Separuh jiwaku tertinggal bersamamu,
di rumah kecil yang kini hanya menyimpan sunyi.
Aku masih ingat caramu menatap,
dengan mata yang penuh kasih, seolah dunia ini tak pernah kejam.
Dari tanganmu aku belajar arti sabar,
dari pelukmu aku tahu makna pulang.
***
Pagi itu, di musim panas, aku berjalan seorang diri menyusuri hiruk-pikuknya dunia. Dengan pandangan menunduk layu, aku melewati beberapa tempat yang dulu sering kita kunjungi bersama. Langkahku terhenti di sebuah pusat perbelanjaan.
Lalu waktu berbisik...
“Ara....”
(Seketika suara itu menggetarkan seluruh tubuhku)
“Nenek pasti akan menemukanmu.”
“Cucu Nenek sembunyi di mana, ya?”
“Ba... ini dia cucu Nenek yang paling cantik.”
“Ayo kita pulang, Nenek sudah lelah, hari juga sudah senja.”
“Nanti kita ketinggalan angkot.”
Sekelebat bayangan itu lewat dengan penuh kenangan, meninggalkan getar halus di dada yang tak juga reda. Aku pun melanjutkan perjalanan sampai ke tempat peristirahatannya. Tempat yang begitu tenang, jauh dari kebisingan dunia.
Jam dinding berdenting tujuh kali, terik sang mentari mulai menghangatkan bumi. Dari kejauhan terdengar suara yang memanggil dengan lembut.
“Ara, Sayang...”
“Bangun, kamu harus sekolah.”
“Hari ini adalah ujian terakhirmu.”
“Haaah... sebentar lagi, Nek.”
(Terdengar pelan, seolah dunia di balik selimut jauh lebih tenang dari kenyataan).
Sekali lagi, jam berdenting. Tapi kali ini menunjukkan pukul delapan pagi. Ujian dimulai 30 menit lagi.
“Nenek... Ara terlambat ke sekolah!”
“Kenapa tidak ada yang membangunkan Ara?”
“Kakek juga ikut-ikutan, nih.”
“Sudah, sudah dibangunkan sama Nenek.”
“Tapi, Ara tidur lagi.”
“Untung sekolah di belakang rumah, masih punya banyak waktu untuk bersiap-siap.”
Aku Amara Yasmin. Orang-orang memanggilku Ara. Sedari kecil aku tinggal bersama Nenek dan Kakek. Orang tuaku terlalu sibuk dengan dunianya sendiri sehingga aku jarang diperhatikan. Waktuku habis bersama Kakek dan Nenek.
Aku tidak menyukai Kakek karena Kakek terlalu keras dalam mendidikku dan sering memarahiku tanpa sebab. Sementara Nenek selalu ada untukku, selalu menemaniku, dan selalu mendukungku. Lahir dari keluarga broken home bukanlah keinginanku. Bahkan, kalau boleh meminta, aku tidak ingin kehidupan yang seperti ini.
“Aku sudah siap.”
“Sampai ketemu nanti, Nek.”
“Doakan Ara supaya bisa menjawab soal ujian dengan baik.”
“Hati-hati di jalan.”
Sedari kecil, Neneklah yang merawatku. Ia selalu bangun paling pagi, menyiapkan sarapan sederhana dengan tangannya yang mulai berkeriput, namun tak pernah kehilangan kehangatannya. Ia tak pernah lelah, bahkan tak sekalipun aku melihatnya menangis. Dalam diamnya tersimpan keteguhan, dalam senyumnya tersimpan kasih yang tak pernah habis.
Sering kali aku berpikir, bagaimana caranya Nenek menanggung semua lelah itu tanpa sedikit pun mengeluh. Ia hanya berkata dengan pelan, “Yang penting kamu sehat, Ra.”
“Itu sudah cukup buat Nenek bahagia.’’
Setiap kali mendengar itu, aku merasa dunia seakan berhenti sejenak dan membiarkan cinta seorang nenek berbicara tanpa kata. Saat kelulusan tiba, namaku disebut sebagai salah satu yang terbaik. Tapi kebahagiaan itu hanya sebentar karena aku harus melanjutkan sekolah menengah pertama di kampung halaman.
“Kakek, Nenek, Ara pamit.”
“Baik-baik di sana, Ara."
“Meski Kakek terlihat keras, tapi Kakek sayang Ara.”
“Nenek tunggu kepulangan Ara, nanti kita jalan-jalan lagi.”
“Akan Nenek belikan bando dan ikat rambut favorit Ara.”
“Yey! Terima kasih banyak, Nek,” ucapku sambil memeluk Nenek dan tersenyum.
Di kampung, aku menumpang di rumah Tante. Hari-hariku berjalan seperti biasa: sekolah, belajar, dan membantu pekerjaan rumah. Tapi setiap malam, pikiranku selalu melayang pada Nenek. Aku hanya bisa pulang ketika liburan tiba, menghitung hari dengan sabar sambil menahan rindu yang makin dalam.
Kring… kring… kring…
Suara telepon itu memecah keheningan malam di rumah Tante. Aku yang sedang mengerjakan tugas sekolah terperanjat. Entah kenapa, dada ini tiba-tiba terasa sesak, seperti firasat buruk tengah mengetuk.
Perlahan aku mengangkat gagang telepon. Dari seberang sana terdengar suara Mama dengan lirih, terbata, nyaris tak sanggup bicara.
“Nenek… sakit, Ra. Beliau tak bisa jalan.”
“Sekarang hanya bisa terbaring di tempat tidur.”
Sekujur tubuhku seakan membeku. Dunia terasa berhenti berputar. Pagi harinya, aku berangkat dengan hati yang gelisah. Sepanjang perjalanan, bayangan wajah Nenek terus terlintas di benakku; senyum hangatnya, panggilan lembutnya setiap kali aku pulang sekolah, dan caranya menepuk bahuku sambil berkata,
“Nenek tidak apa-apa, Ra. Yang penting kamu rajin belajar.”
Kini semua itu terasa seperti mimpi yang perlahan memudar. Setiap detik di jalan terasa begitu lama, seolah waktu menolak berlari. Aku hanya bisa berdoa dalam diam agar saat aku tiba nanti, Nenek masih sempat mendengar suaraku.
Aku melangkah pelan menuju kamar Nenek. Dari celah pintu yang terbuka, kulihat tubuhnya terbaring lemah di atas ranjang. Wajahnya pucat, tapi senyumnya tetap sama, lembut dan menenangkan, seolah berusaha menyembunyikan rasa sakitnya agar aku tidak khawatir.
“Nenek…” panggilku lirih, nyaris tanpa suara.
Ia menoleh perlahan, matanya menatapku penuh kasih.
“Kamu sudah besar, ya, Ra,” katanya pelan, suaranya bergetar namun hangat.
Saat itu aku sadar, waktu begitu cepat berlalu. Dan mungkin, inilah saat di mana aku harus belajar arti kehilangan dari sosok yang paling aku cintai.
***
Terima kasih, Nenek…
Karena telah mengajariku arti sabar saat dunia terasa berat,
arti ikhlas ketika sesuatu harus pergi,
arti tegar di tengah kehilangan,
dan arti tabah meski hati remuk oleh rindu.
Engkau mungkin telah tiada,
namun setiap nilai yang kau tanamkan
akan selalu hidup bersamaku.
Sebab kasihmu tak berakhir oleh waktu,
dan doaku tak akan pernah berhenti untukmu.
Baca Juga
Artikel Terkait
Cerita-fiksi
Terkini
-
Film Sebelum Dijemput Nenek: Horor Lokal dengan Sentuhan Modern
-
Comeback Main Film, Proyek Terbaru Jet Li Rilis Februari 2026
-
Review Buku Wonderful Muslimah Karier: Sukses Berkarya Tanpa Melupakan Syariat
-
Redmi Note 15 Pro 5G: Midrange Rasa Flagship di Tengah Harga HP Naik
-
Cha Eun Woo Terseret Skandal, Drakor The Wonder Fools Terancam Tak Tayang?