Bimo Aria Fundrika | Chairun Nisa
Novel Barichala
Chairun Nisa

Barichalla karya Khrisna Pabichara adalah novel fantasi yang kaya akan nuansa tradisi Bugis-Makassar. Novel ini menghadirkan petualangan epik ala fantasi klasik, namun dengan latar Nusantara yang segar dan berbeda.

Bagi pembaca yang menyukai karya seperti Percy Jackson atau The Lord of The Rings, Barichalla menawarkan sensasi petualangan serupa: dunia luas, konflik besar, dan unsur mitologi yang kuat—kali ini dibalut budaya lokal Makassar. Elemen kerajaan, ritual, makhluk peri, hingga konsep kuda terbang menjadi bagian dari kisah yang terasa hidup.

Sinopsis

Kisah diawali dengan suasana mencekam akibat kudeta di Kerajaan Barichalla. Permaisuri Kalerera bersama putra mahkota, Pangeran Ranggasela, terpaksa melarikan diri melalui jalur bawah tanah dengan bantuan para kesatria setia.

Cerita kemudian melompat sepuluh tahun ke depan. Ranggasela kini berusia 17 tahun dan hidup dengan konflik batin yang terus menghantuinya. Ia ingin menjauh dari peperangan, duka, dan keputusasaan yang melekat pada takdirnya sebagai pewaris takhta. Namun, ia sadar bahwa sebagai penerus kerajaan yang sah, ia memiliki tanggung jawab besar untuk menyelamatkan rakyat yang menderita akibat pajak tinggi dan pejabat korup.

Di sisi lain, Ranggasela memiliki mimpi besar: menjadi flyer, penunggang kuda terbang legendaris. Keinginan ini membuatnya memilih jalan pengembaraan, seolah menolak takdir kerajaan yang memaksanya hidup dalam peperangan.

Dalam perjalanannya, Ranggasela bertemu Sherina, putri bangsa peri yang juga bercita-cita menjadi flyer. Sherina memiliki kemampuan membaca pikiran, yang kelak menjadi kunci dalam berbagai peristiwa penting. Pertemuan mereka membuat petualangan Ranggasela tak hanya berisi pertarungan dan pencarian artefak, tetapi juga nuansa romansa yang cukup dominan.

Ranggasela kemudian memulai pencarian besar: menemukan Batu Hitam Abadi, pohon raksasa, perkamen kuda terbang, serta kuda terbang legendaris bernama Khalefa. Dalam perjalanan, ia menghadapi banyak rintangan, termasuk serangan penunggang kuda bertopeng besi.

Di sinilah Ranggasela mengalami pengalaman pertamanya membunuh sekaligus menyadari bahwa ia belum mampu mengendalikan kekuatannya. Sherina selalu mendampinginya, menenangkan Ranggasela di saat-saat genting.

Konflik semakin rumit ketika Gubernur Chappac menghalangi perjalanan Ranggasela dengan mengadakan sayembara: siapa pun yang berhasil membunuh Ranggasela akan mendapatkan hadiah besar. Ranggasela pun menjadi buruan banyak pihak, sehingga perjalanannya semakin berbahaya.

Dalam petualangan panjang itu, Ranggasela dan Sherina bertemu Freda, putri Kerajaan Teluh, serta Crash, calon flyer lainnya. Mereka juga bertemu penyihir Flor di hutan berbau busuk, dan akhirnya memperoleh perkamen kuda terbang yang menjadi petunjuk perjalanan berikutnya.

Pangeran Shalibanra—putra raja yang dahulu berkhianat—ikut bergabung dalam rombongan. Meski Sherina selalu mengingatkan bahwa Shalibanra kelak akan mengkhianati mereka, Ranggasela tetap berprasangka baik karena Shalibanra beberapa kali memberi pertolongan. Kecurigaan Sherina tampak tidak terbukti… sampai tragedi terjadi.

Saat menyeberangi jembatan dari ulos sutra ajaib, ulos itu tiba-tiba putus. Sherina terjatuh ke jurang kawah tembaga, meninggalkan Ranggasela dalam luka dan kehilangan yang mendalam. Walau akhirnya Ranggasela sampai ke kastel dan bertemu Ratu Belladoti, ia tetap belum mampu berdamai dengan kehilangan Sherina. Ratu Belladoti kemudian menerima Ranggasela sebagai muridnya. Perjuangan Ranggasela untuk menjadi flyer ternyata masih panjang. Ia harus mencari kuda terbang di sebuah makam keramat yang tersembunyi.

Perjalanan menuju makam itu penuh labirin dan lorong kosong yang melelahkan, seolah menguji kesabaran dan mental Ranggasela. Namun ketika mereka sampai, kemampuan membaca pikiran Ranggasela muncul. Ia mengetahui isi pikiran Shalibanra: sang pangeran diam-diam menghubungi ayahnya. Pengkhianatan pun terungkap—Shalibanra-lah yang melubangi ulos sutra ajaib hingga menyebabkan Sherina jatuh ke kawah.

Ketegangan mencapai puncaknya ketika pasukan Raja Masagala mengepung mereka. Namun di saat genting itu, makam keramat akhirnya terbuka. Lima ekor kuda terbang keluar, termasuk Khalefa yang legendaris. Yang paling mengejutkan, Sherina muncul kembali—hidup dan menunggangi salah satu kuda terbang. Akhirnya, tujuan Ranggasela untuk menjadi flyer tercapai.

Kelebihan

Kekuatan utama Barichalla terletak pada petualangan fantasinya yang seru dengan latar budaya Bugis-Makassar yang kuat dan unik. Unsur lokal, mulai dari istilah hingga nuansa tradisi, membuat dunia ceritanya berbeda dari fantasi kebanyakan. Penggunaan istilah daerah juga dijelaskan langsung dalam teks, sehingga tetap nyaman diikuti pembaca.

Kekurangan

Bahasa novel ini terlalu puitis dan mendayu-dayu, terutama pada bagian romansa Ranggasela dan Sherina, sehingga terasa berlebihan. Beberapa plot menjelang akhir juga terkesan dipaksakan, termasuk kemunculan Sherina yang tiba-tiba. Konflik utama kerajaan kurang tuntas: sejak awal Ranggasela digambarkan berjuang demi Barichalla yang kacau dan rakyat yang menderita, namun semakin jauh petualangan, fokus cerita lebih terasa demi ambisi pribadi, bukan lagi penyelamatan kerajaan.

Identitas Buku

  • Judul: Barichalla
  • Penulis: Khrisna Pabichara
  • Penyunting: Teguh Afandi
  • Penyelaras aksara: Nunung Wiyati
  • Penata aksara: CDDC
  • Ilustrasi isi: Vinsen
  • Desain sampul: Vinsen
  • Cetakan ke-1: Oktober 2017
  • Penerbit: Noura Books (PT. Mizan Pustaka)