Stres dengan rekan kerja menyebalkan dan bos yang uring-uringan? Ingin healing dengan mengambil cuti tetapi selalu terkendala? Atau tidak punya kesempatan libur karena kerja keras hingga nyaris gila? Mungkin, healing dengan bermain bareng hewan peliharaan bisa kamu coba lakukan.
Studi Bilang: Hewan Bisa Meningkatkan Perasaan Dukungan Sosial
Melansir laman NIH News, berinteraksi dengan hewan telah terbukti menurunkan kadar kortisol—hormon penyebab stres, dan mampu menurunkan tekanan darah. Studi lain mengatakan bahwa hewan bisa mengurangi rasa kesepian, meningkatkan perasaan dukungan sosial, hingga meningkatkan suasana hati, meski tidak secara spesifik menegaskan hewan tertentu apa saja.
“Tidak ada satu jawaban pasti tentang bagaimana hewan peliharaan bisa membantu seseorang dengan kondisi tertentu,” jelas Dr. Layla Esposito, pengawas Program Penelitian Interaksi Manusia-Hewan NIH.
“Apakah tujuan Anda adalah untuk meningkatkan aktivitas fisik? Maka Anda bisa memelihara anjing dan mengajaknya jalan-jalan beberapa kali sehari sehingga kekuatan fisik Anda bertambah. Kemudian, kalau tujuannya adalah untuk meredakan stres, maka melihat ikan berenang bisa menciptakan rasa tenang. Sehingga, tidak ada satu jenis hewan yang cocok untuk semua orang.”
Memang sih, tidak ada jawaban pasti mengapa hal ini terjadi, pun penelitian ilmiahnya. Namun, fakta bahwa bermain dengan hewan peliharaan itu mampu meredakan stres cukup diakui oleh banyak orang. Termasuk saya sendiri setelah bertemu kucing peliharaan yang cerewet di rumah.
Memberi Makan Anabul Rasanya Senang Sekali
Tahu kucing? Itu lho hewan paling imut yang terbagi atas kasta gangster untuk bangsa oren, kasta normal dan usil untuk bangsa mujaer alias abu-abu, dan kasta linglung untuk bangsa putih.
Memang ya, tidak bisa dimungkiri bahwa kucing adalah salah satu hewan peliharaan favorit manusia. Hewan bernama ilmiah Felis catus itu tidak hanya lucu dan imut, tetapi bisa juga mengajak baku hantam. Maka tidak heran, ada laporan beberapa kucing yang mencakar, menggigit, hingga sok sombong pada pemiliknya. Namun, si owner tetap menyayangi kucing tersebut dengan tulus. Alhasil, lahirlah stigma bahwa kucing adalah majikan.
Namun, pernahkah kamu mencoba memberi makan kucing sepulang kerja? Ketika mulut kecil itu mengeong lucu dan lahap memakan pakan sebelum mengguselkan badannya ke kakimu? Wah, rasanya bangga dan bahagia sekali. Meski setelahnya kucing bakal berbuat onar lagi. Namun, anabul tidak melulu merujuk pada kucing saja ya. Di luar sana pasti ada banyak owner anabul lain seperti anjing, kelinci, hingga hamster. Jadi, tergantung pribadi masing-masing hendak mengadopsi yang mana.
Meredakan Stres dengan Memberi Makan Ikan
Ada yang memiliki akuarium atau kolam ikan di rumah? Jika iya, maka kamu bisa memanfaatkannya sebagai media terapi mental yang manjur. Dengan memberi makan ikan, kemudian mengamati bagaimana mereka berebut makanan atau berenang ke sana kemari, rasanya plong sekali. Ibarat beban yang menumpuk di pundak seharian ini jatuh begitu saja. Rasanya seperti ada kepuasan pribadi dan rasa syukur yang mampu menghadirkan senyum manis.
Terkadang, kamu tidak harus memelihara ikan hias kok untuk merasakan terapi ini. Kamu bisa memelihara ikan konsumsi seperti lele, yang nantinya bisa dipanen dan dimasak. Jadi, efeknya lebih dobel. Mampu meredakan stres, sekaligus meredakan lapar, haha!
Solusi Healing bagi Kaum Introvert
Sebagai kaum introvert yang doyan rebahan di rumah, saya sendiri merasa lebih segar setelah memberi makan kucing dan ikan ketimbang berjalan-jalan ke luar. Memang bagi sebagian orang terlihat aneh karena dianggap nolep atau tidak mau berinteraksi dengan orang luar. Namun, kaum introvert pasti mengerti betapa penatnya berada dalam kerumunan manusia.
Bukan berarti tidak mau bersosialisasi ya, tapi memang kurang suka keramaian. Bermain dengan kucing rasanya lebih plong daripada pergi ke mal, tentunya lebih hemat bujet. Memberi makan ikan terasa lebih hangat daripada pergi ke konser. Toh, setiap orang memiliki jalan healing mereka masing-masing.
Baca Juga
-
Terapi Gratis Anti-Stres: Keajaiban Memeluk Pohon yang Jarang Disadari
-
Dilema Ular Jelmaan Pembawa Pesan Petaka dan Tangis Mbah Darmi
-
Isekai Via Lemari dalam Film Narnia: The Lion, The Witch, and The Wardrobe
-
Ulasan Killing Season: Saat Dendam Masa Lalu Berujung Perang Gerilya yang 'Lanang Tenan'
-
Masterpiece yang Carut Marut: Kelebihan dan Kekurangan Film Snake Eyes: G.I. Joe Origins
Artikel Terkait
-
Tren Anabul Jadi Anggota Keluarga, OJK Sebut Potensi Besar Asuransi Hewan Peliharaan
-
Bikin Anabul Happy, Ini Tren Snack Buat Kucing dan Anjing yang Lagi Naik Daun
-
Tren Pet Parenting Meningkat, PAW Expo 2026 Jadi Destinasi Wajib Pecinta Anabul
-
Mencintai yang Berbeda: Mengapa Novel 'Kisah Seekor Camar dan Kucing' Wajib Anda Baca
-
Viral Dodit Kucing Gembrot Jadi Artis Google Maps, Titik Lokasinya Diburu
News
-
Bukan Sekadar Belajar Bahasa Inggris, Ini Cerita Dua Ibu Merawat Kewarasan di Tengah Kesibukan
-
Indonesias Horse Racing: 45 Kuda Raih Posisi Podium di IHR Merdeka Cup 2026
-
Kisah Juni Bangun Fun English for Ladies, Bukti Nyata Semangat Women Support Women
-
Mengenal Proyeksi Gall-Peters: Mengungkap Distorsi Geografis di Peta Mercator
-
Generasi Muda Harus Melek Tradisi: Bagaimana Topeng Blantek Tetap Eksis?
Terkini
-
4 Isu Sosial dalam Novel Klasik Pride and Prejudice,Tak Hanya Kisah Cinta!
-
Sinopsis Haiwaan, Film Kriminal Dibintangi Saif Ali Khan dan Akshay Kumar
-
Capek Pantau Medsos tapi Susah Berhenti? Kenali yang Namanya Doomscrolling!
-
Menolak Lupa September Hitam: Membedah Rentetan Pelanggaran HAM Indonesia
-
Minyak Sawit Lebih Efisien, Tapi Hutan Bukan Harga yang Boleh Dikorbankan