Setiap orang berhak hidup bahagia, termasuk mereka yang masih hidup melajang atau jomblo. Mungkin bagi sebagian orang, kesendirian menjadi persoalan besar dan memusingkan. Mas Julaibib dalam buku ‘Jomblo Jangan Menangis’ mengajak kita untuk melihat kesendirian dari sudut pandang berbeda.
Kesendirian memang persoalan besar, tetapi kita melihatnya sebagai persoalan kecil. Kalau diibaratkan sedang melihat dengan cermin, kita melihatnya itu dengan cermin cekung. Biarpun sesuatu yang sedang dilihat berukuran agak besar, tapi ukurannya akan terlihat kecil. Kita mengartikan kesendirian sebagai sebuah anugerah yang begitu nikmat. Rasanya menyenangkan, menggembirakan, dan membahagiakan. Mungkin ini agak aneh, tidak masuk akal, dan ngawur. Tetapi inilah yang dinamakan seni (Jomblo Jangan Menangis, hlm. 10).
Hidup sendiri memang kadang terasa sepi. Hal ini tentu lumrah karena sejatinya setiap orang butuh pendamping hidup. Tetapi bila saat ini jodoh kita belum datang atau memang ada hal-hal yang menyebabkan kita masih melajang padahal usia sudah cukup matang, tak perlu merasa berkecil hati dan terkungkung dalam kesedihan. Bersedih memang manusiawi, tapi jangan sampai berlebihan.
Bersedihlah, tapi sebentar saja. Tidak seharusnya kesedihan itu terus-menerus berada di dalam kesendirian. Memang, akan ada saatnya kesedihan itu datang, tapi ada saatnya pula kesedihan itu mesti dihapus. Kesedihan tidak boleh dibiarkan untuk terus menguasai hati. Itu bukan hal yang bagus. Kesendirian itu bukanlah suatu kesalahan yang perlu diratapi. Tak ada yang salah dengan kesendirian. Kesendirian memang ada dan itu sudah ada sejak lama, sejak kita lahir (Jomblo Jangan Menangis, hlm. 11).
Tak perlu merasa minder dan malu ketika melihat teman-teman sebaya sudah menikah. Kenapa mesti merasa malu? Kesendirian bukanlah alasan untuk merasa malu. Kalau ingin merasa malu, malulah kalau sudah menikah tetapi rumah tangganya tidak harmonis. Malu itu baik. Tapi kalau malunya karena masih sendiri, itu kurang baik, karena itu sama saja mempermalukan diri sendiri (Jomblo Jangan Menangis, hlm. 17).
Buku 'Jomblo Jangan Menangis' sangat penting dibaca oleh anak muda atau siapa saja yang saat ini masih hidup sendiri (menjomblo). Terbitnya buku ini adalah sebagai upaya penulis untuk memberikan obat penawar sekaligus obat pencegah agar anak muda tidak bersedih dalam kesendirian.
Sam Edy Yuswanto, penulis lepas mukim di Kebumen.
Tag
Baca Juga
-
Dari Batagor Bang Agus Hingga Pindang Bandeng: Menelusuri Ragam Kuliner di Jakarta
-
Review Buku Fobia Cewek: Kumpulan Kisah Lucu dari Pesantren hingga Jadi Penulis
-
Cinta Itu Fitrah, Tapi Sudahkah Kamu Menaruhnya di Tempat yang Tepat?
-
Berhenti Takut Merasa Sepi! Ini Rahasia Mengubah Kesendirian Menjadi Penyembuhan Diri
-
Menyorot Tradisi Membaca Buku di Negara Jepang di Buku Aneh Tapi Nyata
Artikel Terkait
Ulasan
-
Layak Tonton atau Lewatkan? Kupas Tuntas Film Moana Live Action 2026
-
Lebih dari Sekadar Kungfu: Mengapa Tai Chi Master adalah Film Jet Li yang Paling Ngenes?
-
Ulasan "Limited Time", Novel Korea dengan Kisah Remaja yang Menyentuh
-
Drama Study Group, Ketika Hierarki Sekolah Ditentukan oleh Kekuatan Fisik
-
Review Dokumenter The Man Will Burn: Ketika Eksperimen Sosial Berbenturan dengan Ambisi Miliarder
Terkini
-
Mudah Dipakai Pemula! 5 Liquid Eyeliner untuk Hasil Garis Tajam dan Presisi
-
BabyMonster Rilis MV 'I Like It': Cara Jenius Taklukkan Musim Panas dengan Keberanian!
-
Dari Istana ke Paspor: Mengapa Politik Menentukan Kesempatan Kerja?
-
FH UNY Berdayakan UMKM Desa Galuhtimur Lewat Legalitas Hukum & Inovasi Produk
-
Tim FIP UNY Bekali Guru PCM Tonjong Modul Ajar Berbasis Deep Learning