Banyak orang membayangkan bahwa kebahagiaan akan datang secara otomatis setelah sebuah tujuan besar tercapai. Lulus tepat waktu, mendapat pekerjaan impian, naik jabatan, atau berhasil memenuhi target hidup yang selama ini dikejar.
Namun, kenyataannya, tidak sedikit orang yang justru merasa hampa setelah momen sukses itu terlewati. Alih-alih puas, muncul rasa kosong, lelah, bahkan bingung tentang apa yang harus dilakukan selanjutnya. Hal ini kerap kali menyebabkan seseorang merasa bersalah karena baginya kebahagiaan seharusnya ia rasakan setelah lama berjuang.
Kehampaan setelah sukses menantang anggapan umum bahwa pencapaian selalu sejalan dengan kepuasan. Mengapa perasaan kosong justru muncul ketika tujuan tercapai? Apakah ada yang keliru dengan cara kita memaknai kesuksesan?
Di sini kita dapat melihat bersama pemahaman bahwa keberhasilan eksternal tidak selalu berbanding lurus dengan pemenuhan kebutuhan psikologis yang lebih dalam.
Euforia Sementara dan Efek Adaptasi
Saat tujuan tercapai, otak merespons dengan lonjakan emosi positif. Perasaan bangga, lega, dan senang muncul sebagai hasil dari usaha panjang yang akhirnya membuahkan hasil. Namun, kondisi ini bersifat sementara. Dalam psikologi, fenomena ini dikenal sebagai hedonic adaptation, yaitu kecenderungan manusia untuk kembali ke tingkat kebahagiaan awal setelah peristiwa besar, baik positif maupun negatif.
Ketika euforia mereda, yang tersisa adalah kondisi emosional yang lebih datar. Jika selama ini hidup terlalu terfokus pada satu tujuan, setelah tujuan itu tercapai, individu bisa kehilangan arah. Kehampaan muncul bukan karena kesuksesan itu salah, melainkan karena tidak ada lagi makna yang menopang setelahnya.
Tujuan Eksternal dan Kekosongan Makna
Banyak tujuan yang kita kejar bersifat eksternal, misalnya status, pengakuan sosial, atau pencapaian materi. Tujuan-tujuan ini jelas sah dan penting, tetapi tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan internal seseorang. Ketika kesuksesan hanya diukur dari standar luar, kepuasan yang dihasilkan cenderung rapuh.
Kekosongan muncul ketika individu menyadari bahwa pencapaian tersebut tidak sepenuhnya mencerminkan nilai dan kebutuhan dirinya. Tanpa keterhubungan dengan makna personal, kesuksesan justru terasa seperti daftar centang yang selesai dikerjakan, bukan pengalaman yang benar-benar menghidupkan jiwa.
Identitas yang Terikat pada Prestasi
Masalah lain muncul ketika identitas diri terlalu melekat pada prestasi. Seseorang bisa mendefinisikan dirinya semata-mata sebagai "orang sukses" berdasarkan apa yang ia raih. Ketika tujuan tersebut telah tercapai, ia malah mempertanyakan identitas dirinya saat ini.
Ketergantungan pada prestasi membuat harga diri rentan. Saat tidak ada target baru atau validasi eksternal, individu bisa merasa kehilangan nilai diri. Kehampaan dalam kondisi ini bukan sekadar rasa bosan, melainkan krisis identitas yang menuntut refleksi lebih dalam tentang siapa diri kita di luar pencapaian.
Kebutuhan Psikologis yang Terabaikan
Tidak jarang kesuksesan menuntut pengorbanan, seperti waktu istirahat, relasi sosial, dan koneksi dengan diri sendiri. Dalam proses mengejar tujuan, kebutuhan psikologis seperti kedekatan emosional, otonomi, dan pertumbuhan personal bisa terabaikan. Saat tujuan tercapai, kelelahan emosional yang tertunda akhirnya muncul ke permukaan.
Kehampaan menjadi sinyal bahwa ada kebutuhan yang belum terpenuhi. Bukan berarti kita harus menolak ambisi, tetapi kita perlu menyeimbangkannya dengan perhatian pada kesejahteraan psikologis. Tanpa keseimbangan ini, kesuksesan justru menjadi titik lelah, bukan titik bahagia.
Kehampaan setelah sukses bukan tanda kegagalan, melainkan sinyal untuk memahami diri lebih dalam. Fase ini mengingatkan kita bahwa manusia tidak hidup hanya untuk mencapai target, tetapi juga untuk menemukan makna, keterhubungan, dan pertumbuhan batin. Kesuksesan sejati bukan sekadar soal apa yang berhasil diraih, melainkan bagaimana pencapaian itu selaras dengan nilai dan kebutuhan psikologis diri sendiri.
Baca Juga
-
Kepercayaan Publik yang Kian Menjauh dari Pemerintahan
-
Saat Bertahan Sendiri Dijadikan Standar Kedewasaan: Apa Arti Mandiri?
-
Banjir yang Berulang: Peringatan Sistemik yang Tak Kunjung Didengar
-
Tren Childfree dan Anti-Nikah: Apa yang Sebenarnya Dicari Gen Z?
-
Saat Kesedihan Tak Diakui: Dampak Bahaya Memendam Duka Bagi Kesehatan Jiwa
Artikel Terkait
-
Paradoks Kebahagiaan Rakyat: Ketika Tawa Menutupi Pemiskinan yang Diciptakan Negara
-
Kebahagiaan Rakyat Jangan Berhenti Jadi Simbol, Harus Diiringi Kesejahteraan Nyata
-
Sinopsis Tunggu Aku Sukses Nanti, Drama Keluarga tentang Makna Kesuksesan
-
Terharu Rakyat Indonesia Bahagia Berdasarkan Survei, Prabowo Singgung Kehidupan Sangat Sederhana
-
Bukan Kekayaan, Ini 6 Hal yang Membuat Finlandia Jadi Negara Paling Bahagia di Dunia
News
-
Misteri di Balik Lampu Jalan yang Selalu Menyala Sendiri
-
Educatopia Expo 2026 Hadir di Mojokerto, Jadi Ruang Eksplorasi Pendidikan dan Minat Generasi Muda
-
Ridwan Kamil dan Atalia Praratya Resmi Bercerai, Tak Ada Masalah Gono-Gini?
-
Pemulihan Infrastruktur Sukses, Senyum Aceh Balik Kembali
-
Asa Menuju Pulih Pasca Bencana Sumatra
Terkini
-
Film We Bury the Dead: Duka di Tanah Penuh Zombie yang Mengerikan!
-
4 Drama Korea Adaptasi Webtoon dibintangi Oh Yeon Seo
-
5 Film Baru Sambut Akhir Pekan, Ada The Housemaid hingga Modual Nekad
-
4 Mix and Match Daily OOTD ala Wooyoung ATEEZ, Street Style ke Formal Look
-
Drama China A Romance of the Little Forest: Cinta Tumbuh Seperti Tanaman