Bimo Aria Fundrika | Chairun Nisa
Foto udara menakjubkan dari tambang di tengah hutan lebat.(dok.Pexels/Pok Rie)
Chairun Nisa

Aktivitas pertambangan diyakini sebagai fondasi utama dalam pembangunan ekonomi nasional. Namun, tidak dapat dipungkiri bahwa aktivitas tersebut meninggalkan konsekuensi yang sangat nyata terhadap lingkungan.

Sering kali lahan bekas tambang ini menjadi area yang terdegradasi, kehilangan fungsi ekologisnya, hingga berpotensi menimbulkan dampak negatif jangka panjang.

Namun, di antaranya banyak dampak buruk, IPB University justru menemukan potensi kehidupan di lahan tersebut.

Penelitian yang dilakukan oleh peneliti dari Departemen Biokimia, IPB University, Dr. Rahadian Prataman, menemukan DNA tanah Poboya, Sulawesi Tengah, masih didapati mikroba di dalamnya. Peneliti meyakini masih ada secercah harapan untuk memulihkan kembali lingkungan yang terdampak itu.

"Tanah bekas tambang ternyata tidak sepenuhnya miskin spesies," katanya.

Menurut Rahadian, keberadaan vegetas justu menjadi faktor penting dalam pemulihan komunitas bakteri tanah. Penutupan vegetasi atau vegetation cover dinilai lebih dominan dibanding riwayat pertambangan dalam memengaruhi komunitas bakteri di kawasan tersebut.

Temuan tersebut memperlihatkan bahwa proses pemulihan lahan bekas tambang tidak hanya bertumpu pada berapa lama aktivitas pertambangan itu berhenti beroperasi.

Kondisi vegetasi yang tumbuh kembali di atas lahan tersebut juga memiliki peran penting dalam mengembalikan kehidupan mikroorganisme tanah.

Artinya adalah upaya penanaman kembali tumbuhan atau revegatasi ini tidak sekadar ditujukan untuk membuat kawasan bekas tambang kembali hijau. Adanya kehadiran tanaman juga membantu menghadirkan kondisi yang mendukung proses kembalinya mikroba di dalam tanah.

"Penanaman kembali atau revegetasi menjadi jalur yang sangat potensial untuk pemulihan mikroba di lahan bekas tambang," ujarnya.

Bakteri Lokal Masih Bertahan

Penemuan kehidupan mikroorganisme tersebut didapat melalui analisis mikrobioma tanah menggunakan teknologi Oxfors Nanopore Sequencing (ONT) serta penerapan metagenomik di kawasan konsesi tambang emas Poboya.

Metode tersebut dimaksudkan agar peneliti melihat komunitas mikroorganisme yang ada di dalam tanah. Hasilnya, lahan bekas tambang masih memiliki mikroba yang bertahan walaupun berada di lingkungan terdampak akibat aktivitas pertambangan.

Salah satu temuan yang menarik perhatian dalam penelitian ini adalah keberadaan bakteri dari genus Variovorax. Mikroorganisme tersebut ditemukan pada tanah di kawasan penelitian dan memiliki karakteristik yang berpotensi mendukung proses pemulihan lingkungan.

Analisis genom terhadap Variovorax menunjukkan adanya gen yang berhubungan dengan kemampuan menguraikan polutan, menghadapi tekanan dari logam berat, serta mendukung pertumbuhan tanaman.

"Ini menjadi petunjuk nyata untuk memulihkan tanah yang terdampak aktivitas pertambangan sekaligus meningkatkan produktivitas tanaman di sekitarnya," katanya.

Revegetasi Tak Hanya Menghijaukan Lahan

Penelitian tersebut memberikan pandangan baru bahwa keberhasilan rehabilitasi lahan bekas tambang tidak cukup jika dilihat dari kehadiran vegetasi di permukaan tanah saja.

Tanaman yang tumbuh kembali itu memiliki peran penting dalam menciptakan lingkungan yang mendorong kehidupan mikroorganisme.

Kehadiran akar maupun bahan organik dari vegetasi dapat membantu membentuk kembali habitat dari berbagai organisme yang hidup di dalam tanah.

Demikian, revegetasi menjadi bagian penting dalam membantu proses pemulihan ekosistem pascatambang. Upaya tersebut diyakini tidak hanya mengembalikan tutupan lahan, melainkan berpotensi membantu menghidupkan kembali fungsi biologis tanah.

Di samping itu, keberadaan bakteri yang berhasil bertahan di lingkungan penuh logam berat juga membuka peluang bagi pengembangan bioremediasi.

Bioremediasi sendiri merupakan pendekatan pemulihan lingkungan yang memanfaatkan organisme hidup untuk membantu mengurangi pencemar.

Dalam hal ini, mikroorganisme lokal bisa jadi salah satu sumber daya biologis yang berpotensi dikembangkan untuk membantu proses tersebut.

Penelitian di Poboya menunjukkan bahwa lahan bekas tambang tidak sepenuhny kehilangan kehidupan. Di balik kondisi tanah yang mengalami dampak pertambangan, masih ada mikroorganisme yang berpotensi mendukung proses pemulihan tersebut.