Selama ini, standar “profesional” kerja seseorang diukur dari jam kantor 9-to-5. Kerja dari pagi sampai sore, duduk di balik meja dan terikat pada kepatuhan, serta aturan yang kaku.
Namun, bagi penyandang disabilitas yang merindukan pekerjaan, hambatan terbesar bukanlah keterbatasan fisik atau mental, melainkan ekosistem kerja yang tidak kompromi terhadap keberagaman cara kerja otak manusia.
Menanggapi femomena ini, Yayasan Happyself Harmony Family secara resmi meluncurkan Sinema Inklusi Nusantara sebagai wadah pemberdayaan bagi penyandang disabilitas melalui ruang seni dan kreatif.
Mereka sadar bahwa sensitivitas emosi, pemrosesan sensorik, dan fluktuasi suasana hati yang dialami para penyandang disabilitas itu berbeda. Di sini, industri film diposisikan sebagai model tempat kerja yang lebih manusiawi dan adaptif.
Sejalan dengan pandangan World Health Organization (WHO) terkait interaksi antarindividu dan dukungan lingkungan sekitar, Sinema Inklusi Nusantara menerapkan nilai inklusif dan adaptif. Di industri ini, mereka meminimalisir hambatan dan berusaha mendukung potensi setiap pekerjanya.
Di Indonesia, data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat sebanyak 932.435 penyandang disabilitas telah bekerja. Namun, jumlah tersebut baru menyentuh 0,64% dari total tenaga kerja nasional yang mencapai 144,64 juta orang. Rendahnya angka ini menjadi sinyal kuat bahwa sistem “kantoran” konvensional yang linear sering kali gagal menampung mereka yang memiliki cara kerja otak yang berbeda.
Prisca Priscilla selaku Ketua Yayasan Happyself Harmony Family mengatakan bahwa Neuroscience menunjukkan kepada kita bahwa tidak semua otak dirancang untuk bekerja dalam kotak yang kaku sepanjang waktu. Banyak individu, termasuk penyandang disabilitas memiliki kepekaan emosional dan kreativitas yang tinggi. Hal ini bisa menjadi kekuatan jika ditempatkan di lingkungan yang tepat.
Bukan hanya sebagai ruang berekspresi, Sinema Inklusi Nusantara diharapkan bisa menjadi alur kemandirian ekonomi. Dari inovasi ini, kreator-kreator disabilitas bisa lahir dengan pemikiran kreatif mereka. Para difabel dapat terlibat aktif mulai dari penulisan naskah, hingga distribusi karya. Hal ini tentunya juga dapat memberikan kontribusi nyata bagi kesejahteraan keluarga mereka.
Sinema Inklusi Nusantara hadir sebagai tamparan bagi dunia industri. Mereka menunjukkan bahwa sudah saatnya Indonesia memulai desain sistem kerja yang memahami manusia. Yayasan Happyself Harmony Family menegaskan bahwa inklusi sejati adalah tentang kesempatan yang setara untuk berdaya.
Baca Juga
-
Silent Book Club Jakarta: Cara Baru Menuntaskan Buku di Tengah Keramaian
-
River Ranger Jakarta Pilih Tersesat di Pedalaman Demi Solusi Warga, Kenapa?
-
Studi: Perluasan Ruang Hijau Kota Hanya Redam Sebagian Kecil Kenaikan Suhu, Bagaimana Solusinya
-
Berhenti Merasa Jadi Orang Paling Lelah, Dunia Bukan Milikmu Sendiri!
-
Yoursay Class: Tak Sekadar Curhat, Ini Cara Menulis Opini Personal yang Relatable dan Berdampak
Artikel Terkait
News
-
Tragedi Lansia di Pekanbaru: Ketika 'Mantan Keluarga' Rancang Skenario Maut Demi Harta
-
Di Tengah Ramainya Malioboro, Komunitas Andong Ini Terhubung Lewat Selapan
-
Hari Buruh Sedunia: Perjuangan Pekerja Melawan Jam Kerja yang Mencekik
-
Sisi Gelap Internet: Ketika Privasi Menjadi Ruang Nyaman bagi Para Predator
-
Rekor Baru! Sabastian Sawe Jadi Manusia Pertama Lari 42 Km di Bawah 2 Jam
Terkini
-
Ironi Cinta dalam Buku Passion: Mencintaimu dalam Setiap Ruang dan Waktu
-
5 Hair Tonic Biotin untuk Transformasi Rambut Lebih Lebat dan Sehat
-
5 Rekomendasi Drama Korea Healing dengan Latar Pedesaan, Bikin Hati Adem
-
Validasi di Media Sosial: Kebutuhan atau Ketergantungan yang Tak Disadari?
-
Pori-Pori Bersih Maksimal! 3 Clay Mask Red Bean Terbaik untuk Kulit Glowing