Tembok dinding sudah rapuh.
Impian telah kau gapai.
Gelar sudah kau sandang.
Masa sulit telah kau lalui dengan setetes perjuangan.
Engkau akan keluar dari zona pendidikanmu.
Engkau mampu taklukkan selembar ijazah yang lama terkunci di laci.
Engkau sangat bangga melihat tawa di sekelilingmu.
Seakan berteriak 'aku sudah lepas dan bebas ke mana saja'.
Mimpi yang sudah kau bangun telah kau persembahkan.
Sejarah akan mencatat itu semua.
Lalu, benarkah itu adalah akhir?
Bukan, tentu bukan. Itu adalah awal perjuangan di tempat yang berbeda.
Lembaran itu akan berteriak sepanjang malam.
Akan kau dituntut pada persaingan sebenarnya.
Persaingan membahagiakan orang tercinta.
Melawan tembok sebenarnya yang selama ini bening kau lihat.
Itu adalah awal dari akhirmu sekarang.
Baca Juga
-
Tertimpa Kasus Bukan Kiamat: Cara Perusahaan Bangkit dari Krisis
-
PPN Naik, UMKM Diuji: Disuruh Kuat atau Dibiarkan Sekarat?
-
Stop Bilang "Bukan Saya": Mengapa Masbro Juga Bertanggung Jawab Atas Budaya Pelecehan
-
Bukan Generasi Stroberi yang Rapuh, Mungkin Kita yang Terlalu Cepat Menilai
-
Dilema WFH Sehari: Bukti Kita Masih Dinilai dari Absen Kehadiran, Bukan Hasil Kerja
Artikel Terkait
-
Sambil Sebat, Pengakuan Sopir Taksi yang Disebut-sebut Biang Kerok Kecelakaan KRL dan Argo Bromo
-
Perkuat Ketahanan Energi Nasional, PHE Dorong KSOT Struktur dan Area Migas Dengan Standar HSSE Ketat
-
Viral Kisah Haru Pemilik Bengkel Bantu Pejuang Kerja, Ujungnya Sama-Sama Nangis
-
Kerja Keras, tapi Kurang Diakui: Nasib Perempuan di Dunia Profesional
-
Menaker Yassierli: Lulusan Perguruan Tinggi harus Miliki Strategi Triple Readiness Hadapi Era AI
Sastra
Terkini
-
Perpustakaan di Era Digital: Masih Relevan untuk Belajar?
-
Ramai Kritik, Sepi Perubahan: Mengapa Menjatuhkan Kekuasaan Tak Cukup?
-
Bertajuk WYLD! Taeyong NCT Umumkan Tanggal Comeback Full Album Pertama
-
Silent Book Club Jakarta: Cara Baru Menuntaskan Buku di Tengah Keramaian
-
Aroma Menyengat yang Menyergap