Ada sesuatu yang terasa sederhana, tetapi justru mengena ketika mendengar kisah seorang guru yang memilih berlari sejauh empat kilometer hanya untuk berangkat kerja.
Di tengah kebiasaan kita yang serba praktis, naik motor, mobil, atau sekadar mencari cara tercepat, langkah yang diambil Bapak Guru Ahmad Zaki Febiansyah ini terasa seperti pengingat yang diam-diam menampar.
Pak Zaki bukan sekadar guru PJOK di SMPN Kasiman, Bojonegoro, tetapi ia juga seorang pelari, seorang pelatih, dan pembawa simbol kecil dari perubahan gaya hidup yang lebih sadar.
Setiap pagi, ia berangkat dari rumahnya di Padangan menuju sekolah di Kasiman, mengenakan seragam dinas cokelat (Pakaian Dinas Harian), bukan sepatu santai atau outfit olahraga khusus. Ia berlari. Bukan untuk konten, bukan untuk sensasi, tetapi karena ia percaya itu masuk akal.
Awalnya, ini terdengar seperti aksi personal. Tetapi, kalau dilihat lebih dalam, ada konteks yang lebih luas. Pemerintah sedang mendorong efisiensi energi, termasuk penggunaan bahan bakar. ASN yang tinggal dekat tempat kerja dianjurkan untuk menggunakan moda transportasi hemat energi. Banyak yang mungkin menanggapinya sebagai formalitas kebijakan, sekadar imbauan yang lewat begitu saja. Tetapi, Zaki memilih meresponsnya secara kreatif. Bukan hanya menaati, tetapi memaknai.
Pak Zaki tidak memilih mengendarai sepeda (bike to work) seperti yang dianjurkan dalam surat edaran Bupati Bojonegoro H. Setyo Wahono, S.E. Ia justru berlari (run to work). Alasannya sederhana tetapi kuat; lari memberinya manfaat ganda, yaitu menghemat energi sekaligus menjaga kebugaran.
Dalam waktu sekitar 15 menit 40 detik, ia menempuh jarak empat kilometer. Itu bukan sekadar perjalanan, tetapi juga latihan konsisten sebagai atlet yang telah mengoleksi puluhan medali dari berbagai kejuaraan.
Yang membuat kisah ini terasa hidup adalah dampaknya. Apa yang awalnya terlihat seperti pilihan pribadi, perlahan menjadi inspirasi. Rekan-rekan guru mulai tertarik mengikuti. Ada rencana untuk berlari bersama. Lingkungan kerja yang biasanya statis mulai bergerak. Dan mungkin, tanpa disadari, siswa-siswinya juga sedang belajar sesuatu yang tidak tertulis di kurikulum tentang konsistensi, keteladanan, dan keberanian memulai.
Di sisi lain, realitas kebijakan masih berjalan dengan ritmenya sendiri. Pemerintah pusat sudah mendorong skema work from home (WFH) sebagai bagian dari efisiensi energi. Pemerintah Provinsi Jawa Timur bahkan sudah menerapkannya, meski dengan penyesuaian hari (Rabu) agar tidak disalahartikan sebagai long weekend. Namun, di beberapa daerah seperti Tuban, kebijakan itu masih menunggu kejelasan. Jadi, perubahan sistem belum sepenuhnya seragam.
Di titik ini, saya justru melihat sesuatu yang lebih penting: perubahan tidak selalu harus menunggu sistem. Kadang, ia lahir dari individu yang memilih bergerak lebih dulu. Zaki tidak menunggu kebijakan sempurna untuk bertindak. Ia tidak menunggu semua orang sepakat. Ia hanya mulai dari langkah kecil, keputusan sederhana, dan dirinya sendiri. Mungkin, di situlah letak kekuatannya.
Kita sering berpikir perubahan besar harus datang dari atas, dari aturan, dan keputusan resmi. Tetapi, kisah ini seperti membalik cara pandang itu. Bahwa satu orang yang konsisten bisa menciptakan efek domino. Bahwa inspirasi tidak perlu panggung besar. Cukup satu jalan sepanjang empat kilometer, satu langkah yang diulang setiap hari.
Kisah nyata ini bukan sekadar tentang seorang guru yang berlari ke sekolah, tetapi tentang bagaimana kita memaknai pilihan-pilihan kecil dalam hidup. Tentang keberanian untuk hidup lebih sadar, lebih sehat, dan mungkin lebih bertanggung jawab; bukan karena disuruh, tetapi karena kita paham kenapa hal tersebut penting.
Dan siapa tahu, perubahan yang kita tunggu-tunggu selama ini sebenarnya bisa dimulai dari langkah kaki kita sendiri.
Baca Juga
-
Review Jujur Novel Resi Durna: Sang Guru yang Membiarkan Dirinya Dibenci
-
Maya: Menyibak Ilusi, Menyelami Luka Sejarah dan Cinta yang Tak Pernah Usai
-
Membaca Kelakar Madura Buat Gus Dur: Sebuah Buku Tentang Indonesia yang Menggelitik
-
Kentut Kosmopolitan: Catatan Nakal tentang Jakarta ala Seno Gumira Ajidarma
-
iQOO 16: Monster Performa dengan Kamera Periskop 50MP dan Chip 2nm Terbaru
Artikel Terkait
-
5 Mobil Hybrid Super Irit Bensin Keluaran 2026 yang Harga Tak Bikin Kecewa
-
Promo MyPertamina April 2026, Ada Cashback hingga Voucher Rp800 Ribu
-
4 Ritual yang Bikin Motor Irit Bensin, Kantong Tetap Aman di Akhir Bulan
-
Tak Perlu Beli Baru, Ini Cara Ubah Motor Bensin Jadi Listrik Lewat Program Pemerintah
-
Efisiensi Anggaran, Gus Ipul Ajak Pegawai Kemensos Naik Kendaraan Umum hingga Sepeda Sekali Sepekan
News
-
The Alana Yogyakarta Hadirkan "Alana Langgam Rasa", Destinasi Kuliner Authenthic Jawa di Yogyakarta
-
Petir Cup 2026 Usai, Semangat Menendang Masih Menggelegar
-
Tak Sekadar Riding, Begundal War Wer Tunjukkan Sisi Positif Komunitas Motor
-
Generasi Peduli Iklim, Komunitas yang Ubah Keresahan Jadi Aksi Nyata
-
Bukan Sekadar Seni: Bagaimana Teater Jaran Abang Mengubah Remaja Jogja Menjadi Sosok Berdaya
Terkini
-
Fenomena Earphone Kabel di Kalangan Gen Z, Fashion Statement ala Y2K?
-
4 Serum Heartleaf Solusi Atasi Jerawat dan PIH pada Kulit Berminyak
-
Moon Geun Young Berpotensi Comeback di Film Baru Sutradara Train to Busan
-
Bukan Sekadar Kamera Saku, Insta360 GO 3S Retro Kini Jadi Pelengkap Outfit!
-
Mobile Suit Gundam Hathaway: Sajikan Pertarungan Epik dan Visual yang Tajam