Sebagai perempuan, sering kali tidak mendapatkan hak berbicara di ruang publik. Stigma masyarakat dan budaya patriarki yang terus melekat menjadi penyebab utamanya. Padahal, perempuan juga memiliki hak yang sama untuk bersuara di ruang publik tanpa adanya ketakutan akan stigma yang ada.
Berangkat dari isu tersebut, pada Senin (09/03/2026), Dewiku.com berkolaborasi dengan komunitas Her Voice Temanggung mengadakan talkshow yang berjudul “Breaking the Silence, Breaking the Stigma".
Perempuan Sebagai Kelas Kedua
Fokus dalam talkshow ini adalah bagaimana perempuan bisa menyuarakan pendapat mereka secara berani di ruang publik dengan adanya stereotip gender yang masih kuat di masyarakat. Bahkan, ada beberapa kasus yang menggambarkan bagaimana wanita dijadikan sebagai secondary class atau kelas kedua dalam masyarakat.
Rusti Dian, founder dari Her Voice Temanggung yang menjadi narasumber dari acara ini, mengatakan bahwa pada masa-masa awal dia membangun komunitas di daerah Temanggung, Jawa Tengah, ia banyak sekali mendapatkan tekanan dari banyak pihak.
Bahkan, komunitas yang dibuatnya dicap kelompok tertentu sebagai perusak tatanan masyarakat, tidak sesuai dengan agama, dan melanggar kodrat perempuan. Padahal, menurutnya, kodrat wanita adalah melahirkan, menstruasi, dan menyusui. Selebihnya, baik perempuan maupun laki-laki memiliki kesempatan yang sama di dalam segala aspek. Hal ini membuat komunitas yang dibangunnya ditakuti dalam berbagai panel diskusi.
Eksklusivitas Perempuan di Ruang Publik
Banyak sekali publik yang berpendapat bahwa dengan diberikannya keistimewaan terhadap perempuan di ruang publik. Salah satunya adalah dengan adanya gerbong khusus perempuan sudah termasuk privilege bagi kaum wanita.
Namun, hal ini sebetulnya bukti bahwa ketidaksetaraan gender masih terjadi hingga saat ini yang membuat perempuan masih membutuhkan “kekslusivitasan” di ruang publik agar terhindar dari hal-hal yang tidak diinginkan.
Solusi atas Isu Gender
Dalam sesi talkshow ini juga sempat beberapa kali disinggung mengenai penyelesaian permasalahan secara bersama-sama. Di tengah situasi yang tidak menentu, banyak ketidakadilan yang sering terjadi terhadap perempuan. Oleh karena itu, menyampaikan opini secara kolektif merupakan salah satu solusi yang dapat dipraktikkan.
“Karena masalah yang kita hadapi adalah masalah sistem yang harus diselesaikan secara kolektif,” ujar Rusti.
Melalui langkah penyelesaian ini juga dapat menjadi titik keberanian awal untuk para perempuan bersuara karena merasa didukung dan diterima di tengah banyaknya ancaman bagi mereka untuk bersuara. Rusti juga menyebutkan bahwa di beberapa sektor seperti politik, ekonomi, dan sosial jarang sekali memiliki perwakilan perempuan di dalamnya. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2025, menunjukkan bahwa keterlibatan perempuan di parlemen masih relatif rendah, yaitu sebanyak 22,46%.
Ia juga berpendapat bahwa penting bagi para perempuan untuk bersikap kontra terhadap kebijakan yang dibuat atau diusulkan tanpa adanya partisipasi dari perempuan. Selain itu, banyak belajar, membaca, dan berjejaring juga bisa menjadi hal yang penting untuk dilakukan karena masalah yang ada pada perempuan hari ini bukanlah masalah individu, melainkan masalah pada sistem. Oleh karena itu, kita dapat melawan sistem dengan dukungan serta ilmu yang kita miliki.
Rusti juga menyebutkan bahwa, “Enggak selamanya bersuara itu mendapatkan respons yang baik dari orang-orang. Jadi, enggak apa-apa kalau mau berani bersuara, harus mencoba dan memberanikan diri.”
Ia menambahkan bahwa dengan bersuara, seseorang bisa mengevaluasi kira-kira strategi apa lagi yang dapat dilakukan agar suaranya bisa didengar oleh masyarakat.
Baca Juga
-
Bukan Situs Ilegal! Ini Deretan Platform Resmi untuk Streaming Piala Dunia 2026
-
Sering Diandalkan tapi Kesepian? Saatnya Anak Sulung Punya Ruang untuk Didengar
-
WFC Gak Se-Estetik di Medsos! Tantangan Pekerja Remote Menepis Stigma Negatif
-
25 Tahun Berdiri, Apa Rahasia Komunitas Indo Harry Potter Tetap Eksis di Era Gen Z?
-
Generasi Peduli Iklim, Komunitas yang Ubah Keresahan Jadi Aksi Nyata
Artikel Terkait
-
Novel Perempuan Bersampur Merah: Kisah Nyata Dukun Suwuk yang Difitnah
-
Merayakan Perempuan, FISTFEST Hadirkan Ruang Ekspresi Lewat Bunga dan Musik
-
Angka Kekerasan di Jakarta Tembus 35 Ribu Kasus, Pemprov DKI Diminta Segera Cari Solusi
-
Doa Zakat Fitrah untuk Anak Laki-Laki dan Perempuan Lengkap dengan Tata Cara yang Benar
-
Klub Ada, Kompetisi Tiada: Sepak Bola Perempuan Indonesia Ada Masa Depannya Gak?
News
-
Sering Diandalkan tapi Kesepian? Saatnya Anak Sulung Punya Ruang untuk Didengar
-
Bencana dan Ketimpangan Struktural: Menggugat Realitas di Balik Gempa Filipina Selatan
-
Creator Merchant Makin Ramai, Event Jejepangan Ikut Dorong Industri Kreatif
-
Tak Perlu Bingung, Ini Cara Nonton Piala Dunia 2026 secara Resmi dan Legal!
-
Orang Utan Jennifer dan Hayato Dipertemukan, Simbol Persahabatan Indonesia-Jepang dalam Konservasi
Terkini
-
Review Takhta Mayaloka, Misteri Teknologi di Balik Kesempurnaan Virtual
-
Apple Umumkan iOS 27, Cek Apakah iPhone Milikmu Masih Kebagian Update?
-
Rilis Visual Utama, You and I Are Polar Opposites Season 2 Tayang 5 Juli
-
Portal Mitra BGN: Cuma Kosmetik Digital yang Tekuk di Tangan Pejabat?
-
4 Tinted Sunscreen Berikan Matte Finish pada Kulit Berminyak Cegah Breakout