Siapa yang tidak mengenal Sapardi Djoko Damono? Penyair kelahiran Kota Solo ini memang sudah tidak perlu diragukan lagi kepiawaiannya dalam menciptakan puisi. Ada banyak sekali puisi-puisi ciptaannya yang terdapat dalam buku kumpulan puisinya, dan kali ini saya akan membahas salah satu buku puisinya.
Buku Sapardi yang akan saya bahas kali ini ialah sebuah buku yang berbentuk prosa lirik, dan bukan buku berbentuk kumpulan puisi. Adapun prosa lirik merupakan sebuah karangan yang menceritakan suatu kisah (seperti dalam prosa) tetapi dengan menggunakan bentuk lirik (puisi). Dari pengertian tadi, dapat dikatakan bahwasanya prosa lirik ialah cerita panjang yang ditulis dalam bentuk puisi (bait-berbait). Salah dua contoh karangan prosa lirik yang paling terkenal ialah Mahabharata dan Ramayana.
Buku puisi yang akan saya bahas kali ini berjudul Namaku Sita, sebuah buku karya Sapardi Djoko Damono yang menyadur cerita Ramayana. Dalam buku ini, terdapat tiga narator yang seakan-akan berdialog satu sama lain, mereka itu adalah Sita, Dalang, dan Rakyat.
Sita, merupakan sebutan bagi Sinta: istri Rama yang diculik oleh Rahwana. Dalam buku ini, Sita berwatak sangat melankolis dan berjuang meminta keadilan kepada dalang (Tuhan). Adapun dalang, ialah orang yang memerankan atau memegang jalannya pewayangan. Dalam buku ini, dalang berwatak sangat tegas dan tidak mau mendustakan keadilan untuk siapapun.
Sementara rakyat, merupakan orang-orang yang menuntut dalang (Tuhan) supaya menceritakan atau menjalankan kehidupan sesuai dengan kenyataan yang ada saja. Dan dalam buku ini, rakyat berwatak sangat menuntut kepada dalang supaya tidak berbelas kasihan kepada Sita.
Menurut saya, buku ini memuat beberapa aspek-aspek ilmu pengetahuan. Mulai dari sejarah, budaya, agama, dan sastra. Dalam aspek sejarah misalnya, buku ini mengulas apakah cerita Ramayana itu benar adanya atau dongeng belaka. Meskipun dalam hal budaya, agama, dan sastra, bisa saja cerita Ramayana tersebut menjadi logis (masuk akal).
Selain itu, hal yang menarik dalam buku ini ialah gaya bahasa dan sudut pandangnya. Gaya bahasa yang dibawakan oleh Pak Sapardi tidak seperti gaya bahasa pada umumnya, tetapi dengan menggunakan gaya bahasa yang bisa dibilang memiliki makna ganda dan indah mendayu-dayu. Adapun sudut pandang yang digunakan oleh Pak Sapardi ialah sudut pandang orang ketiga terbatas, artinya Pak Sapardi sebagai penulis mempersilahkan kepada narator (Sita, Dalang, dan Rakyat) untuk mengungkap sendiri permasalahan yang ada dalam cerita. Dengan begitu, cerita saduran Ramayana yang terdapat dalam buku ini bersifat lebih objektif, sehingga melahirkan pemahaman-pemahaman yang lebih dinamis (luas).
Itu tadi merupakan ulasan mengenai sebuah buku prosa lirik karya Sapardi Djoko Damono yang berjudul "Namaku Sita". Adapun ulasan dalam buku ini bersifat pribadi dan tidak merangkum dari sumber mana pun. Itu saja yang ingin saya sampaikan, di akhir kata saya ucapkan terima kasih dan semoga bermanfaat.
Tag
Baca Juga
-
Ulasan Film Never Back Down: Kisah Remaja yang Mendalami Mix Martial Arts
-
Ulasan Film Warrior: Kisah Kakak-beradik yang Kembali Bertemu di Atas Ring
-
Ulasan Film Unbroken: Kisah Atlet Olimpiade yang Menjadi Tawanan Perang
-
Ulasan Film The Fighter: Kisah Seorang Pria Meraih Gelar Juara Tinju Dunia
-
Ulasan Film Rocky: Kisah Petinju Lokal Meraih Kesuksesan di Dunia Tinju
Artikel Terkait
Ulasan
-
Plot Twist Film Forgotten Ternyata Lebih Gelap dari Sekadar soal Penculikan
-
Belajar Merelakan dari Lagu Menjauh: Saat Berjuang Saja Ternyata Tak Cukup
-
Animal Farm dan Cermin Politik Modern: Saat Kesetaraan Hanya Menjadi Slogan
-
The Odyssey: Hadir dengan Tema Kesetiaan dan Perjalanan Heroik yang Epik!
-
BM Seaside View Resto & Cafe: Hidden Gem Seafood Tepi Pantai di Anyer
Terkini
-
Nasionalisme Bukan Denialisme: Justru Kita Perlu Bercermin dengan Realitas
-
Piala Dunia 2026 Segera Usai, Apa Saja Kegiatan Pemain setelah Ini?
-
D.O. EXO Diincar jadi Pemeran Utama Drama Zombie Unik We Are the Zombies
-
'Penyakit Mematikan' Argentina: Mengapa Inggris dan Lawan Lainnya Selalu Runtuh di Menit Akhir?
-
Realita Generasi Bertahan: Gaji Jalan di Tempat, Kebutuhan Lari Kencang