Penimbunan dan Perbaikan Oprit Jembatan Meureudu yang Sebelumnya Runtuh karena Banjir
Jembatan Meureudu yang sempat terputus dan tidak bisa dilalui bisa kembali fungsional. Sejak, 12 Desember 2025 Jembatan Meureudu Pidie Jaya sebagai penghubung utama ke wilayah Kabupaten Bireuen sudah bisa dilalui kembali.
Pembangunan Jembatan Darurat Malalak di Kabupaten Agam
Jembatan Melalak terputus karena banjir Sumatera, sehingga pemerintah mencoba membuat Jembatan Darurat Malalak sebagai alternatif jalan yang bisa dilewati. Tipe Jembatan Darurat Malalak yaitu tipe Armaco (bailey).
Pemasangan jembatan darurat ini diperkirakan membutuhkan waktu 2 minggu, yang mana dapat diakses oleh masyarakat di awal januari 2026.
Penanganan Ruas Jalan
Begitu juga penanganan untuk ruas jalan yang terdampak banjir. Akses jalan nasional sebagai urat nadi mobilitas kembali fungsional, sehingga masyarakat bisa beraktivitas kembali, distribusi logistik tidak terhambat, hingga pemulihan aktivitas sosial-ekonomi perlahan bergerak-berjalan.
Hal tersebut menambah daftar komitmen pemerintah untuk mempercepat penanganan infrastruktur yang mana bukan sekedar isapan jempol belaka. Kehadiran pemerintah dinanti masyarakat Sumatera yang terdampak, juga seluruh masyarakat Indonesia.
Dalam percepatan pemulihan infrastruktur jalanan maupun jembatan, Kementerian PU melalui Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) Aceh telah memobilisasi 36 alat berat dan 66 unit dump truck. Seluruh peralatan tersebut disebar di sejumlah lokasi prioritas di Aceh Tamiang.
Sebaran alat berat difokuskan untuk percepatan pembersihan material banjir dan longsoran, pemulihan akses jalan, serta penanganan fasilitas publik. Pekerjaan dilakukan secara bertahap menyesuaikan kondisi dan tingkat kerusakan di lapangan.
Berdasarkan peta sebaran BPJN Aceh, alat berat ditempatkan di berbagai ruas dan titik strategis dengan kombinasi peralatan seperti excavator, dozer, loader, grader, beco loader, hingga dump truck. Kegiatan pembersihan kawasan perkotaan dilakukan secara berkelanjutan, baik di jalan nasional maupun jalan daerah.
Bagaimana untuk wilayah yang sulit terjangkau oleh alat berat?
Pemerintah melalui Ditjen Bina Marga Kementerian PU memiliki solusi tersendiri, yaitu menggunakan alat dengan ukuran lebih kecil agar proses pembersihan tetap berjalan optimal.
Dukungan pemerintah sangat penting dan utama terhadap Sumatera pasca banjir. Terutama dalam hal penanganan dan perbaikan infrastruktur jalan dan jembatan, sehingga masyarakat bisa secepatnya kembali beraktivitas normal.
Baca Juga
Artikel Terkait
News
-
Memulihkan Jalan, Menyelamatkan Nyawa: Respons Infrastruktur Pascabencana di Aceh
-
Jembatan Krueng Meureundu Tersambung, Konektivitas Timur Aceh Mulai Pulih
-
Menguji Keseriusan Indonesia Soal Keadilan Ekologis Pasca COP30 Brasil
-
Gotong Royong Membangun Kembali Sumatra dan Aceh yang Diterjang Banjir
-
Menuju Pulihnya Jalur Lembah Anai: Upaya Kelancaran Logistik Ranah Minang
Terkini
-
Pegang Estafet Kepelatihan, John Herdman Bersaing dengan Waktu Susun Pakem Terbaik Skuat Garuda
-
4 Moisturizer Gel Rawat Kulit Berminyak Ampuh Redakan Kemerahan dan Jerawat
-
4 Peeling Gel Salicylic Acid untuk Eksfoliasi dan Atasi Bruntusan di Wajah
-
4 Ide Outfit Rok ala Bae Suzy, Feminin Banget!
-
Murah Tapi Niat: 5 Speaker PC 100 Ribuan dengan Kualitas Terbaik