Buku yang ditulis oleh Robertus Sutriyono ini merupakan kumpulan hasil riset lapangan yang dilakukan di Kampung Laut Cilacap, yakni di desa Panikel dan desa Ujunggagak. Buku 'Gotong Royong Memutus Rantai Kekerasan' terinspirasi dari program pengasuhan karya Mino Martani-Yayasan Sosial Bina Sejahtera (YSBS) - Cilacap.
Buku yang disusun secara naratif ini berisi cerita-cerita yang dialami oleh para narasumber dalam mengasuh anaknya. Menariknya narasumber tersebut adalah para generasi yang ketika mereka kecil mengalami tindak kekerasan dari para orang tuanya. Hukuman-hukuman berbentuk fisik maupun non fisik mereka alami dalam keseharian mereka sebagai anak kecil. Sungguh kisah yang memilukan.
Dengan latar belakang tersebut, mereka pun akhirnya mampu memahami dan mengupayakan untuk memutus rantai kekerasan yang terjadi pada anak-anaknya hingga cucunya kelak melalui program Parenting yang diselenggarakan YSBS. Karena tidak menutup kemungkinan apabila rantai kekerasan ini tidak segera diputus akan semakin panjang dampaknya.
"Dulu sebelum mengenal program Parenting saya biasa marah dan memukul anak saya keras," ungkap salah satu narasumber. (Gotong Royong Memutus Rantai Kekerasan, hlm 21)
Pemilihan lokasi pun menjadi hal menarik yang tersaji dalam buku ini. "Akses menuju Desa Panikel dan Desa Ujunggagak di Kampung Laut tidak akan mudah. Bila naik kendaraan roda empat akan lebih sulit, terutama pada saat atau sesudah hujan." (Gotong Royong Memutus Rantai Kekerasan, hlm 2)
Buku yang terdiri delapan judul ini sangat ringan untuk dibaca. Dengan bahasa yang sederhana, mampu menjadi refleksi bagi para pembacanya. Ada banyak pelajaran yang dapat kita petik untuk kehidupan sehari-hari, terutama tentang bagaimana cara mengasuh anak-anak kita dengan baik.
Kiranya, buku 'Gotong Royong Memutus Rantai Kekerasan' ini sangat pas untuk dijadikan teman dikala bersantai. Karena apa yang disampaikan dalam buku ini masih sangat relevan dengan kehidupan sekarang. Antara menyeimbangkan dunia anak dengan pola asuh yang sehat. Terbangunnya lingkungan yang ramah anak sehingga anak-anak tumbuh dalam cinta dan kasih sayang bukan dengan kemarahan. Karena tidak jarang kita melihat sebab rasa sayang, justru orang tua malah melakukan kekerasan pada anaknya.
Baca Juga
-
Ulasan Buku The Second Chance: Pengelolaan Sumber Daya untuk Masa Depan
-
Sebuah Seni untuk Memahami Kekasih: Romantisme Sejoli yang Penuh Kelucuan
-
Secuil Cerita Menyambut Satu Dekade Suara.com
-
Ulasan Buku 'Born To Be Success': Cara Mudah Meraih Sukses
-
Hapus Ketidakadilan Berbasis Gender, Pahami Feminisme Lewat Buku 'Menggugat Feminisme'
Artikel Terkait
Ulasan
-
Novel Sunset Bersama Rosie: Menunda Hanyalah Awal dari Petaka
-
Bukan Sekadar Horor Biasa, Film Alas Roban Padukan Mitos Lokal dan Teror Psikologis
-
Film Uang Passolo: Hadirkan Kritik Sosial yang Lucu, Kocak, dan Menyentuh
-
Drama China When I Fly Towards You: Belajar Menerima Diri Sendiri
-
Analisis Konflik Batin dan Kekerasan Seksual dalam Novel Lelaki Harimau Eka Kurniawan
Terkini
-
Adolescence Sukses Raih 4 Kemenangan dari 5 Nominasi di Golden Globe 2026
-
Aurelie Moeremans Ungkap Rasa Lega: Isu Child Grooming Tak Lagi Diabaikan
-
Menolak Jadi Disposable Society: Cara Mengubah Kebiasaan Buruk Membuang Sampah
-
Besek Nasi dan Doa yang Pelan-Pelan Naik ke Langit
-
Bus yang Tidak Ingin Mengucapkan Selamat Tinggal