Belum genap setengah tahun sejak kematian Affan Kurniawan, publik kembali dikejutkan oleh kasus kekerasan aparat yang menewaskan warga sipil. Kali ini sorotan mengarah ke Maluku, setelah seorang pelajar dilaporkan meninggal dunia usai insiden yang melibatkan aparat keamanan pada Kamis dini hari, 19 Februari 2026.
Ruang publik yang seharusnya menjadi tempat aman untuk beraktivitas kembali dipertanyakan keamanannya oleh masyarakat. Kekhawatiran menguat karena kekerasan diduga terjadi dalam situasi penertiban yang semestinya mengutamakan perlindungan warga.
Polisi pada dasarnya dibentuk sebagai institusi pelindung masyarakat, bukan sumber ketakutan di ruang sipil. Ketika kewenangan digunakan secara berlebihan hingga berujung korban jiwa, kepercayaan publik pun ikut terdampak dan memicu kritik luas.
Kasus kematian warga sipil akibat tindakan aparat mulai terasa seperti pola yang berulang di ruang publik. Banyak orang kini tidak hanya terkejut, tetapi juga mempertanyakan sejauh mana evaluasi benar-benar dilakukan setiap kali peristiwa serupa terjadi.
Peristiwa di Maluku bermula saat aparat Brimob melakukan patroli cipta kondisi di wilayah Kota Tual dan Maluku Tenggara pada dini hari. Patroli tersebut menyasar sejumlah titik yang dianggap rawan gangguan keamanan.
Sekitar pukul 02.00 WIT, tim bergerak menuju kawasan Mangga Dua, Langgur, setelah menerima laporan adanya keributan di area Tete Pancing. Di lokasi itu, aparat berupaya membubarkan aktivitas yang diduga berkaitan dengan balap liar.
Dalam proses penertiban tersebut terjadi tindakan yang berujung pada jatuhnya seorang pelajar. Korban kemudian dilarikan ke rumah sakit dalam kondisi kritis untuk mendapatkan penanganan medis.
Meski sempat mendapat perawatan intensif, nyawa korban tidak tertolong. Peristiwa ini kembali memicu sorotan publik terhadap pola penggunaan kekuatan aparat di ruang sipil.
Dalam program Sapa Indonesia Malam, Irjen Pol (Purn) Aryanto Sutadi turut menyoroti pentingnya perubahan perilaku aparat di lapangan.
“Sudah saya ucapkan 3 bulan lalu, Pak, ubah perilaku yang terdepan itu dengan cara mereka digerakkan betul-betul supaya menjadi pelayan yang baik,” ujar Aryanto.
Masalah ini sulit jika hanya disebut sebagai kesalahan oknum semata. Peristiwa yang berulang menunjukkan adanya persoalan yang perlu dibenahi lebih serius pada tingkat sistem.
Ruang publik kehilangan rasa amannya ketika aparat tidak lagi dipersepsikan sebagai pelindung masyarakat. Seragam negara yang seharusnya menenangkan justru dapat memicu kekhawatiran di tengah warga.
Krisis ini bukan hanya soal dugaan pelanggaran prosedur. Situasi ini juga menyangkut hubungan kepercayaan antara negara dan masyarakat yang perlahan tergerus.
Ketika kekerasan dilakukan oleh aparat, wibawa hukum ikut dipertaruhkan di mata publik. Hukum berisiko dipandang tidak lagi sepenuhnya berpihak pada rasa keadilan masyarakat.
Hal lain yang perlu diwaspadai adalah proses normalisasi yang berjalan secara perlahan. Kekerasan aparat berpotensi dianggap sebagai sesuatu yang biasa jika tidak ditangani secara serius dan transparan.
Padahal, masyarakat tidak seharusnya terbiasa dengan situasi semacam ini. Alarm kewaspadaan justru perlu terus dijaga agar perlindungan warga tetap menjadi prioritas utama.
Belum genap setengah tahun setelah kasus Affan Kurniawan, pola serupa kembali terjadi tanpa koreksi yang terlihat jelas. Publik pun kembali mempertanyakan keseriusan langkah pembenahan yang selama ini dijanjikan.
Pertanyaannya kini sederhana tetapi penting. Sampai kapan kekerasan aparat akan terus berulang dalam sistem yang seharusnya hadir untuk melindungi masyarakat?
Baca Juga
-
ASUS V600 All-in-One, Solusi PC Ringkas dengan Performa Tak Main-Main
-
3 Motor Touring Segala Medan Paling Canggih, Siap Taklukkan Jalan Apa Pun
-
Usai 4 Kali Juara bersama Verstappen, Gianpiero Tinggalkan Red Bull ke McLaren
-
Mengapa Toyota Supra MK4 dan Nissan GT-R R34 Jadi Mobil Favorit Banyak Orang?
-
Saat Hukum Tak Lagi Dipercaya, Film The Verdict 2025 Soroti Krisis Keadilan
Artikel Terkait
-
Massa Aksi di Depan Polda DIY Dibubarkan Paksa oleh Sekelompok Orang Berpakaian Sipil
-
Suasana Mencekam di Depan Polda DIY, Massa Berhamburan Usai Terdengar Ledakan
-
Aksi di Mapolda DIY: Massa Kecam Kekerasan Aparat yang Tewaskan Bocah di Maluku
-
Menteri PPPA Desak Pecat Anggota Brimob Penganiaya Anak hingga Tewas di Tual
-
Skandal Bripka AI, Oknum Polisi Tangerang Jadi Tersangka Usai Gadai Mobil Rental Rp25 Juta
News
-
Studi: Perluasan Ruang Hijau Kota Hanya Redam Sebagian Kecil Kenaikan Suhu, Bagaimana Solusinya
-
Harga Beras Bikin Jantungan? Di Penggilingan Turun, Eh di Pasar Malah Melambung!
-
Berkah Pion di Warung Kopi: Ketika Perang di Papan Hitam Putih Ternyata Bisa Lawan Pikun
-
Bukan Sekadar Melindungi Rakyat, Ini Alasan Pemerintah Menahan Kenaikan BBM
-
STY Hadir! Intip Keseruan Pacuan Kuda Triple Crown 2026 di Jogja Bareng 12 Ribu Penonton
Terkini
-
Hyeop-sama Is Back! Chae Jong Hyeop Dikonfirmasi Bintangi Drama Jepang Baru
-
Drama Perfect Crown Debut dengan Rating Tertinggi ke-3 dalam Sejarah MBC
-
Quiet Quitting ala ASN: Pilih Jalan Fungsional Biar Gak Jadi Pejabat Struktural
-
Refleksi Lagu Runtuh: Ketika "Baik-baik Saja" Jadi Kebohongan Paling Melelahkan
-
Teruntuk Kamu! Lampu Kendaraanmu Terang Banget Kayak Mau Jemput Ajal Saya