Sungguh mengagumkan membaca tulisan Edi AH Iyubenu, rasa-rasanya sangat sulit apabila tidak mengaitkannya dengan isu agama. Bukan lantaran judulnya tertulis Islam. Melainkan karena tulisan-tulisan di dalamnya sangat sesuai dengan keadaan negara.
Apalagi, dalam konteks sekarang. Banyak pendakwah yang saling menyalahkan pendakwah yang lain, sehingga pengikutnya juga terdorong membenci kaum yang lain. Tak ayal, sikap saling membenarkan pendapat sendiri ini makin lama memenuhi ruang media sosial.
Bermula dari kegentingan inilah, buku setebal 196 halaman ini hadir sebagai upaya menyejukkan bangsa. Penulis juga mengakui jika judul bukunya terinspirasi dari buah pikir Gus Dur, yakni Islamku, Islam Anda, Islam kita.
Namun, terlepas dari proses lahirnya sebuah judul, isi buku ini akan membawa pembaca ke celah paling sempit dari anak sungai, merenungi kehidupan guna memperbaiki rohani demi Tuhan.
Pembahasan-pembahasan yang mulanya berat, disampaikan dengan bahasa bumi. Semata-mata agar pembaca tak merasa digurui. Sebab, penulis memang tak menggurui. Ia menyampaikan apa yang sepatutnya disampaikan.
Ia mengajak bagaimana memahami agama –khususnya Islam– yang benar-benar rahmatan lil ‘alamin. Sehingga, Tuhan benar-benar memiliki sifat rahman kepada semua makhluk-Nya di muka bumi.
Keteguhan sikap penulis bisa dilihat bagaimana dirinya mengajak pembaca untuk cermat memilih dan memilah ceramah yang bermanfaat. Sebab, dewasa ini banyak sekali khotbah menyeramkan. Ironisnya, orang-orang yang demam agama menelan mentah-mentah apa yang disampaikan si dai.
“Cermatilah, Kawan-kawan. Ceramah-ceramah dalam bentuk apapun yang disampaikan siapa pun, termasuk via media digital, jika tidak menyuarakan mau’izhah hasanah, hikmah, dan rahmatan lil ‘alamin, pastilah itu bukan dilakukan oleh ulama pewaris para nabi. Matikan segera channel YouTube yang Anda putar. Jauhilah ia. Sesungguhnya Rasulullah Saw, para sahabat, dan para ulama sesudahnya (shalafus shalih), tidak mengajarkan kebencian-kebencian dalam perbedaan pandangan dan paham apa pun.” (Halaman 145)
Jika dicermati, sesungguhnya kekacauan beragama ini bermula daripada nafsu dan akal yang menduduki posisi tertinggi dalam diri. Padahal, di dalam kitab Ihya ‘Ulumuddien, Imam Ghazali mengumpamakan tubuh manusia seperti kerajaan. Di mana hati sebagai raja, dan akal sebagai penasehat.
Mengapa bukan akal yang menjadi raja? Sebab akal selalu menemukan cara untuk membenarkan perbuatan kita. Sedangkan nafsu, ia memiliki peran ganda. Suatu saat menjadi pengawal setia, tapi di sisi lain bisa menjadi pengawal yang berkhianat pada raja.
Jika seseorang menggunakan akalnya sebagai raja, besar kemungkinan nafsu menjadi hulubalang yang buruk. Namun, jika hati yang menjadi raja, maka nafsu serupa pengawal kerajaan yang setia.
Dengan perumpamaan ini, kita bisa mengukur akal sekaligus hati. Semata-mata, agar tak salah kaprah memandang Islam yang kini mudah disalahpahami. Jika tidak diperbaiki, bukan hal mustahil jika pada akhirnya kita terjerumus pada hiruk-pikuk cacian di media sosial. Mari bersama-sama merenungi diri.
Baca Juga
-
4 Zodiak yang Gampang Baper dan Cepat Menangis, Siapa Saja Mereka?
-
Kamu Susah Move On dari Mantan? Bisa Jadi Ini Alasannya
-
Benarkah Kesehatan Mental Bisa Terganggu Akibat Candu Media Sosial?
-
Cara Mengatasi Deadlock saat Menulis, Simak Tips Berikut Ini!
-
5 Tips agar Cerpenmu Dimuat di Koran dan Media Online
Artikel Terkait
Ulasan
-
Review BukuMelihat Diri Sendiri: Belajar Bercermin Sebelum Sibuk Menilai Orang Lain
-
Review Film Mutiny: Sinema Aksi Cepat Tanpa Basa-Basi yang Penuh Adrenalin!
-
Ulasan Shadow Detective: Misteri Pembunuhan dengan Atmosfer Noir yang Kuat
-
Luntang-Lantung Si Gadis Taat: Saat Iman Diuji Realitas Sosial
-
Review Flex x Cop Season 1: Aksi Anak Konglomerat Memburu Pelaku Kejahatan
Terkini
-
Ongkos Sebuah Kegagalan: Mengapa Orang Dewasa Sulit Mencoba Hal Baru?
-
Pedro Acosta Tak Takut pada Marc Marquez, Persaingan di Ducati Bakal Panas?
-
Pecah! Gelar Pertunjukan HIVI! Tutup MOKAKU UPI 2026 di Bumi Siliwangi
-
Wajah Auto Mulus! 5 Dark Spot Correcting Serum Ampuh Samarkan Noda Hitam
-
Berharap Seri, Hull City Justru Bikin MU Kalah dan Putus Rekor 52 Tahun