ahmaddahri
ahmaddahri
Ilustrasi sungai brantas. (Pixabay)

Seperti biasa, Midun setiap pagi mengayuh sepedanya kencang-kencang. Ia selalu bangun sebelum subuh, dan bekerja sebelum ayam berkokok. Midun adalah pemuda yang giat bekerja. semenjak kepergian Ayah dan Ibunya, ia menanggung tiga orang adiknya. Dua laki-laki dan satu perempuan.

Sebagai anak tertua ia bertanggung jawab atas keberlangsungan adik-adiknya. Dimas, adik keduanya sedang menyelesaikan kuliahnya. Rara adik nomor tiga sedang sekolah di salah satu SMA favorit di kecamatan. Sedangkan Sulis adik bungsunya masih duduk di kelas dua SMP.

Ayahnya adalah seorang guru negeri. Ibunya juga guru di lembaga swasta. Suatu ketika sedang berkembang rumor bahwa ada yang sedang ingin makar. Beberapa orang yang diindikasikan makar dilist oleh Suprapto, salah satu prajurit yang menyangklong bedil kemana-mana.

Sampai akhirnya, Ayah dan ibunya Midun termasuk dalam list itu. Karena kedekatannya dengan berbagai pihak, Ayah Midun; Pak Trimo, adalah orang yang gampang bergaul dengan siapapun. Begitu juga istrinya, Ibunya Midun. Ia adalah seorang aktivis perempuan yang mengkampanyekan usaha kreatif, salah satu bentuknya adalah bank sampah dan mendaur ulang sampah menjadi beberapa kerajinan.

Malam itu mencekam, ketika Ayah Midun tiba-tiba dijemput paksa dan ditodong bedil oleh seseorang berseragam tentara. "Ada apa ini pak?" Pak Trimo Kaget, klagapan.

"Nanti saja, dijelaskan di markas. Sekarang ikut kami!" Sambil menyunggingkan sungutnya, dan menodongkan bedilnya.

Istri Pak Trimo, Midun dan adik-adiknya benar-benar tak menduga, dan takut menggigil, lemas semua tubuhnya lunglai, tangisnya mengeringkan matanya.

*****

Sebulan setelah penggelandangan ayahnya, seminggu kemudian ibunya tak pernah pulang. Midun dan adik-adiknya mencari sampai ke sudut-sudut desa, namun tak diketemukan juga.
Sampai akhirnya ia mendengar bahwa akan ada penghukuman masal di Kali Brantas kepada semua orang yang terbukti makar.

Di sela-sela kerumunan dan tangisan yang memecah keheningan dan berlomba dengan derasnya arus Brantas. Midun yang sengaja hanya datang sendirian, dan tidak mengajak adik-adiknya menyaksikan pemenggalan itu. Sungai Brantas tiba-tiba memerah. Satu persatu laki-laki dan perempuan dengan penutup kepala itu tiba-tiba ngorok, kejang-kejang lalu tubuhnya terpental ke sungai di susul kepalanya yang masih terbungkus semacam kain atau kresek hitam.

Midun mengenali baju salah satu di atara mereka yang duduk beralas lutut. Ia mengenalnya, itu baju Ibunya. tetapi apakah benar itu Ibunya, juga tak pasti. "Tidak hanya ibu yang memiliki baju itu" Midun yakin dalam gumamnya.

Tubuh dan kepala-kepala di sepanjang aliran Sungai Brantas timbul tenggelam, sungainya berubah merah, anyir dan amis. Sampai akhirnya hilang ditelan gelap dan matahari pun beristirahat.

*****

Midun masih sangat semangat menceritakan kejadian itu kepada anaknya. Di penghujung kantuknya, anaknya masih seperti bersemangat mendengarkan cerita Ayahnya. Ia melanjutkan cerita ketika ia bertemu dengan salah satu teman Ayahnya.

Sore itu, Kariman berdiri di balai rumah Midun, menyaksikan adik-adiknya terkulai dalam tangis. sedangkan Midun masih belum pulang dari Brantas. Kariman menitipkan surat kepada Dimas. "Tolong berikan ini kepada Midun!" ucapnya lalu pergi begitu saja.

Dimas tak membuka surat itu, ia menunggu kakaknya. Tak lama berselang, kakaknya datang, lalu Dimas menyodorkan lipatan kertas putih kepada Midun. "Ini dari Lik Kariman Kang" ucap Dimas.

"Sama siapa dia kesini. Ayah dan Ibu belum diketemukan juga. Tadi di Brantas aku sebenarnya melihat baju yang dipakai Ibu, tetapi aku tak yakin kalau itu adalah Ibu."

"Kalau itu benar Ibu, berarti Ibu benar-benar dibunuh oleh mereka, para politis yang mengatasnamakan keutuhan itu."

"Bukan, itu bukan Ibu, Ibu mencintai tanah air, tidak mungkin Ibu berkhianat". Ucap Sulis sambil terisak dalam.

"Sudah, sekarang berdoa saja, semoga Ayah dan Ibu baik-baik saja". Ucap Midun menyemangati adik-adiknya. Lalu Midun masuk ke kamarnya dan membuka lipatan kertas di tangannya.

Iya...., ini surat dari Ayahnya. "Berarti Ayah masih hidup, ia pasti tahu di mana Ibu." gumamnya.
Lalu ia membaca surat itu.

*****

Suasana malam kian mencekam, terdengar tangis di mana-mana. Tiba-tiba terdengar tembakan. disusul suara yang meradang.

"Ayah, aman di sini. Aku titip adik-adik. Jangan cemas. Ibumu adalah pahlawan. Jangan menangis. Doakan Ibumu. Ayah masih di sini. Di suatu tempat yang entah, suatu hari nanti Ayah akan menemuimu dan adik-adikmu, kalau butuh uang, galilah tanah tepat di bawah tiang penyangga di belakang rumah. Ayah menyimpan beberapa ratus ribu di dalam, cukup untuk kehidupanmu dan adik-adikmu. Tetap semangat, dan jangan menyerah. salam, Ayahmu"

Dari surat itu menunjukkan bahwa ayahnya masih hidup. Sedangkan ibunya? "Berarti benar, yang aku lihat itu adalah ibu." gumam Midun.


"Berarti Ibu...." ia tak meneruskan, keburu air matanya melahap pori-pori pipinya.

Ia menangis, disusul adik-adiknya yang tiba-tiba mendekat dan menangis tanpa membaca surat itu. Seakan meraka sudah tahu, apa yang terjadi dan pesan dalam surat itu.

*****

Kesedihan selalu menyelimuti keluarga Midun. Hari-hari selalu dihantui oleh kenangan malam itu. Kenangan ketika Ayahnya digelandang tanpa alasan. Lalu disusul Ibunya yang belum juga pulang sampai hari ini. Bahkan kabarnya telah ikut menjadi korban di Kali Brantas.

Midun selalu pergi ke Kali Brantas, siapa tahu ia bertemu dengan Ibunya atau Ayahnya. Namun harapan itu selalu pupus dan hilang begitu saja. Hilang bersama-sama dengan aliran sungai yang selalu deras dan tak pernah kembali.

Sampai suatu ketika, Midun seperti dipanggil seseorang dari gubuk di dekat rumahnya. Di belakang rumahnya, agak menjorok ke hutan. Di sana, sekilas bayangan seseorang berkelebat. Midun mencarinya, mendekati gubuk itu, lalu memasukinya. Seketika itu ia ditepuk pundaknya, ia terperenjat. ia pandangi lelaki di depannya, pandangannya masih kabur. lidahnya kaku, kakinya gemetaran. dan....

"Bapak....?" teriaknya kelu.

"Iya Dun, ini Bapak. Kamu tidak apa-apa kan? Tolong jangan memberitahukan kepada siapapun. Bapak harus bersembunyi."

"Kenapa Pak? Ada apa ini sebenarnya?"

"Panjang ceritanya, kamu jangan ikut-ikutan orang-orang itu, mereka salah paham dan salah kaprah. Bapak difitnah."

"Kenapa Pak? Ada apa?"

Midun menanyakan berulang-ulang tetapi Ayahnya masih saja diam. Ia membungkuk sambi menutupi wajahnya, agar tak diketahui banyak orang. Ayahnya mengendap-ngendap di belakang rumahnya, ia memasuki rumahnya, anak-anaknya terperenjat dan kaget, mereka memeluknya, menangis terseduh-seduh, "Bapak...., selama ini kemana saja, Ibu sudah meninggal kata orang-orang"

Ayahnya terdiam, ia memeluknya lagi, lalu lamat-lamat ia berbisik, "Suatu hari nanti, kalian akan tahu, terkadang yang baik belum tentu baik dan yang salah kadang diputar balikkan."
Tangis masih bergelanyutan, Sungai Brantas masih deras, mengalir bersama ratapan.

*****