Jika ada penghargaan untuk akting terbaik di bulan Ramadan, saya punya nominasinya. Bukan aktor sinetron religi, melainkan para karyawan kantoran yang sedang terjebak rapat pada pukul dua siang.
Mari kita jujur, jam dua siang di bulan puasa adalah "Segitiga Bermuda" bagi produktivitas. Kadar gula darah sudah mencapai titik nadir, sisa kafein dari sahur tadi pagi sudah menguap entah ke mana, dan AC ruang rapat tiba-tiba berubah menjadi nyanyian ninabobo yang sangat persuasif. Pada saat itulah, menjaga mata tetap terbuka bukan lagi sekadar usaha fisik, melainkan sebuah pencapaian spiritual.
Saya sering terjebak dalam situasi ini. Bos di depan sedang memaparkan pertumbuhan grafik atau strategi kuartal depan dengan semangat membara, sementara di dalam kepala saya, yang ada hanyalah visualisasi es cendol yang butirannya meluncur perlahan di antara bongkahan es serut.
Di sinilah "Seni Menahan Kantuk" dimulai. Teknik pertama yang sering saya gunakan adalah Teknik Mencatat Aktif (Padahal Tidak). Saya akan memegang pulpen dengan sangat erat, menatap catatan buku dengan dahi berkerut seolah sedang memikirkan solusi masalah global, padahal saya hanya sedang menggambar pola abstrak atau menulis kata "Es Buah" berulang-ulang dalam huruf kursif. Bagi siapa pun yang melihat, saya tampak seperti karyawan teladan yang sangat antusias. Padahal, saya hanya berusaha menjaga agar kepala tidak jatuh berdentum ke atas meja.
Teknik kedua adalah Anggukan Setuju yang Strategis. Setiap kali bos berhenti bicara untuk menarik napas, saya akan mengangguk kecil dengan ekspresi yang sangat meyakinkan. Ini adalah taktik kamuflase. Anggukan ini memberi kesan bahwa saya menyimak, padahal secara teknis, kesadaran saya berada di ambang batas antara dunia nyata dan dunia mimpi. Bahayanya adalah jika anggukannya terlalu dalam, itu bisa jadi pertanda awal saya benar-benar bablas tertidur.
Mengapa jam dua siang begitu kejam? Secara biologis, tubuh kita sedang berada dalam fase transisi. Perut yang kosong biasanya membuat aliran oksigen ke otak sedikit melambat karena energi dialihkan untuk menjaga metabolisme dasar. Ditambah lagi, di ruang rapat yang tertutup, aroma parfum rekan kerja atau bau kertas baru terkadang malah menambah efek rileks yang tidak diinginkan.
Namun, di balik perjuangan konyol ini, saya menemukan sebuah perspektif tentang "integritas". Ada sesuatu yang heroik saat kita tetap berusaha hadir sepenuhnya meskipun raga ini ingin sekali merebah. Menahan kantuk di depan atasan sambil tetap berusaha memberikan masukan yang cerdas adalah bentuk latihan pengendalian diri yang luar biasa. Puasa bukan hanya menahan makan, tetapi menahan keinginan egois untuk menyerah pada rasa lemas.
Kadang-kadang, saya melihat sekeliling meja rapat. Ternyata saya tidak sendiri. Saya melihat rekan di sebelah kiri saya yang tiba-tiba sangat hobi membenarkan posisi kacamata setiap dua menit—sebuah trik klasik untuk mengucek mata yang mulai sayu. Di depan saya, ada yang terus-menerus meminum air liur sendiri seolah-olah itu adalah kopi hitam paling pahit di dunia. Kami adalah sekelompok petarung yang sedang memperebutkan satu hal: harga diri untuk tidak mendengkur di depan atasan.
Ada momen lucu ketika rapat selesai. Begitu suara, "Rapat saya tutup, terima kasih semuanya" terdengar, itu seperti bunyi bel kemenangan. Nyawa yang tadi melayang entah ke mana, tiba-tiba kembali ke tubuh dalam hitungan detik. Mata yang tadinya sayu langsung berbinar. Kami keluar ruangan dengan langkah tegak, seolah-olah tidak terjadi apa-apa selama satu jam terakhir.
Perjuangan menahan kantuk di jam kritis ini adalah bumbu yang membuat Ramadan di kantor jadi berkesan. Tanpa drama kelopak mata yang berat ini, kita mungkin tidak akan pernah menghargai betapa nikmatnya tidur setelah Tarawih atau betapa berharganya fokus yang jernih.
Jadi, untuk Anda yang saat ini sedang membaca artikel ini di sela-sela rapat yang membosankan, saya mendukung Anda. Kuatkan pegangan pada pulpen itu, ambil napas dalam-dalam, dan bayangkan bahwa tiga jam lagi, semua penderitaan ini akan dibayar lunas oleh manisnya teh hangat.
Sudah berapa kali Anda menguap secara diam-diam sejak rapat dimulai tadi?
Baca Juga
-
Retorika Pidato Presiden di Nganjuk, Menenangkan atau Menidurkan Logika?
-
Tentang Dolar dan Orang Desa: Meluruskan Logika Pidato Presiden di Nganjuk
-
Menanam Cahaya di Negeri Kelelawar
-
Sambo S2 di Lapas Pakai Beasiswa, Logika Kita yang Rusak atau Dia yang Sakti?
-
Nadiem, 18 Tahun Bui, dan Matinya Nyali Para Profesional Masuk Birokrasi
Artikel Terkait
-
Berapa Liter Beras Zakat Fitrah untuk 1 Orang? Ini Ketentuan Resmi BAZNAS
-
Apa Itu Nuzulul Quran? Ini Sejarah Terjadi dan Hikmahnya
-
Ramadan dan Seni Mengendalikan Ego: Puasa Jari di Medsos yang Susah Minta Ampun
-
Merapat! Candil Eks Seurieus Siap Gelar Atraksi 'Candil Makan Candil' di Ramadan Fest PIK
-
Kriteria Penerima Zakat Fitrah, Kenali 8 Golongan Asnaf dan Aturan Lengkapnya
News
-
Petir Cup 2026 Usai, Semangat Menendang Masih Menggelegar
-
Tak Sekadar Riding, Begundal War Wer Tunjukkan Sisi Positif Komunitas Motor
-
Generasi Peduli Iklim, Komunitas yang Ubah Keresahan Jadi Aksi Nyata
-
Bukan Sekadar Seni: Bagaimana Teater Jaran Abang Mengubah Remaja Jogja Menjadi Sosok Berdaya
-
Membaca Kelakar Madura Buat Gus Dur: Sebuah Buku Tentang Indonesia yang Menggelitik
Terkini
-
Perebutan Takhta Kruger-Brent dan Ambisi Membunuh di Mistress of the Game
-
4 Skin Tint SPF 40 Lindungi Kulit dari Sinar Matahari agar Cegah Flek Hitam
-
Sinopsis The Crash, Film Dokumenter tentang Kecelakaan Maut yang Gegerkan Amerika Serikat
-
Taeyong NCT Luapkan Insting, Ambisi, dan Kebebasan Artistik di Lagu WYLD
-
Pecinan Kota Malang dan Luka Panjang Etnis Tionghoa Pasca G30S