Hayuning Ratri Hapsari | Ryan Farizzal
Tangkapan layar adegan di film Taboo: The Silent Day (Instagram/taboo.movieid)
Ryan Farizzal

Taboo: The Silent Day (juga dikenal sebagai Nyepi: The Silent Day) adalah film horor-misteri Korea Selatan yang disutradarai Park Kyung-kun dalam debut feature-nya. Diproduksi Showbox dan syuting sepenuhnya di Bali, film ini menggabungkan elemen budaya lokal dengan narasi horor Asia. Film ini resmi tayang di bioskop Indonesia mulai 17 September 2026 dengan rating 17+.

Ancaman Gaib di Tengah Keheningan Nyepi

Tangkapan layar adegan di film Taboo: The Silent Day (Instagram/taboo.movieid)

Sinopsisnya mengikuti sekelompok teman asal Korea Selatan (dipimpin tokoh seperti Tae-pyeong yang diperankan Kwon Da-ham) yang berlibur di Bali bersama pemandu lokal. Mereka terpesona keindahan pulau, lalu dijelaskan makna Nyepi—Hari Raya Suci umat Hindu Bali yang menuntut keheningan total: tidak makan, tidak bepergian, tidak menyalakan lampu, dan menghindari segala bentuk kesenangan. Saat menjelajahi kawasan pura, salah satu dari mereka secara tak sengaja memecahkan guci/urn misterius yang dikeramatkan. Tindakan itu melepaskan roh-roh pendendam tepat menjelang dan selama Nyepi. Para karakter dipaksa melanggar pantangan suci demi bertahan hidup, sementara realitas di sekitar mereka mulai terdistorsi. Entitas gaib yang lebih jahat mengancam agar mereka tak pernah meninggalkan pulau.

Review Film Taboo: The Silent Day

Tangkapan layar adegan di film Taboo: The Silent Day (Instagram/taboo.movieid)

Pemeran utama Korea meliputi Kwon Da-ham (dikenal dari A Killer Paradox dan D.P.), Choi Tae-eun, dan Lee Jeong-hoon. Dari Indonesia ada Della Dartyan (sebagai pemandu/penjaga terkait, sering disebut Nova atau Shinta) dan Sujiwo Tejo (sebagai tokoh lokal seperti Pak Wayan). Kolaborasi lintas negara ini terlihat dari kru lokal yang terlibat dalam art direction dan lokasi. Durasi film sekitar 71 menit. Premierenya lebih dulu di Bucheon International Fantastic Film Festival (BIFAN) Juli 2026 sebelum rilis teater Indonesia.

Premis film ini unik karena memanfaatkan keheningan Nyepi sebagai perangkap. Biasanya horor mengandalkan jump-scare atau kebisingan; di sini, larangan aktivitas dan total silence justru memperbesar rasa terisolasi. Tidak ada transportasi, tidak ada bantuan luar, tidak ada lampu—hanya bayangan, suara-suara samar, dan ketakutan bahwa setiap gerakan bisa memancing entitas. Konsepnya ini mirip A Quiet Place tapi dibungkus ritual dan kepercayaan Bali yang masih hidup. Bisa dibilang film ini sangat kontroversi karena mengangkat ritual sakral sebagai latar horor untuk penonton asing; ada yang mengapresiasi spotlight budaya, ada yang mempertanyakan kedalaman pemahaman sutradara debut. Menurutku plotnya generik, telegraphed, dan ada beberapa shot yang terasa AI-generated.

Untuk adegan paling menakutkan terletak pada momen-momen di mana keheningan Nyepi berubah jadi penjara. Bayangkan kelompok itu terjebak di malam yang benar-benar gelap tanpa lampu, mendengar langkah atau bisikan di luar, tapi tak bisa berteriak atau lari jauh karena melanggar pantangan justru memperburuk kutukan. Adegan pemecahan guci di pura, atau saat realitas melengkung dan mereka menyadari ada kekuatan yang lebih besar mengendalikan peristiwa, bisa menjadi puncak ketegangan. Ketidakmampuan mencari pertolongan di tengah pulau yang mati selama Nyepi menciptakan claustrophobia yang efektif—bukan monster yang selalu muncul, melainkan ancaman yang tak terlihat dan aturan sakral yang membelenggu.

Untuk sisi emosionalnya, kurasa ada pada saat penyesalan dan keretakan hubungan di antara para sahabat. Momen ketika mereka harus memilih antara bertahan hidup dengan melanggar adat atau menghadapi konsekuensi roh, atau interaksi dengan tokoh lokal (Della Dartyan dan Sujiwo Tejo) yang mencoba menjelaskan atau melindungi, bisa menyentuh. Ada ruang untuk rasa bersalah, kerinduan akan rumah, dan kesadaran bahwa liburan remeh bisa menghancurkan sesuatu yang sakral bagi penduduk setempat. Kontras antara keceriaan awal liburan dan keputusasaan di tengah silence justru bisa memberi bobot emosional lebih dari sekadar jump-scare.

Secara keseluruhan, Taboo: The Silent Day menawarkan konsep menarik yang memanfaatkan keunikan Nyepi. Kekuatannya ada pada setting autentik Bali dan potensi atmosfer menekan. Kelemahannya ada pada originalitas plot yang terasa familiar bagi penggemar horor generik, serta eksekusi visual yang belum sempurna. Bagi penonton Indonesia, film ini menarik karena melibatkan aktor lokal dan mengangkat tradisi sendiri, meski dari kacamata sutradara Korea. Durasi pendek membuatnya padat, cocok untuk sesi bioskop yang tidak terlalu panjang.

Jika kamu menyukai horor atmosferik yang mengandalkan isolation dan cultural dread (bukan sekadar gore), film ini layak dicoba di bioskop. Pastikan cek jadwal XXI, CGV, atau Cinepolis terdekat karena memang baru tayang. Setelah menonton, coba ceritakan pengalaman pribadi tentang scene mana yang paling menusuk di kolom komentar dong, guys. So, pesan tiketnya dan selamat menonton! Rating pribadi: 8.2/10.