Berbicara mengenai ujian, entah ujian sekolah, ujian nasional, atau ujian tengah semester, pasti nggak bakal ada habisnya. Semua jenjang sekolah atau perguruan tinggi pasti akan mengadakan ujian di setiap semesternya untuk keperluan nilai. Terkadang banyak yang merasa takut jika harus menghadapi ujian karena belum siap atau tidak mengerti dengan materinya.
Semasa sekolah, salah satu pelajaran yang dirasa mudah tapi nyatanya sulit bagi saya adalah mata pelajaran Bahasa Indonesia. Meskipun menjadi bahasa ibu atau bahasa sehari-hari, nyatanya mempelajari bahasa Indonesia itu sama rumitnya memahami perasaan kamu pelajaran sains atau matematika. Banyak materi yang harus dipelajari dengan fokus dan teliti. Tidak sembarangan.
Hal yang menjadi aneh bagi saya yaitu kebanyakan siswa meraih nilai yang bagus di mata pelajaran Bahasa Inggris atau bahasa asing lainnya, tetapi tidak dengan pelajaran Bahasa Indonesia. Padahal notabene-nya bahasa orang Indonesia sehari-hari. Menurut pengalaman dan pendapat saya pribadi, ada beberapa penyebab kenapa nilai pelajaran Bahasa Indonesia siswa cenderung lebih kecil dibanding nilai Bahasa Inggris.
1. Terlalu menganggap remeh
Penyebab nomor wahid kenapa rata-rata siswa mendapatkan nilai yang nggak memuaskan dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia karena mereka terlalu meremehkan pelajaran yang satu ini. Menganggap bahwa Bahasa Indonesia adalah bahasa sehari-hari yang mudah dipahami karena sudah sejak kecil membiasakan berbahasa Indonesia. Jadi, mereka (termasuk saya) tidak terlalu menganggap sulit pelajaran ini. Namun, nyatanya ketika sudah belajar apalagi memasuki ujian, saya mengakui bahwa mempelajari Bahasa Indonesia tidak semudah yang dibayangkan.
2. Bahasan/materinya rumit
Kedua, materi atau bahasan dalam pelajaran Bahasa Indonesia itu rumit dan bejibun. Kita mesti menguasai kata benda, kata ganti, kata keterangan, kata sifat, kata kerja, dan banyak lagi lainnya dengan menggunakan rumus kalimat. Meskipun tidak jauh berbeda dengan pelajaran Bahasa Inggris, tetapi bagi saya materi Bahasa Indonesia itu jauh lebih rumit. Di samping terlalu meremehkan, beberapa orang pun enggan mempelajarinya lebih dalam.
3. Bacaannya bikin pusing/bikin ngantuk
Jika harus memilih antara ujian Bahasa Indonesia atau Bahasa Inggris, saya lebih bersedia untuk mengerjakan soal Bahasa Inggris. Meskipun nggak lancar-lancar amat berbahasa Inggris, tapi saya sangat menyukai materi atau bahasannya, bacaannya tidak terkesan rumit, tetapi to the point meskipun nggak semuanya juga, sih. Berbeda dengan ujian Bahasa Indonesia, bacaannya pasti selalu panjang dan selalu bikin pusing. Kadang dengan banyaknya bacaan yang harus dipahami hingga selesai, beberapa orang pun menjadi ngantuk dibuatnya.
4. Jarang latihan soal
Latihan soal sebelum ujian adalah hal yang wajib kamu lakukan agar terbiasa dengan soal-soal yang akan keluar nantinya. Di sekolah, kegiatan tersebut biasa disebut dengan Try Out untuk melihat seberapa jauh kemampuan kita dalam memahami materi yang diajarkan di kelas. Jarang latihan soal atau bahkan tidak pernah latihan soal tentunya akan mempersulit kamu dalam mengerjakan ujian yang sesungguhnya sehingga nilainya pun hanya seadanya saja.
5. Malas belajar
Penyebab terakhir yang paling masuk akal kenapa nilai-nilai ujian siswa jelek entah pelajaran Bahasa Indonesia atau pelajaran lainnya yaitu karena kebiasaan malas belajar. Yang namanya malas belajar, ya mana bisa mengeri materinya, apalagi saat ujian akan tiba tapi masih sibuk bermain dan enggan untuk belajar. Terlebih mata pelajaran Bahasa Indonesia yang butuh pemahaman serta fokus yang tinggi. Nggak heran kalau banyak siswa yang nilainya jeblok karena malas belajar.
Nah, kira-kira begitulah penyebab mengapa kebanyakan siswa selalu mendapatkan nilai yang kurang baik di mata pelajaran Bahasa Indonesia, tetapi mata pelajaran bahasa asing nilainya malah lebih tinggi. Dari sekian alasan yang saya beberkan di atas, malas belajar adalah penyebab utama siswa mendapatkan nilai kecil.
Baca Juga
Artikel Terkait
-
Nilai Tukar Rupiah Terjun Bebas! Trump Beri 'Pukulan' Tarif 32 Persen ke Indonesia
-
Ole Romeny Ngebet Bisa Bahasa Indonesia: Ingin Menunjukkan Rasa Hormat
-
Dari Ruang Kelas ke Panggung Politik: Peran Taman Siswa dalam Membentuk Identitas Bangsa
-
Struktur 'Sawang' dalam Daily Conversation, Kata Kerja atau Kata Benda Sih?
-
Menelisik Sosok Ki Hajar Dewantara, Pendidikan sebagai Senjata Perlawanan
Ulasan
-
Webtoon My Reason to Die: Kisah Haru Cinta Pertama dengan Alur Tak Terduga
-
Masjid Agung Sleman: Pusat Ibadah, Kajian, dan Kemakmuran Umat
-
Review Novel 'Kokokan Mencari Arumbawangi': Nilai Tradisi di Dunia Modern
-
Ulasan Film 4PM, Ketika Premis Sederhana Dieksekusi dengan Membahana
-
First Impression Series 'Leap Day': Saat Ulang Tahun Jadi Kutukan Mematikan
Terkini
-
3 Tahun Hiatus, Yook Sung Jae Beberkan Alasan Bintangi 'The Haunted Palace'
-
Hanya 4 Hari! Film Horor Pabrik Gula Capai 1 Juta Penonton di Bioskop
-
4 Drama Korea Terbaru di Netflix April 2025, Dari Thriller hingga Romansa!
-
AI Ghibli: Inovasi atau Ancaman Para Animator?
-
6 Rekomendasi Tempat Wisata Viral di Bandung, Cocok untuk Liburan Keluarga