Letupan sebuah kedatangan yang tak terduga dalam hidup yang kunikmati saat ini. Jauh menatap diriku yang semakin layu semakin lemah bayangan yang kujalani. Kiasan kehidupan yang seperti menjemput jiwa yang semakin tak kuat menapaki jalan yang begitu berkelok-kelok. Seakan kedatangan yang memberi tanda akan berakhirnya semua nafas yang kuhirup sepanjang masa.
Dalam lunglai kehidupan yang kurasakan dalam alam penderitaan mengasah seluruh kepedihan. Kedatangan sebuah akhir dari segalanya yang menghantarkan ke dalam tempat kekal yang tak pernah dijamah manusia selama hidup di dunia.
Hati menatap dengan jelas isyarat kematian yang semakin menyapa ragaku. Dalam redupnya seluruh langkah yang kutempuh. Yang terbilang sangat mudah menjamah jiwaku. Sisa usia yang kini kunikmati selalu. Menunggu isyarat dari malaikat pencabut nyawa yang menyapaku setiap saat.
Pasrah sudah ragaku seakan menerima semua takdir batas usia yang semakin nyata kunikmati saat ini. Tanda-tanda kedatangan malaikat pencabut nyawa semakin dekat adanya. Hanyalah amal kebaikan yang menjadi pegangan kala aku berpisah dengan dunia yang takkan kembali lagi.
Hingga waktunya tiba ditentukan akhir dari kehidupanku yang terasa singkat. Karena dunia ini hanyalah sementara yang tak pernah selamanya aku berpijak di dunia. Sebuah letupan menyerukan tanda berakhrinya hidupku di dunia. Saat aku melambaikan tangan menyapa malikat pencabut nyawa yang siap mencabut nywaku.
Tidurlah selamanya ragaku dalam kedamaian yang menemaniku. Yang siap menghadap kehadirat Illahi dengan segala amal kebaikan yang menemaniku kala kesepian di alam baka penuh keabadian.
Baca Juga
Artikel Terkait
Sastra
Terkini
-
Terminator Zero Dibatalkan Netflix Usai Season 1, Kreator Beri Penjelasan
-
Blak-blakan, Guntur Triyoga Tepis Isu Pernah Nikahi Delia Yasmine
-
Hidup dari Standar Media Sosial: Algoritma dan Ilusi Kebahagiaan
-
Lee Chae Min Digaet Bintangi Drama Adaptasi Webtoon My Reason to Die
-
Sebut Ajang AFF Cup Penting, Ini Misi John Herdman Bagi Timnas Indonesia