M. Reza Sulaiman | Fathorrozi 🖊️
Ahmad Zaki Febiansyah, guru PJOK di SMPN Kasiman Bojonegoro, lari sejauh 4 km dari rumah menuju sekolah (Instagram/ahmadzakifebiansyah)
Fathorrozi 🖊️

Ada sesuatu yang terasa sederhana, tetapi justru mengena ketika mendengar kisah seorang guru yang memilih berlari sejauh empat kilometer hanya untuk berangkat kerja.

Di tengah kebiasaan kita yang serba praktis, naik motor, mobil, atau sekadar mencari cara tercepat, langkah yang diambil Bapak Guru Ahmad Zaki Febiansyah ini terasa seperti pengingat yang diam-diam menampar.

Pak Zaki bukan sekadar guru PJOK di SMPN Kasiman, Bojonegoro, tetapi ia juga seorang pelari, seorang pelatih, dan pembawa simbol kecil dari perubahan gaya hidup yang lebih sadar.

Setiap pagi, ia berangkat dari rumahnya di Padangan menuju sekolah di Kasiman, mengenakan seragam dinas cokelat (Pakaian Dinas Harian), bukan sepatu santai atau outfit olahraga khusus. Ia berlari. Bukan untuk konten, bukan untuk sensasi, tetapi karena ia percaya itu masuk akal.

Awalnya, ini terdengar seperti aksi personal. Tetapi, kalau dilihat lebih dalam, ada konteks yang lebih luas. Pemerintah sedang mendorong efisiensi energi, termasuk penggunaan bahan bakar. ASN yang tinggal dekat tempat kerja dianjurkan untuk menggunakan moda transportasi hemat energi. Banyak yang mungkin menanggapinya sebagai formalitas kebijakan, sekadar imbauan yang lewat begitu saja. Tetapi, Zaki memilih meresponsnya secara kreatif. Bukan hanya menaati, tetapi memaknai.

Pak Zaki tidak memilih mengendarai sepeda (bike to work) seperti yang dianjurkan dalam surat edaran Bupati Bojonegoro H. Setyo Wahono, S.E. Ia justru berlari (run to work). Alasannya sederhana tetapi kuat; lari memberinya manfaat ganda, yaitu menghemat energi sekaligus menjaga kebugaran.

Dalam waktu sekitar 15 menit 40 detik, ia menempuh jarak empat kilometer. Itu bukan sekadar perjalanan, tetapi juga latihan konsisten sebagai atlet yang telah mengoleksi puluhan medali dari berbagai kejuaraan.

Yang membuat kisah ini terasa hidup adalah dampaknya. Apa yang awalnya terlihat seperti pilihan pribadi, perlahan menjadi inspirasi. Rekan-rekan guru mulai tertarik mengikuti. Ada rencana untuk berlari bersama. Lingkungan kerja yang biasanya statis mulai bergerak. Dan mungkin, tanpa disadari, siswa-siswinya juga sedang belajar sesuatu yang tidak tertulis di kurikulum tentang konsistensi, keteladanan, dan keberanian memulai.

Di sisi lain, realitas kebijakan masih berjalan dengan ritmenya sendiri. Pemerintah pusat sudah mendorong skema work from home (WFH) sebagai bagian dari efisiensi energi. Pemerintah Provinsi Jawa Timur bahkan sudah menerapkannya, meski dengan penyesuaian hari (Rabu) agar tidak disalahartikan sebagai long weekend. Namun, di beberapa daerah seperti Tuban, kebijakan itu masih menunggu kejelasan. Jadi, perubahan sistem belum sepenuhnya seragam.

Di titik ini, saya justru melihat sesuatu yang lebih penting: perubahan tidak selalu harus menunggu sistem. Kadang, ia lahir dari individu yang memilih bergerak lebih dulu. Zaki tidak menunggu kebijakan sempurna untuk bertindak. Ia tidak menunggu semua orang sepakat. Ia hanya mulai dari langkah kecil, keputusan sederhana, dan dirinya sendiri. Mungkin, di situlah letak kekuatannya.

Kita sering berpikir perubahan besar harus datang dari atas, dari aturan, dan keputusan resmi. Tetapi, kisah ini seperti membalik cara pandang itu. Bahwa satu orang yang konsisten bisa menciptakan efek domino. Bahwa inspirasi tidak perlu panggung besar. Cukup satu jalan sepanjang empat kilometer, satu langkah yang diulang setiap hari.

Kisah nyata ini bukan sekadar tentang seorang guru yang berlari ke sekolah, tetapi tentang bagaimana kita memaknai pilihan-pilihan kecil dalam hidup. Tentang keberanian untuk hidup lebih sadar, lebih sehat, dan mungkin lebih bertanggung jawab; bukan karena disuruh, tetapi karena kita paham kenapa hal tersebut penting.

Dan siapa tahu, perubahan yang kita tunggu-tunggu selama ini sebenarnya bisa dimulai dari langkah kaki kita sendiri.