Teka-teki sebuah raga yang tercipta hanya membuat rasa penasaran yang tak pernah usai. Untuk apa raga ada di dunia bila sebuah ujung yang berseru kembali pada asalnya.
Raga yang tercipta ternyata hanya biang kerusakan di muka bumi. Yang terus saja merusak semua kehidupan yang telah tertata dengan rapi. Entah menjadi seperti apa nantinya bila kehancuran telah berseru pada dunia. Kebusukan raga di dunia yang seakan layaknya sebuah sampah.
Berseru kembali pada asalnya dari gundukan tanah yang sangat lembek. Raga yang tercipta di dunia yang begitu sia-sianya. Kesia-siaan raga yang menuju sebuah alam sesat sempurna.
Sesat yang diraih kala raga manusia yang begitu indah. Tak ada rasa syukurnya manusia. Kala memiliki sebuah jalan yang tak pernah lurus adanya. Sebuah guratan yang memahat dalam hamparan jiwa.
Fatamorgana yang menghamba pada dunia penuh keagungan yang kian lama kian layu. Sebuah jawaban yang ada pada semua kehidupan dengan bias kesenangan.
Apalah arti sebuah raga bila tercipta di dunia yang sangat luas hamparannya. Bila semua raga yang ada hanya menikmati buaian nikmat yang tak pernah ada kepuasan tersendiri.
Bila raga yang ada hanyalah tak ada arti apa-apa. Yang berjalan pada segenap kehidupan tak pernah ada merasakan syukur. Hidupnya penuh kufur. Yang memanggil petaka siksa yang sangat menghantam seluruh jiwa.
Baca Juga
Sastra
Terkini
-
Lionel Messi vs Lamine Yamal! Duel Dua Generasi di Final Piala Dunia 2026
-
Ulasan Aku Sebelum Aku: Tamparan Keras untuk Pola Asuh Orang Tua yang Egois
-
Jangan Lewatkan! Catat Jadwal Lengkap Timnas Indonesia di Piala AFF 2026
-
Ketika Buku Dikurangi, tetapi Belanja Lain Membengkak: Apa Prioritas Kita?
-
Sambal Tumpang: Eksekusi Yin dan Yang dalam Proses Mengolah Tempe Bosoknya