Sebuah fakta unik menyertai pemanggilan para pemain ke Timnas Indonesia di awal era kepelatihan Patrick Kluivert. Sepertimana yang diunggah oleh akun Instagram @erickthohir pada 9 Maret 2025 lalu, pelatih Timnas Indonesia tersebut memanggil sejumlah 27 nama untuk diproyeksikannya untuk menjalani laga melawan Australia dan Bahrain pada bulan Maret 2025 ini.
Uniknya, dari nama-nama tersebut, sebuah perbedaan terlihat dari sisi penyerang utama. Jika dibandingkan dengan era kepelatihan Shin Tae-yong, pada pemanggilan kali ini posisi striker terlihat “lebih gemuk”, dan kebanyakan bertipikal sebagai finisher alias penyelesai serangan.
Setidaknya, dalam pemanggilan ini ada tiga pemain yang bertipikal sebagai striker finisher, yakni Muhammad Ramadhan Sananta, Hokky Caraka dan Septian Bagaskara.
Apa yang dilakukan oleh Patrick Kluivert ini tentunya memantik sebuah pertanyaan. Dengan banyaknya striker murni yang memiliki style sebagai finisher, apakah hal itu berarti dirinya akan merubah skema permainan dengan menggunakan penyerang murni?
Bisa jadi demikian!
Pasalnya, jika kita menganalisis data tiga striker murni Timnas Indonesia saat ini yang ada di laman Transfermarkt, baik Muhammad Ramadhan Sananta, Hokky Caraka dan Septian Bagaskara, adalah tipe-tipe striker yang bukan petarung di kedalaman permainan.
Ketiganya lebih efektif dalam bermain jika mendapatkan layanan dari rekan-rekan setimnya, alih-alih harus bekerja keras untuk turun ke lapangan tengah dan melakukan pertarungan dengan pemain lawan.
Tipe permainan yang dimiliki oleh Hokky, Sananta dan Septian Bagaskara ini tentunya sangat berbeda dengan penyerang utama sebelumnya di era STY, Rafael Struick.
Dalam berbagai kesempatan, STY lebih sering memasang striker yang mau bekerja keras, bergerak dinamis ke sisi kiri maupun kanan permainan untuk mencari bola dan bertarung, dan tak melulu menunggu di depan gawang lawan.
Dengan kata lain, striker yang dipasang oleh STY adalah mereka yang bisa melakukan self-service, bukan tipikal predator manja khas penyerang oportunis yang memang menjadi spesialis petarung di depan mulut gawang lawan dan petak penalti.
Dan jika memang benar nantinya ada salah satu dari tiga pemain ini dimainkan oleh Kluivert di Timnas Indonesia, maka akan sangat mungkin pola permainan work ball into box khas STY bakal tergantikan dengan kiriman umpan-umpan dari pemain tengah ke target man maupun poacher di depan gawang lawan.
Jika memang berubah, kira-kira bakal efektif atau tidak ya?
CEK BERITA DAN ARTIKEL LAINNYA DI GOOGLE NEWS
Baca Juga
-
Elegi Luka Modrik: Last Dance Piala Dunia yang Harus Berakhir di Kaki Sahabat Karibnya Sendiri
-
Bukan Kebetulan? 3 Alasan Mengapa Ramalan The Simpsons soal Final Piala Dunia 2026 Masih On The Way!
-
Piala Dunia 2026 dan Nestapa Korea Selatan yang Kembali Harus Menanggung Beban Prestasi Semu
-
Piala Dunia 2026 dan Tak Selarasnya Casing Timnas Maroko dengan Dapur Pacu Mereka
-
Piala Dunia 2026,Babak 32 Besar, dan Pertemuan Brasil dengan Jepang yang Terjadwal Terlalu Dini
Artikel Terkait
-
Ironisme Asnawi Mangkualam: Pemain Terbaik Paruh Musim yang Luput dari Garuda Calling
-
Mees Hilgers: Timnas Indonesia Selalu Memiliki Tim yang Kuat dan Muda
-
PSSI Umumkan Daftar Pemain Timnas Indonesia Senior, Ini 3 Fakta Menariknya!
-
Debut Pemanggilan ke Timnas Senior, Ini 3 Fakta Menarik Septian Bagaskara
-
Perbandingan Harga Pasaran Pemain Timnas Indonesia vs Australia, Pemain Keturunan Gila-gilaan
Sport
-
Media Asing Sebut Timnas Indonesia Tak Miliki Filosofi Permainan yang Jelas
-
Lando Norris dan Oscar Piastri Siap Bersaing untuk Gelar Juara Dunia 2025
-
Disebut akan Dinaturalisasi, 2 Pemain Ini Disebut Sedang Dipantau oleh PSSI
-
Dragan Talajic Sindir Timnas Indonesia Terkait Jumlah Pemain Naturalisasi
-
Usulan Aprilia Kembali Dapat Penolakan, Kemarin Ducati Sekarang Jack Miller
Terkini
-
5 HP 4 Jutaan Terbaik Juli 2026, Speknya Bikin Flagship Ketar-Ketir
-
Lelaki Adalah Anak-anak Berbadan Besar: Mengapa Layangan Jadi Alibi Utama Bapak-Bapak?
-
Torehkan Rekor Baru! Minions & Monsters Raih Rating 91% di Rotten Tomatoes
-
Fenomena Lucky Charm Saat Nonton Piala Dunia, Mitos atau Efek Psikologis?
-
Berhenti Bebani Perempuan: Mengapa Masalah Fast Fashion Adalah Tanggung Jawab Bersama